CINTA KHADIJAH




Cinta.. begitu terpatri pada sosok sanubari manusia. Tak bisa dipungkiri, hati ‘kan menjelma menjadi madu. Goresan kata-kata tak mengindahkan jiwa yang terpukul dimakan masa. Hingga menetap di relung jingga merana.
Cerita ini tentang sahabat aku yang berani mengambil keputusan pelik, wanita Sholehah, insya Allah, yang ingin mengabdi sebaik mungkin terhadap suaminya. Khadijah Rumaishah, namanya…
 Telah ia berikrar, untuk bisa bekerja sebaik mungkin. Lulusan s2 Ekonomi Syariat dari salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta ini, telah memimpikan tekad untuk menjadi perempuan mandiri. Wanita karir, kata orang dijaman sekarang.
Namun, tatkala semua berubah ketika ia telah bersuami…
***
Pagi itu, ia keluar dari kantor dengan membawa banyak barang. Aku, salah satu sahabat kerjanya, melihat dengan terheran-heran. Ada apa dengan Khadijah, pikirku. Khadijah, dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruangannya. Aku pun mengikuti dari belakang.
“Khadijah…!!” Panggilku.
Khadijah menoleh. Ia berhenti. Mukanya begitu datar, tenang. Tanpa ada reaksi marah ataupun emosi.
“Ada apa, Khadijah? Kenapa membawa semua barang-barangmu?”
“Aku resign, Shanty…” Jawab Khadijah dengan senyuman.
“Haaahh.. resign??? Ada masalah apa, Khadijah? Kok, tiba-tiba??”
Sambil menghela nafas panjang, “ceritanya panjang, San. Kita cari tempat duduk dulu yuuk..!! Sembari barang-barang aku saya taruh di mobil dulu.”
“Oh iya, baiklah.” Aku pun membantu Khadijah membawakan barang-barangnya.
***
Duduklah kami di Kafe kantor. Aku yang begitu penasaran, langsung memesan minuman agar waktunya lebih efisien untuk Khadijah bercerita.
“Jadi, bagaimana kejadiannya, kamu kok bisa resign begitu? Memang, ada masalah ya??”
Sambil tersenyum, Khadijah bercerita “Gak kok. Gak ada masalah sedikitpun. Jadi gini, aku resign tuh karena keinginan aku sendiri. Tidak ada paksaan dari orang lain.”
“ehh, maksudnya?”
“iya, jadi.. aku merasa sejak aku menikah dengan mas Ridho, saya berpikir semuanya akan baik-baik saja. Pekerjaan mas Ridho dan aku sendiri akan terjalin lancar dengan sendirinya. Sama seperti sebelum kami menikah. Tapi ternyata, ini tidak seperti dugaan aku…”
“Emang suami kamu menyuruh kamu berhenti?” Potongku tak sabar.
“Ya ampun, Shan. Kan aku udah bilang, ini tuh kemauan aku sendiri. Mas Ridho tidak menyuruh aku, atau bahkan memaksa aku.” Pekik Khadijah.
“Tapi, ada apa dengan pekerjaan kalian berdua? Ini tidak ada sangkut pautnya dengan suami kamu, kan?” Tanyaku penasaran.
“Gak kok. Hubungannya justru ada pada suami aku. Jadi gini, dari kami berdua, ternyata aku tuh paling banyak menggunakan waktu diluar. Kerjaanku yang sejak pagi hingga malam. Sedang, mas Ridho kerjaannya cuman pagi sampai sore aja. Nah aku, yang selagi kerja ingin bisa mengerjakan sebaik dan seprofesional mungkin, jadi segala tenaga dan pikiran aku curahkan ditempat kerja. Sisa-sisa nya hanya bisa aku tumpahkan sesampainya dirumah. Ketika aku sampai, aku melihat mas Ridho sudah menyiapkan makan malam buat kami berdua. Dengan sabar dan penuh pengertiannya, langsung mengajak kami makan bersama. Aku yang belum sempat ganti baju, dan lain-lain, udah diladeni sama suami seperti ini.” Ucapnya panjang lebar.
“awal-awalnya sih aku tertegun. Lama-lama malah jadi kebiasaan. Sempat tak enak hati sama mas Ridho, namun mas Ridho orangnya pengertian, Alhamdulillah. Jadi begitulah tiap malam.” Sambungnya.
“Lalu, apa masalahnya, kalau emang suami kamu mengerti kondisi kamu?”
“Karena ada satu kejadian yang buat aku sedih. Malu pada diri sendiri. Waktu itu ketika disepertiga malam, aku mendengar isak tangis. Ternyata itu dari mas Ridho. Ia menangis sambil mengaji habis shalat Tahajjud. Aku bangun dan bertanya kenapa mas Ridho nangis. Kata beliau, dia sedih karena bacaan Al-Qur’annya belum lancar, ia minta aku bisa mendampingi terus supaya dia bisa lancar mengajinya. Ia menangis hanya karena tak lancar membaca Al-Qur’an.”
“Emang sebelum nikah, aku tahu dia orang yang tidak banyak tahu tentang agama. Tapi sekarang ia begitu sangat bersungguh-sungguh. Bahkan ia mengatakan kepada aku, agar aku bersabar menerima dia apa adanya. Menerima kekurangannya. Ia tetap ingin agar aku terus mendampinginya”.
“Aku lalu menangis. Malu pada diri sendiri. Dan, mulai berpikir bahwa selama ini waktuku untuk bersamanya selalu sedikit, terkuras dikerjaan. Setiap aku pulang melihat ia menyiapkan makanan, rasanya aku juga telah kehilangan satu pahala untuk melayani suami aku, Shan.” Cerita Khadijah sambil menatapku.
Aku pun mengangguk-angguk mengerti. Mengerti bahwa ia banyak menghabiskan waktu pada pekerjaannya dibanding suaminya. Mengerti betapa mereka saling membutuhkan. Namun, masih ada juga yang belum aku pahami.
“Tapi Khadijah, kalau kamu resign trus ‘gak kerja, kamu mau dirumah aja? Ini kan sudah bukan zaman dulu, kalau perempuan ‘gak harus dirumah terus. Lagian, aku tahu pendapatan kamu lebih banyak dibanding suami kamu. Bagaimana kamu hadapi kebutuhan-kebutuhan kamu, Khadijah?” tanyaku panjang lebar pula.
“ya Allah, Shanty. Aku yakin kok rejeki udah ada yang atur. Makanya aku juga yakin resign. Sebelumnya sih, aku memikirkannya udah lama. Lama aku berpikir untuk memilih yang terbaik. Aku berdo’a diberi petunjuk. Dan, seperti inilah, rasanya aku sudah mantap.”
“Aku menyadari sebagai seorang istri, aku menyibukkan diriku sendiri. Tanpa tahu bahwa suami aku lebih membutuhkan aku. Walaupun pendapatanku lebih besar dibanding mas Ridho, tapi aku yakin rejeki mas Ridho mampu memenuhi kebutuhan kami. Aku juga akan berusaha memprioritaskan kebutuhan dibanding kesenangan dalam berbelanja”.
“Trus, kenapa kamu mau sekolah tinggi-tinggi kalau-kalau jadinya kayak gini, ‘gak kerja?” Tanyaku lagi.
“Kan, kita-kita ini yang akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anak kita. Jadi, untuk menjadi seorang ibu suatu saat nanti, kita juga perlu pendidikan tinggi, kan?”. Jawab Khadijah sumringah.
“Lagian Shan, insya Allah kalau ada kerjaan yang lebih baik, yang tidak menguras waktuku dengan mas Ridho, aku akan tetap bekerja kok!!” Jawabnya senyum.
Heem…. Jadi begitu ya. Pikirku. Setidaknya aku dapat pencerahan dari Khadijah, sahabatku ini. Pemikirannya luar biasa. Tindakan yang ia ambil juga lebih luar biasa. Aku pun malu sendiri dengan keberaniannya.
Jarang wanita di zaman ini mau merelakan pekerjaannya hanya untuk suaminya. Selain itu, cinta Khadijah untuk suaminya patut dijadikan contoh teladan buat kawula istri dan ibu-ibu diluar sana..^_^

12 Maret 2016 (8:18 p.m)
Made in : Ummy Kaltsum Darwis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover