BIDADARI DUNIA




Katya Larasati. Itulah namaku. Aku termasuk blasteran Indo-Jerman, tapi sekarang menetap di Prancis. Orang tuaku adalah muslim. Kami hidup sebagai muslim di Prancis. Dan itu cukup sulit. Ayahku adalah orang Jerman, dan Ibuku asli Indonesia. Mereka bertemu di Jakarta, ketika Ayah ditugaskan sebagai dosen penerjemah di salah satu Universitas di Jakarta.
Ada tipu muslihat hati yang tak terkira, karena niat sebagai dosen itu berubah. Selama beberapa bulan hinggap di Jakarta, Ayah seakan menemukan titik hidayah dan perubahan drastis dalam hidupnya. Ia menjadi muallaf. Lewat perantara pak Yokkof, sahabat karibnya sesama dosen. Ia kerap diajak mengikuti pendalaman agama. Awalnya Ayah hanya ingin menghormati pak Yokkof berkat kebaikan beliau menjamunya di Indonesia, tetapi akhirnya Ayah semakin mulai ikut dan aktif penasaran tentang Islam. Sebagai penganut Kristen dulunya, Ayah tentu banyak membanding-bandingkan dengan agamanya sendiri. Kerap berdiskusi, bahkan berdebat hebat. Menanyakan segala interpretasi, inci demi inci tentang Islam. Bukan hanya Pak Yokkof, tetapi beberapa teman-teman pak Yokkof yang ustadz, membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayah. Sehingga, dengan pemikiran batin luarbiasa akhirnya Ayah masuk Islam.
Setelah hampir setahun tinggal di Jakarta, Ayah menjadi seorang Muslim. Namanya yang dulu, Marcus Holdvessel beralih menjadi Muhammad Shadily. Sangat beda. Ayah semakin menguatkan dirinya dalam menuntut ilmu agama Islam. Usianya saat itu sudah menjajaki kepala tiga. Dan bagi Islam, penting baginya untuk menikah. Maka pak Yokkof, mencarikan jodoh yang pantas untuk pak Shadily ini. Setelah dalam pencarian, maka menurut pak Yokkof, Ibulah yang cocok sebagai pendamping pak Shadily. Karena, Ibu termasuk orang yang rajin dalam menuntut ilmu agama, dan mudah untuk mengajarkan hal-hal keagamaan untuk Ayah. Dan tentu saja, sebagai ladang dakwah bagi Ibu untuk Ayah.
Akhirnya, tak cukup Ayah tinggal dua tahun di Jakarta, mereka pun menikah. Ibu lulusan ekonomi ini, tak akan menyangka akan bersanding dengan pria bule Jerman. Selang beberapa bulan pernikahan Ayah dan Ibuku, mereka belum dikaruniai anak. Hingga 4 tahun pernikahan mereka. Kontrak kerja Ayah di Jakarta sebentar lagi akan habis. Maka Ayah, ingin melanjutkan sekolahnya. Bersama Ibu. Mereka pun memutuskan sekolah di Prancis. Sempat kutanya, “kenapa di Prancis, Ayah?”
“Karena, sebagai sastrawan seperti Ayah, Prancis adalah negara dengan budaya ekuator yang beragam. Disana, di Paris terdapat banyak seni. Dan pasti banyak pula sastrawan. Untuk menuntut ilmu, pilihlah ilmu yang tepat dengan tempatnya. Cari tempat dimana ahlinya berada. Dan, Ayah sebagai sastrawan memilih Prancis.” Kata Ayah panjang lebar.
Lain lagi dengan Ibu. Ibu yang senantiasa menemani Ayah, tentu mengiyakan saja. Yang aku kagumi dari mereka adalah sikap Ayah yang begitu perhatian terhadap Ibu. Dan Ibu yang begitu penyayang terhadap Ayah. Ayah, bahkan menyarankan agar Ibu juga mengambil Master sekolahnya kembali. Di Prancis. Jadi, Ayah tidak ingin Ibu hanya ikut menemani sekolah Ayah. Namun, Ayah juga ingin Ibu sama-sama bisa melanjutkan pendidikan lagi. Kata Ayah, keluarga tanpa memiliki pendidikan tinggi seperti semut yang bergerombolan didinding. Tak dilirik, katanya. Namun, keluarga yang berpendidikan tinggi, layaknya satu singa yang mengaum. Semua perhatian akan tertuju padanya.
Bukan karena Ayah begitu peduli akan dunia. Namun, Islam telah memberikan patri dalam hidupnya bahwa sebagai muslim, tidak hanya berkutit pada ibadah fisik semata. Tapi, ibadah dengan menuntut ilmu adalah termasuk ibadah dari segala dimensi. Walaupun, ilmunya hanya berupa dunia. Sastrawan dan Ekonomik. Beliau yakin, akan ada nilai islam yang dapat dibangun dengan dua ilmu tersebut.
Dengan beasiswa pemerintah Indonesia, Ayah dan Ibu bisa melanjutkan kuliah. Hingga strata tiga di Prancis. Namun, hanya beberapa bulan di Prancis, ternyata Ibu hamil. Sontak, mereka berdua tak percaya. Prediksi yang tak terjamah. Kesabaran menunggu buah hati selama 5 tahun, akhirnya berbuah manis.
Aku pun lahir dengan jalan caesar. Kubayangkan raut kesenangan diantara mereka. Aku, yang telah ditunggu-tunggu hampir 5 tahun ini. Akhirnya lahir di Prancis. Ditengah kesibukan mereka sebagai mahasiswa strata dua. Dan terlebih lagi, aku lahir sebagai muslim. Dengan orang tuaku, semua muslim. Sebenarnya, aku penasaran dengan keluarga besar yang aku miliki. Baik dari Ayah, maupun dari Ibu. Setiap aku menanyakan hal ini kepada Ayah, Ayah hanya bisa mengatakan,
“Keluarga kamu itu, dan sepupu-sepupu kamu adalah orang baik. Namun, belum saatnya kalian bertemu. Selain karena agama berbeda, juga kultur dan perwatakan berbeda. Ayah yakin kamu belum siap”.
Hanya itu tanggapan Ayah. Ibu, yang lama aku tahu ternyata punya keturunan kerabat dari pak Yokkof. Nama asli pak Yokkof adalah Muhammad Yokkof bin Rasli bin Gustin. Sedangkan Ibu bernama Bella Nadzifah binti Nasir binti Taufiq binti Gustin. Mereka keluarga. Keluarga jauh. Jadi, tak ada masalah ketika Ibu menikahi Ayah. Sedang, Ayah yang telah berganti nama menjadi Muhammad Shadily, membuatku bernama Katya Larasati binti Shadily. Ketika aku bersekolah, nama Ayahku tak pernah lepas. Di absen tertulis, “Katya Larasati Shadily”. Jika dipanggil ‘Katya’, kedengarannya aku masih asli Prancis. Ketika di panggil ‘Katya Larasati’, kedengarannya bahwa aku blasteran Eropa-Asia. Dan ketika disebut dalam kelas, ‘Mrs. Shadily’, semua orang menganggapku orang Arab.
Hari berganti hari di Prancis. Aku telah menjelma sebagai anak kecil yang manis. Dan, aku belum mempunyai saudara lagi. Ayah sudah menyelesaikan strata dua nya. Sedang Ibu berhenti sejenak untuk mengambil cuti ketika melahirkanku dan merawatku. Ayah terhentak ditengah jalan untuk melanjutkan strata tiga, karena harus memenuhi kebutuhanku. Ayah bekerja sebagai dosen kembali. Di kampusnya. Beasiswa mereka tak mampu memenuhi kami bertiga. Selain itu, pengurusan beasiswa harus tetap berjalan agar cita-cita Ayah dan Ibu untuk terus sekolah tinggi juga berjalan.
Setelah Islam begitu membuka batin Ayah, ia semakin menghargai hidup. Masa lalunya yang kelam dan penuh intrik, tak ingin terus menerus menjerumusnya. Dari keluarga Ayah, mereka termasuk militan yang peduli dengan pendidikan dengan  mengorbankan segalanya. Maka dua pemikiran tersebut, Ayah ingin membuat hidupnya dan keturunannya hakiki terhadap pendidikan dan agama. Wataknya yang cerdas, berwibawa, sangat bertanggung jawab, mandiri, dan pekerja keras, sebaliknya Ayah juga keras kepala dan cukup ambigius. Bertemu dengan Ibu memiliki watak santun, tenang, easy-going, pandai menempatkan situasi, namun Ibu juga sangat kritis dan tak luwes.
Aku mulai sadar mewarisi sifat mereka ketika sekolah di l’ècole matternelle. Semacam TK, orang-orang menyebutnya Matternelle. Matternelle ini tanggung jawab langsung oleh Wali Kota, tempatnya harus berada di dekat apartemen dan rumah-rumah sekitar. Syarat utama seorang murid harus dekat dari rumah. Sehingga aku tak perlu lagi diantar kesekolah. Kata Maitrisse (nama panggilan seorang guru TK), aku cukup mahir, gampang bersosialisasi, agak pendiam, menyukai sajak puisi dan suka perhitungan masalah uang jajan. Yah, perpaduan antara sastrawan dan ekonom. Untung hanya itu. Apa kata dunia jika aku memiliki sifat kebalikan dari Ayah dan Ibu.
Saat usiaku 4 tahun dan ikut Matternelle, Ibu mulai sekolah lagi dengan beasiswanya yang dulu. Ayah masih kerja. Hebatnya, mereka adalah perpaduan yang pas. Ibu mengambil kuliah dari pagi hingga siang, lalu Ayah bekerja dari siang hingga malam. Agar dapat menemaniku. Mereka tak ingin aku dijaga baby sitter di Prancis. Selain beda agama, watak Prancis adalah mind your own business!. Tak dapat dipercaya. Ayah dan Ibu adalah satu sistematis yang tak ingin ketinggalan untuk progresiku. Selain paham akan pendidikan dan agama, juga mengerti bahwa keluarga tetap yang nomor satu.
Musim panas tiba. Dan liburan ini cukup panjang sehingga kami bertiga dapat berlibur bersama. Ibu sebagai penganut ekonom sekaligus bendahara rumah tangga, pandai membuat tabungan yang cukup untuk kami sekeluarga jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa. Selain itu, ada tempat yang biasa Ayah dan Ibu kunjungi di Prancis, yaitu Grandee Mosque de Paris. Mesjid agung di Prancis. Berada tepat di jantung kota Paris. Kami harus menggunakan metro, semacam angkutan umum bentuk kereta api. Selain Menara Eifel atau Lovre, Masjid Agung yang diresmikan sejak tahun 1926 ini juga sangat artistik dan bernilai sejarah. Aku sangat senang jika berkunjung disini. Aku melihat perangai Ayah dan Ibu yang kesepian menjadi lebih temperamen bertemu dengan para komunitas Islam di Paris. French Council of The Muslim Faith (CFCM) adalah komunitas tersebut. Ayah dan Ibu termasuk didalamnya.
Ummat islam di Prancis juga tiap tahunnya bertambah. Bahkan menjadi pemeluk agama Islam terbesar di benua Eropa. Jumlahnya mencapai tujuh juta jiwa. Menyusul negara Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa. Sahabat-sahabat Muslim Ayah dan Ibu juga berasal dari Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan lainnya. Ditambah dengan beberapa pelajar muslim yang menuntut ilmu di negeri Napoleon Bonaparte ini. Mereka aktif melakukan festival-festival islami. Bahkan pernah mengadakan ‘open house’ muslim se Eropa untuk mengajak non muslim mengenal lebih dekat dengan Islam. Lazim lah Ayah sering diundang untuk memberikan tausyiah-tausyiah serta pengalamannya menjadi seorang muallaf.
“Mengapa Allah tidak menjadikan seluruh manusia di muka Bumi ini menjadi ummat islam saja, jika memang Islamlah yang diridhoi oleh Allah?” ceramah Ayah yang menggelegar tersebut membuat jama’ah serius.
“Karena, Allah hendak menjadikan kita makhluk yang berpikir. Berpikir untuk menemukan rahmat dan hidayahNya. Allah meletakkan rahmatNya didunia hanya beberapa cuil saja, sehingga makhluk-makhluk ciptaanNya berada dalam  kasih sayang. Dan Allah menempatkan rahmatNya yang lebih besar di Akherat, untuk pengampunan hamba-hambaNya. Maha suci Allah dengan segala ciptaanNya.”
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah di beri Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, ….. “ (QS. Al-Maidah : 19)”
“Dan dengan negara penduduk non muslim inilah, Ayah juga ingin mendapat onta-onta merah.” Kata Ayah menceramahiku waktu diApartemen.
Aku takjub. Segala retorika dan aptitude yang dimiliki Ayah. Sehingga aku sadar, bahwa ada orang dibalik kehebatan Ayah, yaitu Ibu. Keislaman Ayah melalui perantaraan pak Yokkof membuatnya mendapat hidayah, namun untuk mempertahankan hidayah tersebut, Ayah memiliki Ibu. Ibu yang memang memiliki dasar agama sejak kecil dikeluarga, cukup menempa kondisi Ibu terhadap Ayah. Sebelum Ayah menikah, ilmu agama Ayah hanya sebatas dasar seperti anak Sekolah Dasar. Sehingga setelah menikah dengan Ibu, Ayah selalu belajar. Ibu dengan sabarnya menerima segala kekurangan Ayah.
“Proses dalam perbaikan itu butuh kesabaran. Bertahap. Ada yang berlari, berjalan bahkan merangkak, asal jangan mundur.” Kata Ibu muntab.
Aku kadang cemburu dengan cinta mereka. Tapi, aku lebih bersyukur bisa menjadi buaian mereka. Di didik dibawah asuhan mereka membuatku menemukan dimensi-dimensi kehidupan yang divergen, iman yang absolut. Walau kadang penyatuan pendapat mengalami skeptis, tapi secara komprehensif adalah seimbang. Menyatu.
Pernah suatu kesempatan, kami sekeluarga ingin berkunjung ke Jerman bertemu kerabat dari Ayah. Tentu saja, ada intrik. Sikap keluarga Ayah yang dingin dan keras membuatku tak betah. Bahkan terlihat bahwa Ibu dicibir secara tidak langsung. Aku tak suka. Ayah juga tak bisa berbuat banyak. Aku tahu, mereka datang dalam keadaan damai. Hanya Ibu dari Ayah, Nenekku, menyambut aku dengan antusias. Beliau begitu senang denganku. Walaupun kami sudah ‘berbeda’ dimatanya. Nenek Vander, orang yang ramah. Terlihat sifat Ayah berasal darinya. Hanya saja, ia masih tak menyukai Ibu. Karena menurutnya, Ibu lah yang membuat Ayah masuk Islam dengan fanatism. Itu pendapat mereka. Tapi, Ibu tak menapiknya. Sikapnya kali ini, keren.
Selain Ayah yang bekerja sebagai dosen sekaligus sebagai editor suatu majalah, Ibu juga pernah bekerja sebagai pengajar Ekonom di Sekolah Menengah Atas Prancis. Sebelumnya sulit menemukan pekerjaan untuk seorang muslim, apalagi berhijab seperti Ibu. Ketika tak ada pekerjaan, Ibu sering bertemu dengan komunitas muslimah di Prancis. Mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an, tentang hijab, serta membuahkan beberapa muallaf. Ujian-ujian mereka juga beraneka macam. Dicibir, dipandang tak enak, godaan lingkungan, bahkan sempat dipenjara karena dituduh teroris, dll. Bahkan aku sendiri, yang mulai belajar menggunakan hijab, menjadi putus asa sendiri akibat intuisi teman-temanku. Yah, godaan lingkungan.
Prancis. Sudah menjadi bagian dari diriku, Ayah dan Ibu. Kadang dirumah kami berbahasa Prancis, Inggris dan Indonesia. Bahasa Indonesia itu mudah, bagiku. Makanya, ketika para pelajar dari Indonesia mengadakan festival budaya, aku selalu ikut. Sekadar hanya untuk mengetahui negara asal Ibu. Belasan tahun di Prancis dan segala perjuangan akhirnya Ayah dan Ibu menyandang gelar Stara tiga. Ada janji untuk Indonesia yang harus mereka tepati.
Aku berumur 12 tahun. Dan saatnya pindah ke Indonesia. Rasa menolak untuk tetap di Prancis tak bisa aku menangkan. Ini keputusan Ayah dan Ibu. Aku seperti nomadik. Namun akhirnya, kami sampai di Indonesia. Cuaca yang begitu berbeda, panas. Dari suhu kisaran 19°C ke suhu kisaran 34°C. Kulitku memerah. Tak tahan rasanya. Tapi Ibuku santai-santai saja. Seperti pengaruh Prancis tak lekat padanya. Beda dengan Ayah, kami senasib. Ini membuktikan orang yang lahir di Eropa, suhu melekat padanya. Setelah diBandara, terlihat keluarga Ibu sedari tadi menunggu. Itu pertama kali aku bertemu. Dipeluknya diriku. Rasanya mereka hangat. Sehangat pikiranku bahwa aku akan baik-baik saja disini.
Waktu berlalu. Prancis yang aku rindukan dan Indonesia dipelupuk. Sudah banyak yang aku pelajari di negeri ini. Indonesia adalah negara adidaya. Adidaya untuk beberapa kelompok tertentu. Kepentingan pribadi menjadi landasannya. Banyak paham dan fisi yang terjadi. Ekonomi yang stagnasi. Dan segala antek sekuler merajalela. Namun, citra lain dari negeri ini adalah budaya silaturahmi yang kuat. Dan setidaknya banyak saudara-saudariku yang muslim disini. Sehingga untuk beribadah, puasa, dan lain-lain sudah tak serumit ketika di Prancis dulu. Dan yang paling membuatku betah adalah keluarga besar dari Ibu. Mereka luar biasa baik.
Ayah dan Ibu yang bergelar Doctoral, dipastikan akan semakin berjaya di Indonesia. Tawaran demi tawaran pekerjaan telah merajainya. Tapi kesalutanku bertambah ketika beberapa perusahaan swasta besar di Jakarta menawarinya, Ayah dan Ibu tetap di visi yang sama. Yaitu, pekerjaan pertama mereka adalah ingin menjadi pengajar. Karena mereka ingin ilmu didapat tidak sebatas diri saja. Namun, berdampak besar untuk kemajuan bangsa dalam pendidikan.
“Ajarilah ilmu mu kepada banyak orang, walau ilmu mu hanya tahu membaca. Karena, ilmu itu tak akan pernah habis, ia akan bertambah dan terus bertambah ketika dibagi. Ini filosofi Imam Syafi’I yang bersumber dari Hadist.” Kata Ayah menerangkan.
Veteran sebagai pengajar, Ayah dan Ibu dipanggil menjadi dosen sesuai bidangnya di Universitas ternama di Jakarta. Riset Satra Ayah dan Paper teori ekonom Ibu menjadi aplikasinya. Selain itu, mereka kadang diundang sebagai pembicara talkshow, workshop, seminar, dll. Bahkan keluar negeri. Mereka ingin teorinya bisa mengubah keadaan Indonesia walau serabat (seperti potongan puzzle). Tak lupa pula, Ayah masih kerap diundang ceramah di beberapa masjid. Tetap, menceritakan pengalaman Muallafnya. Ibu tetap menjadi ummahat yang kerap diajak berdialog sesama muslimah. Menceritakan pengalaman-pengalaman islam di Prancis. Mengindikasikan, pengalaman itu naif dan real. Ayah dan Ibu semakin sibuk hari demi hari. Sedang aku, kesepian. Walau ada bibi Kinah, keluarga jauh Ibu, yang tak mumpuni untuk tinggal dirumah, menemaniku. Bibi Kinah dan Suaminya diajak kerja oleh Ibu, membantu urusan rumah, dll. Mereka telah menikah selama 10 tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Jadilah aku seperti anaknya.
Aku sangat merindukan mereka jika sedang tak ada dirumah. Tapi, telepon darinya tak pernah berhenti selama 24 jam. Kami tetap saling mengabari. Dan, setiap pekan selalu tak mengambil job untuk waktu kami. Itulah mahalnya keluarga. Pernah aku menanyakan kenapa Ibu tak hamil lagi agar aku punya adik. Tapi, itu katanya kuasa Allah. Ibu hanya bisa berusaha. Bersyukur aku ada, dan bersamanya.
Aku terkesiap, ketika Ibu jatuh sakit dan diinfus. Kata dokter, itu karena kelelahan. Maka Ayah mengatakan untuk tidak terlalu bekerja dan mengambil job seperlunya saja. Setelah sakit pertama, Ibu kembali bekerja dan hanya berselang waktu, Ibu kembali sakit, sakitnya dengan batuk tak berhenti. Ayah geram karena Ibu tak mau mendengar. Maka, Ibu pun beristirahat dirumah selama beberapa pekan. Aku yang sudah remaja, merawat Ibu sebisa mungkin. Setelah kata Dokter bisa beraktifitas, Ibu pun kembali mengajar. Tapi, karena Ibu mengajar di beberapa tempat, jadilah beberapa bulan saja Ibu kembali sakit dan tetap batuk. Dan ini yang terparah. Aku sangat khawatir. Ayah lebih-lebih.
Sakit Ibu tak kunjung sembuh. Dokter mendiagnosa bahwa Ibu menderita penyakit Adnexitis atau Infeksi Radang Panggul. Penyakit yang jarang ditemui. Hal ini pula yang menyebabkan Ibu tidak subur. Setelah menelaah penyebabnya, ternyata adanya infeksi setelah melahirkan ditambah TBC Ibu. Ibu memang sempat dirawat beberapa pekan setelah melahirkanku. Dan yang paling mengagetkanku dan Ayah, penyakit Ibu disebabkan oleh infeksi klamydia akibat PMS. Sontak aku kaget. PMS ? Mana mungkin? Aku sontak tak percaya.
Infeksi ini telah bertahun-tahun tertimbun ditubuh Ibu. Penyakit sejenis ini memang tidak disadari oleh perempuan, termasuk Ibu. Karena faktor kelelahan, aktifitas yang banyak serta TBC Ibu, maka jelaslah. Tapi PMS? Dari mana? Aku sangat mempercayai Ibu. Lama aku berpikir, aku baru sadar. Aku lalu melirik Ayah. Ayah, sedari tadi sudah lunglai. Lemas mengetahui hal tersebut. Tak perlu pikir panjang, Ayah mengerti.
Untunglah, sikap tenang dari Ibu dan cepat tangkap dari Ayah membuatku lebih matang untuk bertindak. Aku tak bisa bilang apa-apa. Kata Dokter, ini sudah tahap serius. Sangat sulit diperbaiki walau masih bisa diobati butuh tahap panjang dan tidak instan. Maka berbulan-bulan Ibu dirumah sakit, menerima segala perawatan. Ayah tak henti menjaga. Ketika aku membawa makanan, Ayah lebih dahulu telah menyuapi Ibu. Ketika aku datang dari sekolah, Ayah lebih duluan datang dari kerja. Aku sangat memperhatikan bahwa ini bukan rasa bersalah Ayah terhadap Ibu, namun rasa cinta Ayah yang besar terhadap Ibu.
Semua keluarga Ibu telah mengetahui. Dan, hebatnya mereka memaklumi. Bahwa, itu adalah hedonism Eropa. Masa jahilyah seseorang yang sangat lama. Cukup dulu, semua sudah berubah. Mereka semua percaya kepada Ayah, bahwa inilah takdir Allah mempertemukan Ayah dan Ibu. Bahkan Ibu tetap menerima penyakit ini walau itu dari Ayah. Setelah setahun lebih, akhirnya Ibu bisa pulang kerumah. Tapi tetap harus extra pemulihan. Ayah tetap berada disamping Ibu. Tak lepas. Aku yang telah duduk dibangku kuliah, juga semakin merawat Ibu. Ibu berangsur-angsur pulih. Hingga akhirnya aku selesai kuliah di Depok, Jakarta. Namun, Ibu kembali sakit. Penyakitnya menggerogotinya. Ibu jatuh pingsan. Dan disinilah, badannya terus lemah.
Aku senang Ibu masih sehat wal afiat menghadiri acara wisudaku. Tapi, setelah melihatnya lebih sakit dari yang kami bayangkan, aku mulai takut mendekat. Ayah dan bibi Kinah yang senantiasa merawat Ibu. Pernah suatu ketika, Ibu sendiri di ruangan rumah sakit. Aku bertanya,
“Ibu, apa yang bisa aku bantu dengan penyakit Ibu?”
Dengan lirih Ibu menjawab, “cukup jadilah anak yang sholehah, Katya.”
Air mataku jatuh. Tak tahan, aku berlari keluar. Hatiku mengatakan bahwa Ibu tak lama lagi berada didekatku. ‘Penyakit’ dari ayah tersebut tetap membuat Ibu tegar. Selama Ibu sakit, ia sangat jarang mengeluh, jarang meminta bantuan. Ibu benar-benar seorang Bidadari Dunia, bahkan lebih. Ibu ingin aku menjadi sholehah. Ya Allah, akankah aku bisa menjadi Bidadari Dunia seperti Ibu?
Selang beberapa hari, Ibu lebih lunglai. Ia sudah dirawat diruang ICU cukup lama. Penyakit ini jarang menimbulkan kematian. Namun Allah berkehendak lain, Allah memilih Ibu. Dan di malam Senin, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat Ayah sedari tadi tak pernah lengser di samping Ibu, memegang tangannya, sedari tadi berdzikir pula, akhirnya tangisannya pecah. Ayah mengerti semua akan kembali padaNya. Namun, rasa manusianya datang. Keluarga lain yang menunggu di balik ruangan, pecah, histeris. Namun, tetap menjaga adab. Itulah keluarga Ibu. Sedang aku, aku tak tahu mau apa dan bagaimana. Menangis. Tersedan. Kalut. Kelu. Tak satu kata pun yang dapat menyimbangi rasa ini. Rasa kehilangan Ibunda tercinta.
Rigid dan Akseleran. Sifat Ayah dan Ibu. Mereka adalah seni artifact yang langka. Jenis orang tua seperti mereka sangat jarang di muka bumi. Maka, anak yang beruntung seperti aku harus terus bersyukur menikmati ekspetasi yang aku dapat. Sejak Ibu pergi, Ayah memang murung. Kehilangan pendamping yang tak pernah pisah membuatnya janggal. Tulang rusuknya tak ada lagi. Aku, hanya pengganti tulang Nirba nya. Ibu adalah Bidadari Dunianya Ayah. Beberapa bulan setelah Ibu meninggal, akhirnya aku menikah dengan lelaki yang sholeh, muslim. Ayah khawatir jika penyakit Ibu menuruniku. Tapi tidak ternyata, setelah setahun menikah, aku dikaruniai seorang anak laki-laki. Cucu buat Ayah. Sekarang kehidupanku, merawat Ayah, Suami dan Anak untuk tetap menjaga konsistensi Iman dan Ilmu untuk Ummat. Diusia Ayah, Ayah masih aktif menjalani pendidikan dan dakwah. Karena beliau masih sangat dibutuhkan. Kadang aku mengingatkan untuk menjaga kesehatan. Ia memahami, dan mengatakan bahwa ini adalah ladang pahalaku kelak.
“ Semoga Allah menghapus segala kesalahan-kesalahan ku dulu. Dan bertemu dengan Ibu mu di JannahNya kelak.” Kata Ayah syahdu.
 Air mata ku menetes. Mengaminkan. Terharu. Aku jadi berniat ingin memiliki banyak keturunan untuk jadi pahala jaryah mereka kelak. Aku juga berniat ingin menjadi seperti Ibu, Bidadari Dunia. beliau adalah inspirasi terbesarku bersama Ayah. Aku masih ingat Ibu mengatakan,
“What I can do for my religion, not my religion what do for me”.
“Seindah-indahnya perhiasan adalah wanita sholehah dan semulia-mulianya lelaki adalah lelaki yang memuliakan wanita….” ^_^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover