ABRAHAM


Membaca nama Abraham, saya jadi ingat flim ‘FOREVER’, flim yang luar biasa untuk ilmunya dalam dunia kesehatan. Khususnya dunia forensik, sebagai penyidik medis. Seorang Abraham di flim ini adalah anak angkat dari dr. Henry Morgan, yang menjadi pemeran utama dan Abigail. Manusia ‘abadi’ yang terus mencari tahu tentang kutukannya. Mempelajari tiap harinya tentang mayat dan sebab kematian.

***

In this time, after has reading one book, ‘Ayat-Ayat Cinta 2’, novel yang membangun jiwa banget. Karena saya termasuk penikmat novel, tapi pilih-pilih novel juga. :D Namun untuk novel kak Abik, keseluruhan saya termasuk menyukainya dan mengoleksi. Sebelumnya, membaca Ayat-Ayat Cinta I di masa SMA cukup membuka pikiran saya dalam berIslam. Sekarang Ayat-Ayat Cinta 2 ini, telah mengubah mindset serta perilaku keislaman dan menata hidup lebih baik lagi. Kak Abik, telah berhasil berdakwah lewat tulisan-tulisannya. Serasa beliau begitu jujur dan aplikatif dalam berdakwah. Sekali lagi, selama yang disampaikan oleh seseorang adalah baik, amar ma’ruf, nahi munkar, dan mengajak bertauhid pada sang Khalik, maka kita setidaknya bisa menerima nasehat tersebut. Tanpa melihat sosok atau latar belakang orang tersebut. Insya Allah.

***

Dalam bab “denyar-denyar kerinduan”, ada pembahasan dan cerita yang sangat menarik bagiku, walaupun banyak diantara pembahasan yang tidak kalah menarik. Namun kali ini pembahasannya cukup membuka wawasan yang sangat baru. Yaitu tentang pemahaman Yahudi terhadap Islam, tentang amalek, segala filologi tentang agama; Islam, Kristen, dan Yahudi juga kisah sejarah nabi Ibrahim dari pemahaman Islam dan Yahudi.

Walaupun ini hanya cerita fiksi, tapi saya yakin, kak Abik sedang berusaha membuka pemahaman kita terhadap permasalahan besar dalam Islam di Akhir Zaman ini. Termasuk, ketimpangan antara Palestina dan Israel dan menutup matanya PBB terhadap hal tersebut.

***

Dalam cerita tersebut, terjadi diskusi penting untuk bertemu titik temu antar para pemeluk agama yang berbeda. Gedung kuno School of Divinity, The University of Edinburgh, UK, tempat pertemuannya. Selaku tokoh utama, Fahri, perwakilan Islam sebagai pakar filologi Arab, pakar sejarah Islam Asia Tenggara dan pakar Islamic Studies khususnya tafsir Al-Qur’an. Prof. Thomas, perwakilan Kristiani seorang pakar sejarah gereja, sejarah diaspora bangsa Yahudi. Serta, seorang Rabi Yahudi bernama Benyamin Bokser dan Baruch diperkenalkan sebagai perwira aktif tentara Israel.

Dalam ceritanya tersebut, saya hanya akan menulis inti perdebatan saja. Karena ini menarik. Untuk tahu lebih detail ceritanya, silahkan baca sendiri novelnya yaa... :D :D

***

Pertama, Rabi Benyamin akan menyampaikan doktrin Yahudinya....

“Saya akan berterus terang saja sesuai ajaran agama yang saya yakini benarnya. Dan saya akan langsung ke intinya. Yahudi adalah bangsa sekaligus agama. Dan orang-orang Yahudi sejati adalah mereka yang darahnya masih bertalian dengan nenek moyang aslinya. Darah Abraham. Mereka, termasuk saya, dan teman baik saya ini, Baruch, seorang perwira menengah Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Ya jujur, tanpa perlu saya sombong, kami anak-anak keturunan Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Manusia-manusia lain di atas muka bumi ini tidak bisa iri dan tidak boleh protes sama sekali. Sebab seperti itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan sudah menjelaskannya di dalam kitab suci. Kitab suci kami, yang juga jadi perjanjian lama bagi umat Kristiani seperti tuan Thomas ini.”

“Di kitab suci dijelaskan. Saya tidak perlu jelaskan letak detailnya. Tuan Thomas ini, profesor teologi pasti tahu tempatnya. Sekali lagi dalam kitab suci dijelaskan sebuah kisah yang terjadi di zaman kuno sekali. Sekarang mungkin terasa sedikit purba. Sepasang suami istri yang tidak punya anak yang tinggal di kota Ur, diperintahkan oleh Tuhan untuk pergi menuju temoat yang berlimpah susu dan madu. Tuhan menjanjikan kepada Abraham, bahwa dia dan anak keturunannya adalah manusia-manusia yang diberkati, manusia-manusia yang dipilih. Kepada Abraham, Tuhan berkata :

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12 : 2,3).

“Yang dimaksud keturunan Abraham adalah Isac yang disembelih. Isac melahirkan Yacob. Secara spesifik keturunan Yacob inilah keturunan Abraham yang dipilih itu. Sebab Yacob ini yang diberi nama Israel. Di dalam kitab suci dijelaskan, yang ini saya katakan tempatnya ada kitab suci yang diyakini Tuan Thomas tepatnya di Kejadian 32:24-28. Saya hafal betul sebab saya paling suka bagian ini. Ini menggambaran Israel yang selalu menang. Kalimatnya begini,...”

“Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

“Lalu singkat saja ya, dari Yacob lahir manusia-manusia pilihan yang luar biasa. Ada David, Solomon, dan Moses. David berulang kali menyerukan kepada rakyatnya bahwa rakyatnya, anak-anak Israel adalah bangsa pilihan. Kepada Moses, Tuhan berkata, tolong dengarkan baik-baik, Tuhan berkata kepada Moses,

“Sebab engkaulah umat yang Kudus bagi Tuhanm Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu-bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?-tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Fir’aun, Raja Mesir. Sebab itu haruslah kau ketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.” (Ulangan 7:6-9)

“jadi jelas, kami bangsa Israel, bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Umat yang kudus bagi Tuhan. Kami dipilih oleh Tuhan dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.”

“Dan sekali lagi, kalian tidak boleh protes sama sekali. Ini kehendak yang kudus dari Tuhan, untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Kami dipilih ini untuk kebaikan seluruh umat manusia.”

“Sungguh, kecelakaan besar bagi siapa saja yang menentang kehendak Tuhan ini, dan keberkatan bagi yang tunduk dan menerimanya. Tuhan menjelaskan hal itu jelas sekali...”

“Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.” (Kejadian 27:29).

“Hadirin, inilah yang bisa saya jelaskan. Sengaja redaksi kitab suci yang saya pakai adalah kitab sucinya Tuan Thomas, sebab saya kira sebagian besar yang hadir di sini adalah umat kristiani seperti Tuan Thomas dan Prof. Charlotte (moderator diskusi). Untuk konsep amalek, saya minta saudara saya, Baruch menjelaskannya. Karena ia tidak saja sangat mendarah-daging memahami ajaran ini, sebab ayahnya adalah seorang Rabi terkemuka, dan dia sendiri telah menjadi penjaga setia ajaran Yahudi. Tidak hanya di tanah suci Israel, tapi juga di seluruh dunia.”

***

Kedua, Baruch akan menjelaskan hubungan konsep amalek dengan konsep Bangsa Terpilih menurut ajaran Yahudi...

“Rabi Benyamin telah menjelaskan dengan sangat jelas dan akurat bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Karena pilihan, tentu saja adalah bangsa yang sangat diistimewakan. Meski demikian, ada saja manusia-manusia dungu yang tidak suka dengan keputusan Tuhan ini. Ada saja manusia-manusia kerdil yang memusuhi bangsa terpilih ini. Di antara manusia rendahan itu, sejarah menuliskannya adalah bernama Haman. Di dalam Tanakh, tepatnya dalam Kitab Ester, diterangkan Haman ini adalah keturunan amalek, sebuah bangsa yang sangat membenci dan ingin memusnahkan Bani Israel. Itu terjadi setelah peristiwa eksodus Bani Israel dari Mesir. Itu adalah dosa besar yang tidak bisa diampuni. Bahkan Tuhan yang Maha Pengampun tidak mengampuni dosa besar bangsa yang memusuhi Bani Israel itu. Di dalam Taurat, Anda boleh baca, Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua orang amalek. Perintah itu berlaku sepanjang sejarah umat manusia. Dan tidak boleh ada yang selamat. Silahkan dibaca misalnya dalam Ulangan 25 : 17.”

“Ingatlah apa yang dilakukan orang amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir, bahwa engkau didatangi mereka di jalan, sedangkan engkau semua lemah dan lesu, lalu membunuh semua orang-orangmu yang dengan susah-payah berjalan di belakang. Mereka tidak takut kepada Allah. Maka, apabila Tuhan, Allah-mu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan Tuhan, Allah-mu, kepadamu untuk dimiliki sebagai pusaka, haruslah engkau menghapuskan ingatan akan amalek dari kolong langit, janganlah engkau lupa.”

“selanjutnya, Tuhan berfirman dalam Samuel 15 : 2-3,...”

“Beginilah firman Tuhan semesta alam: ‘Aku akan membalas apa yang dilakukan oleh orang amalek kepada orang Israel, karena orang amalek menghalangi-halangi mereka ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkan orang amalek, tumpaslah segala yang ada padanya. Dan jangan ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki dan perempuan, dan kanak-kanak, lembu maupun domba, unta maupun kedelai!”

“saya rasa jelas sekali yang dimaksud Amalek itu. Siapa saja yang menjadi penghalang bagi bangsa Yahudi, yang membenci bangsa Yahudi, yang bermusuhan dengan Yahudi adalah termasuk golongan Amalek yang wajib ditumpas. Bagi saya yang bertugas di negara Israel, semua orang Arab, orang muslim, orang Palestina adalah Amalek! Ini saja, saya rasa sudah sangat jelas. Terima kasih!”

“Tapi anda punya pilihan untuk tidak jadi Amalek, dengan cara apa? Dengan cara mendukung kami, bangsa pilihan Tuhan. Seperti yang tadi dijelaskan oleh Rabi Benyamin. Tuhan berfirman, ‘Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia. Bangsa besar yang sangat sadar masalah ini adalah bangsa Amerika. Mereka bangsa cerdas, maka mereka mendukung kami. Sebab hanya dengan masuk barisan kami, maka manusia diberkati! Lihatlah sejarah Amerika, sekarang jadi negara nomor satu di atas muka bumi ini. Karena apa? Karena mereka memilih berada dalam barisan kami, maka mereka diberkati.”

***

Ketiga, Prof. Thomas memberikan pemaparan, tanggapan, atau mengkritisi pemaparan sebelumnya...

“Saya harus menyampaikan bahwa apa yang dijelaskan Rabi Benyamin benar adanya. Dalam Perjanjian Lama jelas termaktub bahwa Tuhan memilih Bani Israel. Selain menjadi keyakinan kaum Yahudi, itu juga menjadi kebenaran yang dipercayai oleh kaum Kristiani. Mungkin yang perlu ditanyakan kira-kira adalah kenapa Tuhan memilih Bani Israel?”

“Ada hikmat yang luar biasa agung dalam setiap kehendak Tuhan. Demikian juga dalam kehendak-Nya memilih Israel dan keturunannya sebagai bangsa terpilih. Di sana ada hikmat, kuasa, visi dan misi bagi dunia seisinya ini. Dari keturunan Israel yang terpilih inilah Allah melahirkan Sang Juru Selamat Dunia yaitu Yesus Kristus. Itulah hikmat dan misi terbesar Tuhan dalam memilih Bani Israel.”

“Setelah manusia berlumur dosa, dimulai dari Adam dan Hawa. Tuhan ingin membersihkan dosa-dosa manusia itu. Tuhan melahirkan Sang Mesias. Dan Mesias itu lahir dari keturunan Abraham-Ishak-Yakub. Karena Yesus Kristus-lah, maka Tuhan memilih Israel. Inilah kehendak-Nya yang agung dan seperti kata Rabi Benyamin, kita tidak bisa protes berhadapan dengan kehendak Tuhan yang agung.”

“Dan jika disimak dengan seksama isi Bibel, bahwa dipilihnya bangsa Israel memang memuat banyak pelajaran penting bagi manusia. Lewat perantara Bani Israel, Tuhan menetapkan, bahwa mereka akan pergi dan mengajar bangsa-bangsa lain untuk mengenal Tuhan Allah. Bani Israel ditahbiskan menjadi imam, nabi dan penyeru misi bagi bangsa-bangsa lain di dunia ini. Bangsa Israel boleh dikata belum sempurna membawa misinya, akan tetapi melalui Bani Israel, karya Allah melalui Yesus Kristus telah digenapi.”

“Di dalam Yesus Kristus-lah, kasih Tuhan yang sangat besar hadir untuk seluruh bangsa, untuk dunia ini. Maka dengan dipilihnya Israel, sebagai bangsa pilihan-Nya, memang sejalan dengan rencana Tuhan ini. Namun tolong jangan dilupakan, rencana Tuhan tidak hanya berhenti pada bangsa Israel, namun kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia, melalui pemilihan bangsa Israel. Demikian yang termaktub dalam Perjanjian Lama. Dan kini bangsa pilihan Allah yang mengimani Kristus di seluruh dunia. Demikian termaktub dalam Perjanjian Baru.”

“Adapun tentang amalek, saya rasa masih perlu penjelasan lebih lanjut. Rasanya ada yang belum tuntas dalam konsep yang dijelaskan Tuan Baruch tadi. Ini saja, terima kasih.”

***

Keempat, Dr. Fahri Abdullah menjelaskan pandangan menariknya tentang Bangsa Terpilih dan Amalek...

“Abraham atau kalau dalam Islam disebut Ibrahim adalah sungguh manusia istimewa yang dipilih Tuhan. Kami umat Islam sangat mencintai Abraham. Bahkan, saya berkeyakinan di antara para pemeluk agama di atas muka bumi ini tidak ada yang mencintai Abraham melebihi umat Islam. Dalam Islam, ibadah paling utama adalah shalat wajib lima kali sehari. Dan shalat itu tidak dianggap sah jika tidak membaca shalawat yang didalamnya ada menyebut nama Abraham sebanyak empat kali dalam satu shalawat. Jadi minimal umat Islam menyebut nama Abraham sebanyak dua puluh kali. Itu minimal. Belum lagi jika ditambah shalat sunnah yang lain.”

“Episode penting dalam sejarah hidup Abraham dan contoh cara ibadah Abraham juga diabadikan dalam praktik ibadah paling akbar umat Islam, yaitu ibadah haji. Maka tidak berbeda dengan yang disampaikan oleh Rabi Benyamin, bahwa Abraham adalah hamba pilihan Allah. Dia adalah salah satu dari lima nabi dan rasul yang mendapat julukan ‘Ulul ‘azmi’.”

“Dan benar, anak-anak dan keturunannya hampir semuanya menjadi orang-orang saleh, menjadi nabi-nabi Allah. Semua nabi dari Bani Israel adalah keturunan Abraham dari keturunan Sarah. Sedangkan Nabi Muhammad adalah keturunan Abraham dari keturunan Ismail yang lahir dari rahim Hajar, istri yang satunya. Karena itu dalam Islam, Abraham mendapat julukan ‘Abul Anbiya’, atau bapaknya para nabi.” (Dalam surah Al-Baqarah : 124-134).

“Adapun Ya’kub, Daud, Sulaiman, Musa, Isa dan nabi-nabi yang lainnya, mereka sangat dimuliakan dalam Islam. Salah satu syarat kesempurnaan iman dalam Islam adalah mengimani nabi-nabi Allah. Mengimani bahwa mereka itu diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengajak hanya menyembah kepada Allah. Misi mereka semua sama yaitu mengajak kepada umat manusia untuk mengimani bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali hanya Allah.”

“Bahkan, boleh saya katakan, jika kita jujur membaca dan menelaah Taurat, Bible, dan Al-Qur’an, kita akan menemukan Al-Qur’an-lah yang memiliki diskripsi paling menjaga kemuliaan para nabi itu. Berdasarkan Al-Qur’an dan petunjuk Nabi Muhammad SAW., umat Islam memercayai bahwa semua nabi dan rasul itu ma’shum. Artinya, para nabi terjaga dari dosa dan perbuatan keji. Tidak ada penggambaran di dalam Al-Qur’an seorang nabi berbuat mesum dan cabul seperti digambarkan dalam kitab suci yang bukan Al-Qur’an.”

“Karena itu, boleh saya katakan umat Islam lebih memuliakan Ya’kub, Daud, Sulaiman, Musa, Isa, dan nabi-nabi yang lain daripada umat lainnya.”

“Bahwa benar, bangsa Israel pernah dimuliakan oleh Tuhan sebagai bangsa pilihan, dimuliakan melebihi bangsa-bangsa yang lain. Al-Qur’an juga menjelaskan hal itu. Al-Qur’an mengingatkan kepada Bani Israel yang pernah dimuliakan melebihi bangsa lainnya agar mengingat nikmat itu. Di dalam Al-Qur’an, Tuhan berfirman,

‘Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan ingatlah bahwasanya Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di dalam ini (pada masa itu).’ (Al-Baqarah : 47 dan 122).

“Saya percaya seratus persean bahwa Bani Israel pernah dimuliakan Allah menjadi bangsa pilihan melebihi seluruh umat di alam semesta ini ketika itu. Dan saya sepakat, bahwa di antara sebab dimuliakannya Bani Israel adalah karena mereka keturunan Abraham. Al-Qur’an juga mengabadikan janji Tuhan kepada Abraham,

dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Dan (juga) dari anak cucuku?’ Allah berfirman, ‘(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang dzalim.’ (Al-Baqarah : 124).

“kalau kita baca teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Bani Israel dipilih oleh Tuhan karena janji Tuhan kepada Abraham. Mari kita simak lagi firman Tuhan kepada Musa yang tadi dibicarakan oleh Rabi Benyamin,

Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allah-mu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allah-mu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahnya dari bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu-bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?-Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu.’ (Ulangan 7:6-9).

“Nenek moyangmu’ itu maksudnya adalah Abraham. Mari kita lihat bagaimana sumpah atau janji Tuhan kepada Abraham.”

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-menurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu, dan Allah keturunanmu.” (Kejadian 17 : 1).

“Jika kita perhatikan dengan seksama teks-teks tersebut, juga-juga teks-teks lain dalam yang menjelaskan masalah keterpilihan Bani Israel, kita akan mendapati bahwa keutamaan yang diberikan kepada keturunan Abraham, termasuk di dalamnya adalah Bani Israel, ternyata tidak bersifat mutlak, akan tetapi bersyarat dan terbatas.”

“Syarat paling utama dan paling mendasar, atau paling asal, yang jika syarat ini tidak penuhi maka perjanjian Tuhan itu batal adalah keturunan Ibrahim, termasuk Bani Israel, agar menjadi bangsa paling utama, haruslah beriman kepada Allah. Kalimatnya jelas sekali, ‘Supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.’ Jadi yang dijadikan sesembahan, dijadikan Tuhan hanya Allah saja, tidak boleh disekutukan oleh yang lain. Selanjutnya harus menaati semua hukum dan peraturan Allah, berpegang pada tali perjanjian Allah,jika bermaksiat dan tidak taat kepada Allah, maka perjanjian itu batal. Firman Allah kepada Musa jelas sekali,

“Jadi, sekarang jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang teguh pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kamu katakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:5-6).

“Lebih jelas lagi di dalam Ulangan, jika Bani Israel itu tidak mendengar suara Tuhan, melanggar aturan Tuhan, maka mereka dapat bukan keutamaan dan keistimewaan dari Tuhan tetapi murka dan kutukan, dengarkan firman Tuhan dalam Ulangan berikut ini,

“Tetapi jika engkau tidak mendengar suara Allah, Tuhanmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan larangan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk itu akan datang kepadamu dan mencapai engkau. Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang. Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu. Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu da kandungan kambing dombamu. Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar.” (Ulangan 28 : 15-19).

“Kemudian marilah kita lihat sejarah. Seperti apa sejarah Bani Israel itu? Apakah selamanya mereka diistimewakan Allah? Ternyata tidak. Ketika mereka taat dan berpegang teguh pada janjinya dengan Allah, maka mereka diistimewakan oleh Allah. Banyak orang-orang shaleh, nabi-nabi dan manusia-manusia hebat yang istimewa sehingga layak dijadikan teladan oleh umat manusia sepanjang sejarah lahir dari keturunan Ibrahim, khususnya Bani Israel.”

“Ulama Islam mempercayai ada puluhan ribu Nabi dari kalangan Bani Israel. Selain nabi-nabi yang tersebut di dalam kitab suci Al-Qur’an, ada banyak nabi yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, dan ada juga tidak disebut di dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an. Dan mereka banyak berasal dari kalangan anak keturunan Ya’kub yang disebut Bani Israel. Mereka diistimewakan oleh Allah, dimuliakan oleh Allah melebihi manusia yang lain pada masa itu, karena keimanan mereka kepada Allah, ketaatan mereka kepada Allah.”

“Akan tetapi, ketika mereka berpaling dari Allah, ketika mereka menyekutukan Allah, mereka tidak lagi taat kepada Allah, maka Bani Israel itu mendapatkan murka, laknat, dan azab dari Allah. Kalau kita boleh jujur, di dalam kitab suci kalian sendiri, antara pujian Tuhan kepada Bani Israel dengan laknat Tuhan kepada Bani Israel, akan lebih banyak laknat Tuhan kepada Bani Israel. Saya tidak akan memakai redaksi Al-Qur’an, namun memakai redaksi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.” Dalam Ulangan 9:12, Tuhan mengatakan orang-orang Bani Israel itu berlaku busuk,

Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Bangunlah, turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kau bawa keluar dari Mesir, telah berlaku busuk, mereka segera menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka telah membuat patung-patungan.”

“perilaku busuk itu adalah mereka membuat sesembahan baru berupa patung buatan tangan manusia. Mereka tidak serta untuk hanya menyembah Allah saja. Sampai-sampai Musa juga sangat jengkel kepada Bani Israel itu, dengarkan apa kata Musa di dalam Ulangan 31:27,

Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap Tuhan, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.”

“Lihat, Musa masih hidup dan ada di tengah-tengah mereka, tapi mereka, Bani Israel itu sudah berlaku lalim kepada Tuhan. Padahal mereka baru saja diselamatkan oleh Tuhan melalui mukjizat tongkat Musa. Tuhan menyelamatkan mereka menyeberangi lautan sehingga selamat dari kejaran Fir’aun. Bukannya mereka bersyukur dan tambah khusyuk patuh dan taat kepada Tuhan mereka malah bermaksiat kepada Tuhan. Layakkah manusia-manusia seperti itu disebut sebagai manusia pilihan Tuhan? Kalau Anda mengatakan layak, itu sama saja Anda menganggap Tuhan sebagai barang yang tolol da pandit.”

“Dalam Bilangan 14 : 27, Tuhan mensifati Bani Israel sebagai umat yang jahat. Firman Tuhan kepada Musa dan Harun, ‘Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar’.”

“Sekali lagi, layakkah umat yang jahat itu dipilih sebagai yang terbaik di antara sesama manusia? Kalau umat pilihan Tuhan adalah umat yang jahat, terus bagaimana yang lain? Apakah kalian akan mengatakan Tuhan suka kejahatan? Tentu umat yang jahat tidak layak dipilih sebagai umat terbaik. Sekali lagi, Tuhan melaknat orang-orang yang jahat. Yang disebut umat yang jahat itu adalah Bani Israel yang bersungut-sungat kepada Tuhan, yang berbuat tidak terpuji kepada Tuhan. Adapun Bani Israel yang beriman dan taat kepada Tuhan tidak termasuk dalam sebutan dari Bani Israel dan keduanya tentu tidak termasuk yang dimaksud umat yang jahat.”

“sekarang, coba kita lihat, apa kata Al-masih tentang Bani Israel? Dalam Matius 12:34 Al-Masih berkata kepada mereka begini,

Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kalian akan dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kami sendiri jahat?

“Al-Masih juga mensifati Bani Israel itu seperti ini, “Karena sekalipun melihat, mereka tidak akan melihat, dan sekalipun mereka mendengar, mereka tidak akan mendengar dan tidak mau mengerti.” (Matius 13:13)

“Apakah orang-orang yang disifati Al-Masih sedemikian buruk itu layak disebut umat pilihan Tuhan? Sejarah juga menulis Bani Israel itu adalah kaum yang membunuhi para nabi. Matius 23:27, mengabadikan tindakan terkutuk itu. Silahkan disimak, “Yerussalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” Itu kejahatan Bani Israel yang diabadikan dalam Matius 23:37. Apakah bangsa pembunuh para Nabi layak disebut bangsa pilihan?”

“Hal tersebut telah disampaikan di Perjanjian Lama dan di Perjanjian Baru, yang dipaparkan tadi baru sebagian kecil sifat-sifat buruk Bani Israel. Yang jelas, Bani Israel terbukti banyak melakukan dosa, kejahatan, dan melanggar aturan Allah. Maka janji Allah memuliakan mereka otomatis batal dengan sendirinya. Bahkan karena dosa-dosa mereka, Allah menghajar mereka sampai hancur lebur. Coba simak,

Kemudian Tuhan akan menghajar orang Israel sehingga tergoyah-goyah seperti gelagah di air dan ia akan menyentakan mereka dari tanah yang baik ini yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka, ia akan menyerakkan mereka ke seberang Sungai Efrat sana, karena mereka telah membuat tiang-tiang berhala mereka yang dengan demikian menyakiti hati Tuhan. Ia akan lepas tangan terhadap orang Israel karena dosa Yerobeam dan yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula.” (I Rajaraja 14:15)

“Firman Tuhan itu benar menjadi kenyataan, kira-kira tahun 720 SM kerajaan Bani Israel diserang Kerajaan Asyiria dan mereka terusir. Karena dosa-dosa Bani Israel itu, Tuhan murka dan hanya menyisakan Yehuda. Coba simak,

Sebab itu Tuhan sangat murka kepada Israel dan ia menjauhkan mereka dari hadapannya tidak yang tinggal kecuali suku Yehuda saja.” (II Rajaraja 17:18).

“Kemudian sejarah mencatat, ternyata Yehuda pun melanggar aturan Tuhan. Yehuda berbuat dosa yang membuat Tuhan juga murka kepadanya. Tuhan pun membatalkan janji-Nya,

Lalu berfirmanlah TUHAN: ‘Juga orang Yehuda akan Kujauhkan dari hadapan-Ku seperti Aku menjauhkan orang Israel, dan Aku akan membuang kota yang Kupilih ini, yakni Yerusalem, dan rumah ini, walaupun Aku telah berfirman tentangnya: Nama-Ku akan tinggal di sana!” (II Rajaraja 23:27).

“Karena dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan itu, maka Tuhan mencabut segala keutamaan yang pernah dijanjikan kepada Bani Israel. Tuhan mencabut damai sejahtera, rahmat, kasih setia, dan belas kasihan dari umat Yahudi atau Bani Israel itu. Dalam Yeremia 16:5 dijelaskan,

Sungguh, beginilah firman Tuhan: janganlah masuk ke rumah perkabungan, dan janganlah pergi meratap dan janganlah turut berduka cita dengan mereka, sebab Aku telah menarik damai sejahtera pemberian-Ku dari pada bangsa ini, demikianlah firman Tuhan, juga kasih setia dan belas kasihan-Ku.

“Ini hanya sebagian kecil penggambaran sifat-sifat buruk Bani Israel dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sifat-sifat yang sungguh tidak layak disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan.”

“Karenanya, penyebutan sebagai bangsa pilihan Tuhan jelas bukan mutlak, tapi bersyarat. Selama syarat yang diberikan Tuhan dipenuhi, maka predikat itu layak disandang. Bahkan siapa pun yang beriman kepada Tuhan, menaati aturan-aturan Tuhan, menjauhi berbuat maksiat dan aniaya, berbuat baik kepada Tuhan dan sesama manusia ia layak menyandang predikat sebagai manusia atau bangsa pilihan Tuhan.”

“Dalam Islam, konsep sebaik-baik umat juga ada. Di dalam Al-Qur’an, Tuhan berfirman, 

Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran : 110).

“Umat Islam mendapat predikat khaira ummah, umat terbaik. Itu bukan predikat mutlak tanpa syarat. Ada syaratnya untuk bisa menjadi umat terbaik. Ada tiga syarat, pertama, menyuruh berbuat yang makruf, menyuruh berbuat baik. Ini tidak berarti hanya menyuruh, tetapi sebelumnya menyuruh ia harus terlebih dulu berbuat baik. Terbiasa mengamalkan kebaikan. Dan ia tidak mencukupkan baik sendiri, ia ingin lingkungannya baik, masyarakatnya baik, maka ia menyuruh sesamanya berbuat baik.”

“Syarat kedua, harus berani mencegah kemunkaran. Tentu ia sendiri harus terlebih dulu menjauhi segala bentuk kemungkaran, kejahatan, dan dosa. Dan ia berani mencegah orang lain dari yang mungkar. Ini tidak semua orang berani. Sifat ini, biasanya dimiliki oleh para nabi da rasul. Yang menjalankan sifat seperti ini sesungguhnya dia meneladani para nabi dan rasul.”

“Dan syarat ketiga, yang sesungguhnya adalah paling azas dari semua syarat itu yaitu beriman kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Itu adalah syarat yang sama yang diminta oleh Allah kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya.”

“Sedikit catatan, bahwa janji Allah kepada Nabi Ibrahim itu mencakup semua keturunan Ibrahim. Di awal mula janji Allah kepada Ibrahim tidak ada pengkhususan pada keturunan tertentu. Artinya semua keturunan Ibrahim, baik dari jalur Sarah maupun Hajar, jika setia pada janji Allah, maka berhak mendapatkan predikat bangsa pilihan. Dan itu terbukti, di kemudian hari, salah satu keturunan Ibrahim menjadi manusia paling mulia di atas muka bumi ini. Dan itu adalah Muhammad Saw.”

“Dalam Perjanjian Lama dijelaskan kenapa Tuhan sampai bersumpah kepada Abraham akan memberkati Abraham dan anak turun Abraham adalah karena totalitas Abraham dalam taat kepada Tuhan. Bahkan ketika diminta menyembelih anaknya sekalipun. Demi cinta dan taat kepada Tuhan, cinta kepada anak tersayang ia kalahkan.”

“Dalam Kejadian 22:15-18 dijelaskan,

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: ‘Aku bersumpah demi diriKu sendiri-demikianlah Firman Tuhan-: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

“Menurut versi kalian, Yahudi dan Nasrani, anak Abraham yang disembelih untuk diserahkan kepada Tuhan itu adalah Ishak. Sedangkan menurut Islam, itu adalah Ismail. Paling tidak ada dua hal minimal menurut saya yang bisa menjadi semacam bukti kuat bahwa anak itu adalah Ismail bukan Ishak. Pertama, bukti sejarah. Singkat saja, Abraham dan Sarah ke Mesir dan kembali membawa hadiah dari sang Raja Mesir berupa seorang pembantu bernama Hajar. Sampai usia lanjut Abraham dan Sarah belum juga mendapat keturunan. Sarah kemudian tahu diri. Ia sudah tua. Ia mengizinkan Abraham menikahi Hajar. Setelah menikahi Hajar, ternyata Hajar hamil, dan lahirlah Ismail. Abraham tentu sangat bahagia punya anak lelaki. Hal itu membuat Sarah cemburu. Sarah minta kepada Abraham agar membawa pergi Hajar dan anaknya. Tuhan meminta agar Abraham membawa mereka ke sebuah lembah yang tidak ada tanamannya. Itulah Mekkah.”

“Teks di dalam Perjanjian Lama itu berbunyi, ‘menyerahkan anakmu yang tunggal’. Karena Ismail lahir duluan, ‘anakmu yang tunggal’ berarti Ismail. Ketika itu belum lahir Ishak. Jadi Ismail masih anak tunggal. Anak satu-satunya. Jika yang dimaksud adalah Ishak, maka kalimatnya bukan anakmu yang tunggal, sebab Ishak sudah punya saudara. Barulah ketika nanti Ibrahim kembali lagi ke Yerussalem, Tuhan memberi kabar gembira kepada Sarah, akan diberi anak lelaki. Dan itu adalah Ishak.”

“Jika ada teks yang membedakan antara Sarah yang merdeka dan Hajar yang budak, maka teks itu perlu dilihat ulang. Hukum menjelaskan seorang budak yang dinikahi tuannya dan melahirkan seorang anak lelaki maka statusnya bukan budak lagi. Jadi dilihat dari sejarah yang dimaksud anakmu yang tunggal yang diserahkan kepada Tuhan adalah Ismail.”

“Kedua, peristiwa penyembelihan itu, yang menjadi lambang ketaatan luar biasa kepada Tuhan bukanlah peristiwa biasa. Itu adalah peristiwa sangat istimewa yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Islam merayakan peristiwa itu menjadi hari raya Idul Adha. Bahkan disebut juga hari raya Idul Akbar. Hari raya yang sangat agung. Perayaan itu berdasarkan riwayat yang mutawatir dari generasi ke generasi sampai ke zaman Nabi Muhammad Saw, bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Mutawatir itu diriwayatkan oleh banyak orang sampai taraf mustahil bersepakat bohong. Contoh kabar mutawatir. Menara Eiffle ada di Paris. Itu dikabarkan banyak orang yang tidak mungkin bersepakat dusta sehingga dijamin kebenaran beritanya.”

“Ketaatan anak itu menjadi penyebab seluruh keturunan Abraham diberkahi. Maka janganlah ditutupi bahwa Muhammad Saw. adalah keturunan Abraham yang paling diberkati.”

“Baik, tentang Amalek. Apa yang disampaikan oleh Tuan Baruch itu sangat berbahaya sekali. Pemahaman itu sangat membahayakan kemanusiaan. Memahami teks-teks kitab suci tidak boleh sepotong-sepotong. Ketika pemahaman tentang bangsa pilihan sudah dijelaskan dengan cukup detail, maka pemahaman tentang Amalek seperti yang disampaikan Tuan Baruch sesungguhnya secara otomatis sudah runtuh.”

“Apa yang disampaikan Tuan Baruch siapa saja, selain Yahudi yang menjadi penghalang bagi bangsa Yahudi, yang membenci bangsa Yahudi, yang bermusuhan dengan Yahudi adalah termasuk golongan Amalek yang wajib ditumpas. Bahkan semua orang Arab, orang Muslim, orang Palestina adalah Amalek. Berarti saya juga Amalek, di mata Tuan Baruch. Sebab saya seorang muslim, berarti saya harus dibinasakan? Apakah karena saya memeluk Islam, yang berbeda, terus saya di cap Amalek yang harus dibinasakan sampai akhir zaman?”

“Sungguh, itu konsep yang sangat berbahaya bagi kemanusiaan. Banyak saya jumpai kalangan rabinik yang lebih bijak mengatakan bahwa bangsa Amalek-nya wasir Haman yang jahat itu sudah punah ribuan tahun yang lalu. Saat ini sudah tidak ada lagi garis keturunan bangsa Amalek itu. Karena itu perintah di dalam Taurat untuk memusnahkan Amalek tidak bisa lagi dianggap mengikat. Sebab membunuh manusia yang tidak bisa dibuktikan secara yakin keturunan Amalek adalah tindakan ceroboh. Termasuk membunuh orang-orang Arab dan lainnya di zaman modern itu, dengan alasan dianggap Amalek, jelas sebuah kesalahan yang nyata.”

“Kalangan rabinik Yahudi yang lebih bijak juga menyeru agar dalam membaca teks kitab suci Taurat sebaiknya disertai dengan menggali komentar-komentar lisan yang membantu menafsirkannya. Perintah untuk memusnahkan Amalek, menurut filsuf Yahudi yang disegani yaitu Maimonides, tidak boleh serta merta ditafsirkan secara harfiah sebagai panggilan untuk membinasakan suatu bangsa musuh secara fisik. Tetapi sebagai seruan agar menghilangkan perilaku jahat seperti Amalek di dunia ini.”

“Jangan dilupakan, di dalam kitab suci Tuan Baruch ada perintah mengasihi orang asing. Dan orang asing itu tentu bukan yang sebangsa atau sekeyakinan dengan Tuan Baruch. Di dalam Imamat 19:34, tertulis di sana,

Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu, seperti orang Israel asli di antaramu, dan kasihinilah dia seperti dirimu sendiri. Karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir. Aku-lah Tuhan, Allah-mu.

“Konsep Amalek seperti yang disampaikan oleh Tuan Baruch tidak bisa diterima dengan logika yang sehat. Bahkan kalangan Yahudi yang modern dan mau berpikir terbuka menolak konsep zionis yang mendirikan negara Israel.”

“Tentara-tentara Zionis Israel yang tidak berperikemanusiaan di Palestina. Mereka menggusur dan merobohkan rumah penduduk aslinya. Mereka mengusir paksa warga asli Palestina. Mereka membunuhi perempuan dan anak-anak Palestina yang tidak berdosa. Tindakan itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan secara umum, juga bertentangan dengan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama dan orang asing itu. Zionis Israel seperti itu boleh dikatakan lebih kejam dari Nazi. Bisa jadi mereka salah dalam memahami konsep Amalek, sama seperti kesalahan yang terjadi pada Tuan Baruch. Yahudi melakukan tindakan jahat seperti Zionis Israel itu tidak layak disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan, ia layak disebut sebagai penjahat keturunan ular, seperti dikatakan oleh Al-Masih.”


Barru, 11 September 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERSAMA KELELAHAN...

CYBER SPACE

IBRANI DAN PALESTINA