KEPINGAN MOZAIK




Bersyukur hingga hari ini, sehingga kita dapat membuat sejarah-sejarah dalam hidup kita. Mengawali dengan bahtera baru. Menjajaki ribuan atmosfer kaca. Menerima tantangan gelemar nan udik. Mengasapi semangat yang datang terbentuk. Mozaik itu kian terpancar..

Seperti baru kemarin rasanya. Bersahabat dengan mereka. Melewati padang ilalang kombinasi pohon Selumar, menelisik daun-daun jarum akasia, bersahutan burung dara, EksotikTropikana. 

Mereka adalah siswa minoritas yang jarang terlihat di Kota. Karena SMA Negeri menjadi pemicu ketersingkiran mereka. Kenapa? Zaman sekarang lah, pemikiran Sekolah Umum lebih moderat dan terjamin masa depannya dibanding Sekolah yang Berbasis Agama.

Pertemuan perdana itu dimula ketika kami duduk di kelas Satu Madrasah Alyah, Ammaro. Sebagai siswa baru tentunya, semua masih terlihat memelas, jaim, dan pendiam. Tak tanggung-tanggung, ketika kami disuruh ini itu dalam Ospek, mau saja mengikuti aturan senior yang tak jelas. Seakan ingin mendapat perhatian dan nilai baik pada perkenalan pertama, semua menunjukkan kesopanan mereka, termasuk aku.

Berteman dengan mereka adalah mozaik baru yang tak terjamah. Dipertemukan dengan kondisi berbeda-beda, dengan masalah yang berbeda-beda. Mengapa mereka ingin di sekolahkan disini? Sekolah yang belum menunjukkan prestasi dari segi manapun. Sekolah yang belum terhitungkan bagi orang tua moderat dan pejabat. Tapi nyatanya, kami-kami telah berhasil menjadi siswa baru di Sekolah ini.

Mulailah kami dalam satu kelas, yang disebut Kelas Unggulan, isinya berjumlah 20 orang siswa. Sedikit jika dibanding Sekolah lain yang berjumlah 40 siswa perkelas. Tapi kami adem-adem saja. Aku, mulai mengenal beberapa teman. 20 orang dikelas ini, telah memiliki 20 karakter berbeda, 20 situasi keluarga berbeda, dan 20 pemahaman serta rejeki yang berbeda pula.

Susan, Ati, Uni, Siska, Arif, Edi, Mirna, Ayu, Anti, Roni, Imam, Radit, Andi, Rika, Iran, Imran, Galih, Jia, Afkar, dan aku sendiri, Yana. Dari mereka aku membaca subetnik, ada berpemahaman yang baik tapi ada pula yang lambat. Dalam hal ini, lingkungannya yang miskin dan kurangnya gizi membuatnya tak bisa memiliki pemikiran yang handal. Lain hal dengan anak-anak lain, yang selalu disediakan susu tiap pagi oleh orang tuanya. Hebatnya, otak yang signifikan itu berbanding terbalik dengan sikap mereka. Orang tuanya menyadari begitu penting sikap santun terhadap orang lain. Termasuk kali ini, Imran, Galih, Jia, Edi, Mirna dan Ati. Mereka memang terlihat belakang dalam prestasi, tapi disisi lain mereka pulalah sahabat yang sangat setia.

Lainnya, yang sering bersaing memperebutkan peringkat adalah Siska, Radit, Ayu, dan saya sendiri. Yang paling jago Aritmatika, Imam, Afkar, dan Jia. Yang paling jago Olahraga adalah Iran dan Arif. Paling semangat berdebat dalam berdiskusi adalah Roni, Uni dan Andi. Yang paling mengerti seni adalah Anti. Dan paling senang fashion adalah Susan. Karakter pembeda inilah yang membuat kelas kami berwarna, 20 warna-warni.

Walaupun perbedaan terus melekat, namun kami memiliki satu kesamaan dan pendapat. Pendapat bahwa guru favorit kami semua adalah Pak Haji Rais. Beliau guru Qur’an Hadist sekaligus Kepala Sekolah kami. Bayangkan, betapa kurangnya guru disekolah ini. Tapi kami tahu bahwa, Bapak Haji Rais termasuk orang yang tak ingin hanya mengelola sekolah dan antek-anteknya namun Beliau ingin terus mengajar, mengajar apa yang ia ketahui. Mengajar bagi Beliau adalah kesenangan pribadi, terlalu istimewa, produk pahalanya, dan pandangan geniusnya. Dari sinilah, kami belajar mendapat sikap Beliau. Walau kadang-kadang, kami begitu menjengkelkan luar biasa tak dapat diatur.
***
Saatnya mata pelajaran Pak Aji Rais. Dengan membawa andalan kayu belatinya, siap memukul siswanya. Ini bukan berarti Beliau kejam, tapi ini hanya bentuk ancaman. Memukulnya pun sekilas di paha, tak terlalu sakit. Tapi cukup malu di depan teman-teman. Dan ini hal biasa bagi kami. Hari itu, Beliau masuk dan memulai pelajaran. Seperti biasa, do’a awal belajarnya panjang.

“Sekarang buka buku kalian.”

“Sebelum dimulai, saya mau tanya. Apa hal-hal yang membatalkan wudhu?” Tanyanya begitu berwibawa.

Pertanyaan ini sebenarnya cukup gampang, tapi kami ditanya satu persatu. Kau tahukan, menjawab bersamaan lebih menguatkan jiwa dibanding menjawab satu-satu. Apalagi kami berdua puluh. Untunglah aku duduk di urutan pertama, maka jawaban pasti termudah. Imran lalu mencolekku dari belakang, meminta jawaban. Aku tahu, semua jawaban hampir selesai. Tapi karena setiap orang harus berbeda jawaban, maka tak tahu kenapa tiba-tiba aku mempunyai jawaban untuk Imran. Ia menurut saja.

“Imran….!!” Teriak Pak Haji Rais.

Dengan lantang, Imran menjawab, “Berdarah, pak!”. Ia mengambil jawaban dariku.

Sontak seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Pak Haji Rais kalang kabut. Aku jadi merasa bersalah. Jawaban itu masih koma, belum titik. Akhirnya, kami semua dapat ceramah pagi lagi.

“Kalian ini sudah besar tapi masih banyak yang belum tahu apa yang membatalkan wudhu. Ckck.. –sambil geleng-geleng kepala- ini sangat penting untuk kalian ketahui. Karena wudhu adalah landasan kalian untuk beribadah. Kalau wudhu saja bermasalah, bagaimana ibadah-ibadah kalian. Betul-betul bahaya…!!” Kata Pak Haji Rais sendu menerangkan.

Kami tahu, ajaran beliau begitu melekat. Karena Beliau bersungguh-sungguh menggunakan hatinya. Ingin semua siswanya berubah kedalam prospek agama. Sebagai bekal mental di masa depan kami. Dan itulah salah satu bentuk kesyukuran kami bersekolah yang masih dipandang sebelah mata ini.
***
Lama kami bersekolah, tak terasa sudah dua setengah tahun. Yang sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional. Banyak sekali cerita kebersamaan yang sulit untuk diinterpretasikan lewat kata-kata. Kami yang dua puluh orang ini, sudah menjadi Sembilan belas orang. Karena sewaktu kelas dua, Jia harus pindah sekolah mengikuti permintaan orangtuanya. Berpisah dengan satu ‘keluarga kelas’ akan membuat kita semakin meloydrama. Sedih. Rindu. Dan sebagainya.

Kisah-kisah jenaka, kocak, santun, arif, dan intrik telah mewarnai kami. Walaupun kami dikategorikan kelas Unggulan di sekolah ini, namun kadang pula sifat kelabilan remaja datang. Seperti bermalasan tak mengerjakan tugas, merasa benar didepan guru, tidur dalam kelas, tak mengenakan kaos kaki, dan ada juga sering masuk kantor BK karena terlambat. Disamping semua itu, kami masih bisa diandalkan para guru-guru. Contohnya, aktifnya dalam intrasekolah maupun ekstrakulikuler. Dikelas kami ditunjuk Ketua Osis dan Intinya. Di Pramuka, tempatnya para Pradana hingga menjuarai seKabupaten. Menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an seKabupaten. Juara Porseni seSMA. Bahkan dengan bangganya, sekolah kami mulai beranjak prestasi ke tingkat Provinsi. Ini adalah hal yang pertama dan semua dari kelas kami. Bersemi menaikkan ‘nama’ sekolah.

Kisah lainnya, juga mengintimidasi kami lewat kata ‘cinta’. Tak tanggung-tanggung harmonisasi itu berpeluh mengikuti alur remaja kami. Kadang karena kebersamaan yang melekat, timbullah benih-benih itu. Jadilah, ada beberapa pasangan di ‘keluarga kelas’ kami. Cinta misterius indah nan terperi itu memang masih canggung buatku. Di masa itu, teman-temanku sudah mulai menunjukkan perasaannya kepada teman lain. Aku cuek. Belum dewasa rasanya. :D Ada yang cintanya bersatu, tapi ada yang sepihak berlama-lama.

Tapi, dari itu semua, kami mulai sadar. Semakin mendekati Ujian Nasional, semakin dekat pula kami berpisah. ‘Keluarga kelas’ kecil kami ini akan berpencar. Ke arah yang berbeda-beda. Mengikuti impiannya masing-masing. Namun, tahukah bahwa, impian yang berbeda-beda ini akan kembali menyatukan kami? Karena, ada impian bersama yang ingin kami wujudkan. Yaitu, menjadi manusia berguna. Tahukah, bahwa sebagian dari kami adalah orang yang tak berpenghasilan tapi memiliki jiwa dan semangat yang besar untuk kemajuan keluarganya bahkan bangsanya sendiri. Bukan lahir dari kecukupan dan tak ingin pula menjadi remaja yang menghambur-hamburkan modal orang tua.

Kadang kami berpikir bahwa memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan ekonomi Republik ini belum bisa menampung orang-orang seperti kami. Ingin bersekolah tinggi seperti ‘mereka-mereka’ dan menjadi salah satu representatif perubahan dunia. Ingin berharap pada pemerintah, namun pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri. 

Sekarang apa yang aku miliki, apa yang kami miliki hanyalah modal impian. Dan, para pemimpi di Negeri semacam ini adalah mereka para pemberani.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover