IBRANI DAN PALESTINA
Bahasa
Ibrani bagi orang-orang Yahudi adalah bahasa instruksi untuk mereka. Bahasa
khas mereka, para Yahudi. Ada satu kata ‘amalek’,
sebutan dalam kitab suci mereka untuk sebuah bangsa yang membenci dan ingin
menghancurkan Bani Israel. Sering oleh sebagian mereka, terutama Yahudi yang
ortodoks dan ekstrem untuk menyebut orang selain yahudi sebagai amalek, terutama Muslim.
Apakah
itu negatif atau bukan, tak ada yang tahu pasti. Terkadang kaum Yahudi ortodoks
dan yang ekstrem mengucapkan kata itu sambil melihat bahkan mengisyaratkan
terutama kaum Muslim. Penyebutan amalek
itu sangat merendahkan. Menurut ajaran mereka, di dalam Kitab Ester dalam
Tanakh, Haman seorang wazir jahat musuh Yahudi digambarkan sebagai bangsa
keturunan amalek. Yaitu sebuah bangsa
yang digambarkan sangat membenci dan sangat ingin menghancurkan Bani Israel
setelah mereka eksodus dari Mesir.
Di
dalam Taurat mereka, Tuhan memberi perintah kepada mereka agar memusnahkan
semua orang amalek sepanjang sejarah,
sampai tidak ada orang amalek yang
hidup. Celakanya, pada abad modern ini, beberapa kalangan Yahudi ekstrem
menganggap bangsa Palestina, Arab, dan bahkan muslim itu sebagai amalek. Atau sama dengan amalek. Atau wujud amalek modern. Ini ada data ilmiahnya.
Seorang
Rabi Yahudi dari New York bernama Rabi Marc Scheneier juga mengakui bahwa ada
kalangan Yahudi ekstrem yang menganggap bangsa Palestina, Arab dan Muslim sebagai
amalek. Yang berarti mereka merasa
harus menjalankan perintah Tuhan untuk membasminya.
Pernah
terjadi pembantaian di Masjid Hebron, Mesir, tanggal 25 Februari 1994 yang
dilakukan oleh Baruch Goldstein. Orang-orang Mesir sangat marah dan mengutuk tindakan
pembantaian itu. Masjid Hebron bermandi darah, 29 orang Palestina tewas di
tempat, 125 lainnya terluka.
Goldstein
itu jenis Yahudi ortodoks yang ekstrem yang memegang kuat ajaran Tauratnya
bahwa amalek harus dibasmi, dan
bangsa Palestina, bangsa Arab dan orang muslim dianggap sebagai amalek. Goldstein sangat dipengaruhi
ajaran-ajaran rasis Meir Kahane. Ini masalah serius di dunia modern. Sebab
orang Yahudi yang rasis dan ekstrem seperti Goldstein tidak sedikit.
Tindakan
Baruch Goldstein ternyata mendapat sambutan positif dari tokoh-tokoh Yahudi
ekstrem. Membantai orang muslim yang sedang shalat itu dianggap sebagai aksi
kepahlawanan. Rabi Samuel Hacohen seorang pengajar di Jerussalem College
menyanjung Goldstein sebagai ‘the
greatest Jew alive, not in one way but in every way’, ia bahkan menganggap
Goldstein adalah ‘the only one who could
do it, the only who was 100 percent perfect.’
Peristiwa
pembantain yang dilakukan oleh Goldstein itu dirayakan oleh kelompok Yahudi
ekstrem. Mereka mengatakan, membunuh orang-orang Palestina itu dibenarkan oleh
Taurat. Rabi Dov Lior memuji Goldstein setinggi langit dengan mengatakan, holier than all the martyrs of the Holocoust.
Orang-orang Yahudi ekstrem itu masih sering memperingati peristiwa itu dengan
perayaan yang memuji-muji Goldstein, ‘Dr.
Goldstein there is non other like you in the world. Dr. Goldstein, we all love
you...!’ itu mereka dendangkan dengan suka cita.
Tapi
kita tetap harus adil dan objektif bahwa tidak semua Yahudi seperti itu. Kita
akan tahu setelah berinteraksi dengan mereka, melihat sikap mereka secara nyata
dan berdialog dengan mereka. Juga tidak semua Yahudi menyetujui tindakan
Zinonis Israel, meskipun sembilan puluh delapan persen orang Yahudi meyakini
bahwa mendirikan negara di Yerussalem yang mereka sebut Israel itu adalah
perintah agama mereka. Rabi yang moderat sekali pun meyakini itu. Meyakini
bahwa mereka harus memiliki negara di tanah suci Yerusalem. Itu masuk dalam
ajaran ideologi mereka.
Jadi,
bukan semata-mata politik. Rabi March Schneier, pemuka Yahudi yang moderat dari
Park East Synagogue di New York pun dengan tegas mengatakan bahwa ‘Negara
Israel merupakan intisari teologi Yahudi. Sejak dulu, Negara Israel telah
menjadi perhatian kami, obsesi besar kami, selama lebih dari tiga ribu tahun.
Namun, sayangnya, persoalan ini seolah-olah diperlakukan sebagai satu-satunya
buah dari gerakan politik zaman modern.
Jadi,
kalau ada pengamat mengatakan persoalan Palestina-Israel hanya persoalan
politik di Timur Tengah dan minta jangan membawanya sebagai persoalan Teologi
atau agama, itu pembodohan. Pengamat itu bisa jadi bodoh alias tidak tahu,
sebab kurang bacaannya, atau dia telah tahu tapi karena motif tertentu dia
sengaja menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Sebab pemuka Yahudi seperti
March Schneier sendiri menolak dengan tegas jika masalah Negara Israel dianggap
hanya sebagai aspirasi politik umat Yahudi yang berusia sekian puluh tahun. Dia
tegas mengatakan Negara Israel itu intisari teologi Yahudi. Ia memberikan
penjelasan panjang lebar. Dan mengatakan bahwa Yahudi sejati meyakini Tanah
Israel merupakan konsep religius dengan makna yang sangat besar. Sehingga
ketika mereka diberi tempat lain mereka menolak.
Ketika
Theodore Herzl membangkitkan gerakan Zionis dan mengajukan proposal agar
orang-orang Yahudi dianjurkan untuk tinggal di Uganda. Seketika proposal itu
ditolak dalam kongres Zionis. Proposal Uganda itu dianggap sebagai penghinaan
terhadap keyakinan-keyakinan Yahudi. Semua orang Yahudi selalu mengakhiri
penjamuan Paskah dengan doa, “Tahun depan di Yerussalem”.
Namun
untungnya, tidak semua orang Yahudi tidak seekstrem seperti Baruch Goldstein.
Ada sebagian diantara mereka yang agak moderat, yang enak diajak diskusi.
Bahkan mereka tidak sepakat dengan kebijakan-kebijakan politik pemerintahan
Israel. Mereka tetap berpendapat, Negara Israel harus berdiri, namun warga
Palestina harus diberi hak merdeka dan hidup layak.
Tapi
jika masalah di Palestina dikaitkan denga ideologi, ini akan menimbulkan
masalah yang rumit dan dapat memicu perang agama. Dan tentu saja kita tidak
menginginkan perang agama. Karena pada kenyataannya, perang agama tidak membuat
sebuah agama itu musnah, yang musnah adalah umat manusianya yang berperang.
Masalah
Palestina, masalah Israel, harus dilihat secara jujur. Orang yahudi sendiri
sudah begitu jujur dan terang-terangan mengatakan itu bagian tak terpisah dari
teologi dan ideologi mereka. Kenapa yang bukan Yahudi mencoba
menutup-nutupinya? Orang Yahudi dan seluruh dunia juga harus tahu, bagaimana
ummat Islam, Palestina dengan Masjidil Aqsa-nya juga bagian tak terpisah dari
agama. Itu tempat suci bagi umat Islam. Tak perlu ditutup-tutupi. Begitulah
adanya. Barulah semua pihak duduk bareng, jika seperti itu bagaimana solusinya?
Jangan orang Yahudi ngotot dengan
teologinya, terus umat Islam diminta minggir begitu saja, diminta mengalah dan
dibohongi bahwa itu masalah politik. Itu hanya masalah bagaimana Amerika dan
negara-negara Barat menguasai minyak di Timur Tengah dan lain sebagainya. Unsur
itu ada, tapi pada kenyataannya teologi dan ideologi sangat kuat menjadi latar
belakang masalah itu. Dan dunia harus tahu dan jujur mencari solusi.
“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan
Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik kebelakang (karena takut kepada
musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah : 21).
#Semoga Bermanfaat
Barru, 21 August 2016
Komentar
Posting Komentar