ANNISAA'
Sudah tabiat seseorang sepertinya
bahwa mereka ingin menjadi lebih baik entah bagaimanapun jalannya. Bahkan untuk
seseorang yang dianggap sampah masyarakat pun memiliki setitik niat untuk
berubah lebih baik. Walau terkadang lingkungan dan keimanan tak sesteril
niatnya.
Kali
ini berkisah tentang perempuan. #karena ku juga perempuan. Yang ibadahnya,
akalnya, bahkan untuk warisannya kurang seperdua dari kaum lelaki. Mudah sekali
untuk terayu, menangis, mengisak, dan tersentuh. Itulah ‘hadiah’ dari Allah
untuk kaum Hawa.
Perempuan.
Begitu banyak kenistaan bahkan perlakuan yang tak sepantasnya didapat. Entah karena
sifatnya sendiri atau bahkan hanya menjadi korban fisik semata. Namun, kadang
tak dapat dipandang lemah. Ketika perasaannya telah terpaut kuat untuk
sekelilingnya.
Zaman
sekarang, begitu sedikit katanya perempuan yang dapat menjaga dirinya. Ketika hidup
diakhir zaman yang serba terbuka ini, semoga masih tersimpan beberapa
mutiara-mutiara yang suatu saat terus menjaga izzahnya.
Tidak
menjadikan pribadi ‘murah’. Yang suka colek sana-sini. Namun, berusaha menjadi
pribadi ‘mahal’ untuk yang dihalalkan kelak. Sebagai hadiah terbaik. Penjagaan diri
sebaik-baiknya. Masa muda dengan kesucian diri dan kehormatan sebaik-baiknya. Isi
dengan prestasi, berlaku sabar dan tenang.
Tapi,
teman-teman perempuan lokalisasi diluar sana bukan berarti mereka buruk dari
kita. Hanya saja, ujian, cobaan serta kondisi hidupnya yang berbeda. Tak dapat
kita memastikan suatu perkara bagi mereka. Karena hanya Allah yang berhak
menentukan akhir hidup seorang hamba. Mungkin saja, ada ibadah mereka yang
Allah terima sehingga menjadi penebus masuknya ia ke Syurga. Sedang kita yang
bisa saja tiap hari ibadah, namun Allah belum menerimanya. Na’udzubillah min dzalik. Mereka pun merasakan kenistaan, perlakuan
kasar dan perdagangan manusia yang secara batin ingin terlepas dalam belenggu
tersebut. Karena, perasaan perempuan itu satu. Semoga kita bisa membantu mereka
untuk mendapatkan hidayah.
Sholihah.
Perempuan mana yang tak ingin menjadi dambaan seperti itu. Jika seorang wanita
telah mengakuinya, kemungkinan masih ada kesombongan dalam dirinya. Karena,
sholihah itu adalah proses. Proses yang panjang. Proses belajar. Tak dapat kita
menghardik seseorang, karena semua perbaikan butuh tahap. Layaknya pasien yang
terus menerus kontrol untuk kesembuhan total penyakitnya. Begitu pula proses
perbaikan diri, bertahap tanpa mengenal lelah. Menghargai setiap perubahan. Semuanya dapat dipersiapkan mulai dari sekarang. Serta
mendoakan diri agar menjadi sosok sholihah tersebut...^^
*When Rain*
Barru, 21 Ramadhan 1437 H
Komentar
Posting Komentar