BIDADARI DUNIA
Katya Larasati.
Itulah namaku. Aku termasuk blasteran Indo-Jerman, tapi sekarang menetap di
Prancis. Orang tuaku adalah muslim. Kami hidup sebagai muslim di Prancis. Dan
itu cukup sulit. Ayahku adalah orang Jerman, dan Ibuku asli Indonesia. Mereka
bertemu di Jakarta, ketika Ayah ditugaskan sebagai dosen penerjemah di salah
satu Universitas di Jakarta.
Ada tipu
muslihat hati yang tak terkira, karena niat sebagai dosen itu berubah. Selama
beberapa bulan hinggap di Jakarta, Ayah seakan menemukan titik hidayah dan
perubahan drastis dalam hidupnya. Ia menjadi muallaf. Lewat perantara pak
Yokkof, sahabat karibnya sesama dosen. Ia kerap diajak mengikuti pendalaman
agama. Awalnya Ayah hanya ingin menghormati pak Yokkof berkat kebaikan beliau
menjamunya di Indonesia, tetapi akhirnya Ayah semakin mulai ikut dan aktif
penasaran tentang Islam. Sebagai penganut Kristen dulunya, Ayah tentu banyak
membanding-bandingkan dengan agamanya sendiri. Kerap berdiskusi, bahkan
berdebat hebat. Menanyakan segala interpretasi, inci demi inci tentang Islam.
Bukan hanya Pak Yokkof, tetapi beberapa teman-teman pak Yokkof yang ustadz,
membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayah. Sehingga, dengan pemikiran batin
luarbiasa akhirnya Ayah masuk Islam.
Setelah hampir setahun
tinggal di Jakarta, Ayah menjadi seorang Muslim. Namanya yang dulu, Marcus Holdvessel
beralih menjadi Muhammad Shadily. Sangat beda. Ayah semakin menguatkan dirinya
dalam menuntut ilmu agama Islam. Usianya saat itu sudah menjajaki kepala tiga.
Dan bagi Islam, penting baginya untuk menikah. Maka pak Yokkof, mencarikan
jodoh yang pantas untuk pak Shadily ini. Setelah dalam pencarian, maka menurut
pak Yokkof, Ibulah yang cocok sebagai pendamping pak Shadily. Karena, Ibu
termasuk orang yang rajin dalam menuntut ilmu agama, dan mudah untuk
mengajarkan hal-hal keagamaan untuk Ayah. Dan tentu saja, sebagai ladang dakwah
bagi Ibu untuk Ayah.
Akhirnya, tak
cukup Ayah tinggal dua tahun di Jakarta, mereka pun menikah. Ibu lulusan
ekonomi ini, tak akan menyangka akan bersanding dengan pria bule Jerman. Selang
beberapa bulan pernikahan Ayah dan Ibuku, mereka belum dikaruniai anak. Hingga
4 tahun pernikahan mereka. Kontrak kerja Ayah di Jakarta sebentar lagi akan
habis. Maka Ayah, ingin melanjutkan sekolahnya. Bersama Ibu. Mereka pun
memutuskan sekolah di Prancis. Sempat kutanya, “kenapa di Prancis, Ayah?”
“Karena, sebagai
sastrawan seperti Ayah, Prancis adalah negara dengan budaya ekuator yang
beragam. Disana, di Paris terdapat banyak seni. Dan pasti banyak pula sastrawan.
Untuk menuntut ilmu, pilihlah ilmu yang tepat dengan tempatnya. Cari tempat
dimana ahlinya berada. Dan, Ayah sebagai sastrawan memilih Prancis.” Kata Ayah
panjang lebar.
Lain lagi dengan
Ibu. Ibu yang senantiasa menemani Ayah, tentu mengiyakan saja. Yang aku kagumi
dari mereka adalah sikap Ayah yang begitu perhatian terhadap Ibu. Dan Ibu yang
begitu penyayang terhadap Ayah. Ayah, bahkan menyarankan agar Ibu juga
mengambil Master sekolahnya kembali. Di Prancis. Jadi, Ayah tidak ingin Ibu
hanya ikut menemani sekolah Ayah. Namun, Ayah juga ingin Ibu sama-sama bisa
melanjutkan pendidikan lagi. Kata Ayah, keluarga tanpa memiliki pendidikan
tinggi seperti semut yang bergerombolan didinding. Tak dilirik, katanya. Namun,
keluarga yang berpendidikan tinggi, layaknya satu singa yang mengaum. Semua
perhatian akan tertuju padanya.
Bukan karena
Ayah begitu peduli akan dunia. Namun, Islam telah memberikan patri dalam
hidupnya bahwa sebagai muslim, tidak hanya berkutit pada ibadah fisik semata.
Tapi, ibadah dengan menuntut ilmu adalah termasuk ibadah dari segala dimensi.
Walaupun, ilmunya hanya berupa dunia. Sastrawan dan Ekonomik. Beliau yakin,
akan ada nilai islam yang dapat dibangun dengan dua ilmu tersebut.
Dengan beasiswa
pemerintah Indonesia, Ayah dan Ibu bisa melanjutkan kuliah. Hingga strata tiga
di Prancis. Namun, hanya beberapa bulan di Prancis, ternyata Ibu hamil. Sontak,
mereka berdua tak percaya. Prediksi yang tak terjamah. Kesabaran menunggu buah
hati selama 5 tahun, akhirnya berbuah manis.
Aku pun lahir
dengan jalan caesar. Kubayangkan raut kesenangan diantara mereka. Aku,
yang telah ditunggu-tunggu hampir 5 tahun ini. Akhirnya lahir di Prancis. Ditengah
kesibukan mereka sebagai mahasiswa strata dua. Dan terlebih lagi, aku lahir
sebagai muslim. Dengan orang tuaku, semua muslim. Sebenarnya, aku penasaran
dengan keluarga besar yang aku miliki. Baik dari Ayah, maupun dari Ibu. Setiap
aku menanyakan hal ini kepada Ayah, Ayah hanya bisa mengatakan,
“Keluarga kamu
itu, dan sepupu-sepupu kamu adalah orang baik. Namun, belum saatnya kalian
bertemu. Selain karena agama berbeda, juga kultur dan perwatakan berbeda. Ayah
yakin kamu belum siap”.
Hanya itu
tanggapan Ayah. Ibu, yang lama aku tahu ternyata punya keturunan kerabat dari
pak Yokkof. Nama asli pak Yokkof adalah Muhammad Yokkof bin Rasli bin Gustin.
Sedangkan Ibu bernama Bella Nadzifah binti Nasir binti Taufiq binti Gustin.
Mereka keluarga. Keluarga jauh. Jadi, tak ada masalah ketika Ibu menikahi Ayah.
Sedang, Ayah yang telah berganti nama menjadi Muhammad Shadily, membuatku
bernama Katya Larasati binti Shadily. Ketika aku bersekolah, nama Ayahku tak
pernah lepas. Di absen tertulis, “Katya Larasati Shadily”. Jika dipanggil
‘Katya’, kedengarannya aku masih asli Prancis. Ketika di panggil ‘Katya
Larasati’, kedengarannya bahwa aku blasteran Eropa-Asia. Dan ketika disebut
dalam kelas, ‘Mrs. Shadily’, semua orang menganggapku orang Arab.
Hari berganti
hari di Prancis. Aku telah menjelma sebagai anak kecil yang manis. Dan, aku
belum mempunyai saudara lagi. Ayah sudah menyelesaikan strata dua nya. Sedang
Ibu berhenti sejenak untuk mengambil cuti ketika melahirkanku dan merawatku.
Ayah terhentak ditengah jalan untuk melanjutkan strata tiga, karena harus
memenuhi kebutuhanku. Ayah bekerja sebagai dosen kembali. Di kampusnya. Beasiswa
mereka tak mampu memenuhi kami bertiga. Selain itu, pengurusan beasiswa harus
tetap berjalan agar cita-cita Ayah dan Ibu untuk terus sekolah tinggi juga
berjalan.
Setelah Islam
begitu membuka batin Ayah, ia semakin menghargai hidup. Masa lalunya yang kelam
dan penuh intrik, tak ingin terus menerus menjerumusnya. Dari keluarga Ayah,
mereka termasuk militan yang peduli dengan pendidikan dengan mengorbankan segalanya. Maka dua pemikiran
tersebut, Ayah ingin membuat hidupnya dan keturunannya hakiki terhadap
pendidikan dan agama. Wataknya yang cerdas, berwibawa, sangat bertanggung
jawab, mandiri, dan pekerja keras, sebaliknya Ayah juga keras kepala dan cukup
ambigius. Bertemu dengan Ibu memiliki watak santun, tenang, easy-going,
pandai menempatkan situasi, namun Ibu juga sangat kritis dan tak luwes.
Aku mulai sadar
mewarisi sifat mereka ketika sekolah di l’ècole matternelle. Semacam TK,
orang-orang menyebutnya Matternelle. Matternelle ini tanggung
jawab langsung oleh Wali Kota, tempatnya harus berada di dekat apartemen dan
rumah-rumah sekitar. Syarat utama seorang murid harus dekat dari rumah.
Sehingga aku tak perlu lagi diantar kesekolah. Kata Maitrisse (nama
panggilan seorang guru TK), aku cukup mahir, gampang bersosialisasi, agak
pendiam, menyukai sajak puisi dan suka perhitungan masalah uang jajan. Yah,
perpaduan antara sastrawan dan ekonom. Untung hanya itu. Apa kata dunia jika
aku memiliki sifat kebalikan dari Ayah dan Ibu.
Saat usiaku 4
tahun dan ikut Matternelle, Ibu mulai sekolah lagi dengan beasiswanya
yang dulu. Ayah masih kerja. Hebatnya, mereka adalah perpaduan yang pas. Ibu
mengambil kuliah dari pagi hingga siang, lalu Ayah bekerja dari siang hingga
malam. Agar dapat menemaniku. Mereka tak ingin aku dijaga baby sitter di
Prancis. Selain beda agama, watak Prancis adalah mind your own business!.
Tak dapat dipercaya. Ayah dan Ibu adalah satu sistematis yang tak ingin
ketinggalan untuk progresiku. Selain paham akan pendidikan dan agama, juga
mengerti bahwa keluarga tetap yang nomor satu.
Musim panas
tiba. Dan liburan ini cukup panjang sehingga kami bertiga dapat berlibur
bersama. Ibu sebagai penganut ekonom sekaligus bendahara rumah tangga, pandai
membuat tabungan yang cukup untuk kami sekeluarga jalan-jalan ke beberapa negara
di Eropa. Selain itu, ada tempat yang biasa Ayah dan Ibu kunjungi di Prancis,
yaitu Grandee Mosque de Paris. Mesjid agung di Prancis. Berada tepat di
jantung kota Paris. Kami harus menggunakan metro, semacam angkutan umum bentuk
kereta api. Selain Menara Eifel atau Lovre, Masjid Agung yang diresmikan sejak
tahun 1926 ini juga sangat artistik dan bernilai sejarah. Aku sangat senang
jika berkunjung disini. Aku melihat perangai Ayah dan Ibu yang kesepian menjadi
lebih temperamen bertemu dengan para komunitas Islam di Paris. French
Council of The Muslim Faith (CFCM) adalah komunitas tersebut. Ayah dan Ibu
termasuk didalamnya.
Ummat islam di
Prancis juga tiap tahunnya bertambah. Bahkan menjadi pemeluk agama Islam
terbesar di benua Eropa. Jumlahnya mencapai tujuh juta jiwa. Menyusul negara
Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa.
Sahabat-sahabat Muslim Ayah dan Ibu juga berasal dari Aljazair, Libya, Maroko,
Mauritania, dan lainnya. Ditambah dengan beberapa pelajar muslim yang menuntut
ilmu di negeri Napoleon Bonaparte ini. Mereka aktif melakukan festival-festival
islami. Bahkan pernah mengadakan ‘open house’ muslim se Eropa untuk mengajak
non muslim mengenal lebih dekat dengan Islam. Lazim lah Ayah sering diundang
untuk memberikan tausyiah-tausyiah serta pengalamannya menjadi seorang muallaf.
“Mengapa Allah
tidak menjadikan seluruh manusia di muka Bumi ini menjadi ummat islam saja,
jika memang Islamlah yang diridhoi oleh Allah?” ceramah Ayah yang menggelegar
tersebut membuat jama’ah serius.
“Karena, Allah
hendak menjadikan kita makhluk yang berpikir. Berpikir untuk menemukan rahmat
dan hidayahNya. Allah meletakkan rahmatNya didunia hanya beberapa cuil saja,
sehingga makhluk-makhluk ciptaanNya berada dalam kasih sayang. Dan Allah menempatkan rahmatNya
yang lebih besar di Akherat, untuk pengampunan hamba-hambaNya. Maha suci Allah
dengan segala ciptaanNya.”
“Sesungguhnya
agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah di
beri Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, ….. “ (QS. Al-Maidah : 19)”
“Dan dengan
negara penduduk non muslim inilah, Ayah juga ingin mendapat onta-onta merah.”
Kata Ayah menceramahiku waktu diApartemen.
Aku takjub.
Segala retorika dan aptitude yang dimiliki Ayah. Sehingga aku sadar, bahwa ada
orang dibalik kehebatan Ayah, yaitu Ibu. Keislaman Ayah melalui perantaraan pak
Yokkof membuatnya mendapat hidayah, namun untuk mempertahankan hidayah
tersebut, Ayah memiliki Ibu. Ibu yang memang memiliki dasar agama sejak kecil
dikeluarga, cukup menempa kondisi Ibu terhadap Ayah. Sebelum Ayah menikah, ilmu
agama Ayah hanya sebatas dasar seperti anak Sekolah Dasar. Sehingga setelah
menikah dengan Ibu, Ayah selalu belajar. Ibu dengan sabarnya menerima segala
kekurangan Ayah.
“Proses dalam
perbaikan itu butuh kesabaran. Bertahap. Ada yang berlari, berjalan bahkan
merangkak, asal jangan mundur.” Kata Ibu muntab.
Aku kadang
cemburu dengan cinta mereka. Tapi, aku lebih bersyukur bisa menjadi buaian
mereka. Di didik dibawah asuhan mereka membuatku menemukan dimensi-dimensi
kehidupan yang divergen, iman yang absolut. Walau kadang penyatuan pendapat
mengalami skeptis, tapi secara komprehensif adalah seimbang. Menyatu.
Pernah suatu
kesempatan, kami sekeluarga ingin berkunjung ke Jerman bertemu kerabat dari Ayah.
Tentu saja, ada intrik. Sikap keluarga Ayah yang dingin dan keras membuatku tak
betah. Bahkan terlihat bahwa Ibu dicibir secara tidak langsung. Aku tak suka.
Ayah juga tak bisa berbuat banyak. Aku tahu, mereka datang dalam keadaan damai.
Hanya Ibu dari Ayah, Nenekku, menyambut aku dengan antusias. Beliau begitu
senang denganku. Walaupun kami sudah ‘berbeda’ dimatanya. Nenek Vander, orang
yang ramah. Terlihat sifat Ayah berasal darinya. Hanya saja, ia masih tak
menyukai Ibu. Karena menurutnya, Ibu lah yang membuat Ayah masuk Islam dengan fanatism.
Itu pendapat mereka. Tapi, Ibu tak menapiknya. Sikapnya kali ini, keren.
Selain Ayah yang
bekerja sebagai dosen sekaligus sebagai editor suatu majalah, Ibu juga pernah
bekerja sebagai pengajar Ekonom di Sekolah Menengah Atas Prancis. Sebelumnya
sulit menemukan pekerjaan untuk seorang muslim, apalagi berhijab seperti Ibu.
Ketika tak ada pekerjaan, Ibu sering bertemu dengan komunitas muslimah di
Prancis. Mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an, tentang hijab, serta membuahkan
beberapa muallaf. Ujian-ujian mereka juga beraneka macam. Dicibir, dipandang
tak enak, godaan lingkungan, bahkan sempat dipenjara karena dituduh teroris,
dll. Bahkan aku sendiri, yang mulai belajar menggunakan hijab, menjadi putus
asa sendiri akibat intuisi teman-temanku. Yah, godaan lingkungan.
Prancis. Sudah
menjadi bagian dari diriku, Ayah dan Ibu. Kadang dirumah kami berbahasa
Prancis, Inggris dan Indonesia. Bahasa Indonesia itu mudah, bagiku. Makanya,
ketika para pelajar dari Indonesia mengadakan festival budaya, aku selalu ikut.
Sekadar hanya untuk mengetahui negara asal Ibu. Belasan tahun di Prancis dan
segala perjuangan akhirnya Ayah dan Ibu menyandang gelar Stara tiga. Ada janji
untuk Indonesia yang harus mereka tepati.
Aku berumur 12
tahun. Dan saatnya pindah ke Indonesia. Rasa menolak untuk tetap di Prancis tak
bisa aku menangkan. Ini keputusan Ayah dan Ibu. Aku seperti nomadik. Namun akhirnya,
kami sampai di Indonesia. Cuaca yang begitu berbeda, panas. Dari suhu kisaran
19°C ke suhu kisaran 34°C. Kulitku memerah. Tak tahan rasanya. Tapi Ibuku
santai-santai saja. Seperti pengaruh Prancis tak lekat padanya. Beda dengan
Ayah, kami senasib. Ini membuktikan orang yang lahir di Eropa, suhu melekat
padanya. Setelah diBandara, terlihat keluarga Ibu sedari tadi menunggu. Itu
pertama kali aku bertemu. Dipeluknya diriku. Rasanya mereka hangat. Sehangat
pikiranku bahwa aku akan baik-baik saja disini.
Waktu berlalu.
Prancis yang aku rindukan dan Indonesia dipelupuk. Sudah banyak yang aku
pelajari di negeri ini. Indonesia adalah negara adidaya. Adidaya untuk beberapa
kelompok tertentu. Kepentingan pribadi menjadi landasannya. Banyak paham dan
fisi yang terjadi. Ekonomi yang stagnasi. Dan segala antek sekuler merajalela.
Namun, citra lain dari negeri ini adalah budaya silaturahmi yang kuat. Dan
setidaknya banyak saudara-saudariku yang muslim disini. Sehingga untuk
beribadah, puasa, dan lain-lain sudah tak serumit ketika di Prancis dulu. Dan
yang paling membuatku betah adalah keluarga besar dari Ibu. Mereka luar biasa
baik.
Ayah dan Ibu
yang bergelar Doctoral, dipastikan akan semakin berjaya di Indonesia. Tawaran
demi tawaran pekerjaan telah merajainya. Tapi kesalutanku bertambah ketika
beberapa perusahaan swasta besar di Jakarta menawarinya, Ayah dan Ibu tetap di
visi yang sama. Yaitu, pekerjaan pertama mereka adalah ingin menjadi pengajar.
Karena mereka ingin ilmu didapat tidak sebatas diri saja. Namun, berdampak
besar untuk kemajuan bangsa dalam pendidikan.
“Ajarilah ilmu
mu kepada banyak orang, walau ilmu mu hanya tahu membaca. Karena, ilmu itu tak
akan pernah habis, ia akan bertambah dan terus bertambah ketika dibagi. Ini
filosofi Imam Syafi’I yang bersumber dari Hadist.” Kata Ayah menerangkan.
Veteran sebagai
pengajar, Ayah dan Ibu dipanggil menjadi dosen sesuai bidangnya di Universitas
ternama di Jakarta. Riset Satra Ayah dan Paper teori ekonom Ibu menjadi
aplikasinya. Selain itu, mereka kadang diundang sebagai pembicara talkshow,
workshop, seminar, dll. Bahkan keluar negeri. Mereka ingin teorinya bisa mengubah
keadaan Indonesia walau serabat (seperti potongan puzzle). Tak lupa
pula, Ayah masih kerap diundang ceramah di beberapa masjid. Tetap, menceritakan
pengalaman Muallafnya. Ibu tetap menjadi ummahat yang kerap diajak berdialog
sesama muslimah. Menceritakan pengalaman-pengalaman islam di Prancis.
Mengindikasikan, pengalaman itu naif dan real. Ayah dan Ibu semakin
sibuk hari demi hari. Sedang aku, kesepian. Walau ada bibi Kinah, keluarga jauh
Ibu, yang tak mumpuni untuk tinggal dirumah, menemaniku. Bibi Kinah dan
Suaminya diajak kerja oleh Ibu, membantu urusan rumah, dll. Mereka telah
menikah selama 10 tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Jadilah aku seperti
anaknya.
Aku sangat
merindukan mereka jika sedang tak ada dirumah. Tapi, telepon darinya tak pernah
berhenti selama 24 jam. Kami tetap saling mengabari. Dan, setiap pekan selalu
tak mengambil job untuk waktu kami. Itulah mahalnya keluarga. Pernah aku
menanyakan kenapa Ibu tak hamil lagi agar aku punya adik. Tapi, itu katanya
kuasa Allah. Ibu hanya bisa berusaha. Bersyukur aku ada, dan bersamanya.
Aku terkesiap,
ketika Ibu jatuh sakit dan diinfus. Kata dokter, itu karena kelelahan. Maka
Ayah mengatakan untuk tidak terlalu bekerja dan mengambil job seperlunya
saja. Setelah sakit pertama, Ibu kembali bekerja dan hanya berselang waktu, Ibu
kembali sakit, sakitnya dengan batuk tak berhenti. Ayah geram karena Ibu tak
mau mendengar. Maka, Ibu pun beristirahat dirumah selama beberapa pekan. Aku
yang sudah remaja, merawat Ibu sebisa mungkin. Setelah kata Dokter bisa
beraktifitas, Ibu pun kembali mengajar. Tapi, karena Ibu mengajar di beberapa
tempat, jadilah beberapa bulan saja Ibu kembali sakit dan tetap batuk. Dan ini
yang terparah. Aku sangat khawatir. Ayah lebih-lebih.
Sakit Ibu tak
kunjung sembuh. Dokter mendiagnosa bahwa Ibu menderita penyakit Adnexitis
atau Infeksi Radang Panggul. Penyakit yang jarang ditemui. Hal ini pula yang
menyebabkan Ibu tidak subur. Setelah menelaah penyebabnya, ternyata
adanya infeksi setelah melahirkan ditambah TBC Ibu. Ibu memang sempat dirawat
beberapa pekan setelah melahirkanku. Dan yang paling mengagetkanku dan Ayah,
penyakit Ibu disebabkan oleh infeksi klamydia akibat PMS. Sontak aku
kaget. PMS ? Mana mungkin? Aku sontak tak percaya.
Infeksi ini
telah bertahun-tahun tertimbun ditubuh Ibu. Penyakit sejenis ini memang tidak
disadari oleh perempuan, termasuk Ibu. Karena faktor kelelahan, aktifitas yang
banyak serta TBC Ibu, maka jelaslah. Tapi PMS? Dari mana? Aku sangat
mempercayai Ibu. Lama aku berpikir, aku baru sadar. Aku lalu melirik Ayah.
Ayah, sedari tadi sudah lunglai. Lemas mengetahui hal tersebut. Tak perlu pikir
panjang, Ayah mengerti.
Untunglah, sikap
tenang dari Ibu dan cepat tangkap dari Ayah membuatku lebih matang untuk
bertindak. Aku tak bisa bilang apa-apa. Kata Dokter, ini sudah tahap serius.
Sangat sulit diperbaiki walau masih bisa diobati butuh tahap panjang dan tidak
instan. Maka berbulan-bulan Ibu dirumah sakit, menerima segala perawatan. Ayah
tak henti menjaga. Ketika aku membawa makanan, Ayah lebih dahulu telah menyuapi
Ibu. Ketika aku datang dari sekolah, Ayah lebih duluan datang dari kerja. Aku
sangat memperhatikan bahwa ini bukan rasa bersalah Ayah terhadap Ibu, namun
rasa cinta Ayah yang besar terhadap Ibu.
Semua keluarga
Ibu telah mengetahui. Dan, hebatnya mereka memaklumi. Bahwa, itu adalah
hedonism Eropa. Masa jahilyah seseorang yang sangat lama. Cukup dulu, semua
sudah berubah. Mereka semua percaya kepada Ayah, bahwa inilah takdir Allah
mempertemukan Ayah dan Ibu. Bahkan Ibu tetap menerima penyakit ini walau itu
dari Ayah. Setelah setahun lebih, akhirnya Ibu bisa pulang kerumah. Tapi tetap
harus extra pemulihan. Ayah tetap berada disamping Ibu. Tak lepas. Aku yang
telah duduk dibangku kuliah, juga semakin merawat Ibu. Ibu berangsur-angsur
pulih. Hingga akhirnya aku selesai kuliah di Depok, Jakarta. Namun, Ibu kembali
sakit. Penyakitnya menggerogotinya. Ibu jatuh pingsan. Dan disinilah, badannya
terus lemah.
Aku senang Ibu
masih sehat wal afiat menghadiri acara wisudaku. Tapi, setelah melihatnya lebih
sakit dari yang kami bayangkan, aku mulai takut mendekat. Ayah dan bibi Kinah
yang senantiasa merawat Ibu. Pernah suatu ketika, Ibu sendiri di ruangan rumah
sakit. Aku bertanya,
“Ibu, apa yang
bisa aku bantu dengan penyakit Ibu?”
Dengan lirih Ibu
menjawab, “cukup jadilah anak yang sholehah, Katya.”
Air mataku
jatuh. Tak tahan, aku berlari keluar. Hatiku mengatakan bahwa Ibu tak lama lagi
berada didekatku. ‘Penyakit’ dari ayah tersebut tetap membuat Ibu tegar. Selama
Ibu sakit, ia sangat jarang mengeluh, jarang meminta bantuan. Ibu benar-benar
seorang Bidadari Dunia, bahkan lebih. Ibu ingin aku menjadi sholehah. Ya Allah,
akankah aku bisa menjadi Bidadari Dunia seperti Ibu?
Selang beberapa
hari, Ibu lebih lunglai. Ia sudah dirawat diruang ICU cukup lama. Penyakit ini
jarang menimbulkan kematian. Namun Allah berkehendak lain, Allah memilih Ibu.
Dan di malam Senin, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat Ayah sedari
tadi tak pernah lengser di samping Ibu, memegang tangannya, sedari tadi
berdzikir pula, akhirnya tangisannya pecah. Ayah mengerti semua akan kembali
padaNya. Namun, rasa manusianya datang. Keluarga lain yang menunggu di balik
ruangan, pecah, histeris. Namun, tetap menjaga adab. Itulah keluarga Ibu.
Sedang aku, aku tak tahu mau apa dan bagaimana. Menangis. Tersedan. Kalut.
Kelu. Tak satu kata pun yang dapat menyimbangi rasa ini. Rasa kehilangan Ibunda
tercinta.
Rigid dan
Akseleran. Sifat Ayah dan Ibu. Mereka adalah seni artifact yang langka. Jenis
orang tua seperti mereka sangat jarang di muka bumi. Maka, anak yang beruntung
seperti aku harus terus bersyukur menikmati ekspetasi yang aku dapat. Sejak Ibu
pergi, Ayah memang murung. Kehilangan pendamping yang tak pernah pisah
membuatnya janggal. Tulang rusuknya tak ada lagi. Aku, hanya pengganti tulang
Nirba nya. Ibu adalah Bidadari Dunianya Ayah. Beberapa bulan setelah Ibu
meninggal, akhirnya aku menikah dengan lelaki yang sholeh, muslim. Ayah
khawatir jika penyakit Ibu menuruniku. Tapi tidak ternyata, setelah setahun
menikah, aku dikaruniai seorang anak laki-laki. Cucu buat Ayah. Sekarang
kehidupanku, merawat Ayah, Suami dan Anak untuk tetap menjaga konsistensi Iman
dan Ilmu untuk Ummat. Diusia Ayah, Ayah masih aktif menjalani pendidikan dan
dakwah. Karena beliau masih sangat dibutuhkan. Kadang aku mengingatkan untuk
menjaga kesehatan. Ia memahami, dan mengatakan bahwa ini adalah ladang pahalaku
kelak.
“ Semoga Allah
menghapus segala kesalahan-kesalahan ku dulu. Dan bertemu dengan Ibu mu di
JannahNya kelak.” Kata Ayah syahdu.
Air mata ku menetes. Mengaminkan. Terharu. Aku
jadi berniat ingin memiliki banyak keturunan untuk jadi pahala jaryah mereka
kelak. Aku juga berniat ingin menjadi seperti Ibu, Bidadari Dunia. beliau
adalah inspirasi terbesarku bersama Ayah. Aku masih ingat Ibu mengatakan,
“What I can
do for my religion, not my religion what do for me”.
“Seindah-indahnya
perhiasan adalah wanita sholehah dan semulia-mulianya lelaki adalah lelaki yang
memuliakan wanita….” ^_^
Komentar
Posting Komentar