MEDIA INDONESIA




Sedikit-banyak  mau mengkritik..
Pertelivisian Indonesia lagi ‘demam’ kayaknya. Karena rancah politik mulai merasuki system imun media Indonesia. Mulai dari Sinetron sendiri, hanya untuk meraih Rating, harus menayangkan hingga 3 jam. Padahal Sinetronnya pun, kurang Ibrah. Apalagi untuk anak-anak. Anak-anak yang masih TK saja, sudah bisa hafal soundtrack Sinetron tersebut. Belum lagi ngebut2annya, berantemnya, dsb..
Lain hal dengan acara Talkshow yang kadang tak ‘jelas’. Variety Show Pencarian Bakat yang semakin merebak. Ditambah gossip yang menjamur bak jamur. :D
Bahkan, mau nonton berita pun sudah tak bisa dibedakan, mana berita yang penting dan update. Contohnya, berita Jessica-Mirna, yang masih misterius ini terus saja booming. Padahal, pasti banyak berita lain yang tidak kalah heboh. Sebut saja, teroris waktu di Jakarta. Isis. Korupsi. Serta berita Internasional atas negeri-negeri yang tertindas. Seakan, semuanya menutupi berita-berita lainnya.
Walaupun, ada beberapa acara TV yang Alhamdulillah, masih bertahan untuk syiar agama Islam. Yang biasanya marak dibulan Ramadhan, akhirnya bisa bertahan diluar bulan Ramadhan.
Yang perlu dikhawatirkan yaitu untuk Program Anak semakin kurang. Apalagi jika si orang tua memang cuek, atau bahkan ikut nimbrung nonton. Tanpa melihat dedikasi anak terhadap TV. yah, walaupun begitu masih ada flim yang menurutku masih cocok untuk anak-anak, bahkan sangat cocok. Yaitu, Upin-Ipin. Hehe..
Walaupun flim ini dari Malaysia, tapi mendidiknya luar biasa. Masih kalah dengan Indonesia. Yah, semoga aja Indonesia bisa buat kartun mendidik kayak gini. Bukan hanya ingin Rating, tapi pendidikan yang utama. Flim ini juga konsisten untuk mengajarkan anak-anak seperti: menanam dan makan sayur, rajin belajar, saling membantu serta ditambah adegan konyol, menggelitik dan lucu. Bicara Upin-Ipin, ada salah satu sosok yang bisa jadi inspirasi. Yaitu Ismail bin Mail. Hehe.. bukan Mei-Mei atau Susanti. kenapa? Karena karakter Mail disini digambarkan sebagai anak yang mandiri sejak dini. Dia suka menjual ayam goreng dengan istilah “dua singgit”! :D walaupun hampir semuanya, ia ingin jual. Bahwa sosok Mail ini, ia mampu melihat peluang dan mengubahnya menjadi uang. Walaupun jualannya selalu diejek oleh teman-temannya, namun ia tak pernah menyerah dan tetap berjualan.
Nah, berjualan adalah cara halal, dianjurkan dan dilakukan oleh Rasulullah. Namun, sang pengusaha-pengusaha Media Indonesia saat ini sepertinya melenceng. Jika visi dan misinya memberikan informasi ke Masyarakat, iya memang sampai. Tapi hikmah edukasinya, sepertinya, mulai luntur.
Kalau mau dibilang, jadi benci terhadap Media. Tidak juga. Atau tidak suka Nonton, tidak juga. Sayapun suka nonton, nonton flim Korea. Hehe… TAAPIII,, ada yang perlu disaring dan dibatasi. Yang tak perlu dilihat, yang menghabiskan waktu dengan sia-sia, dan informasi yang tak perlu dilihat dan didengar. Anggap saja sebagai pelepas penat, lalu harus kembali dengan aktivitas sebenarnya. Apalagi, sekarang Televisi termasuk fitnah dunia di akhir zaman.
Semoga, kita terhindar dari kesia-siaan dan informasi yang salah sehingga tidak menjadikan kita ‘misscomunication’, terutama untuk anak-anak, penerus Bangsa. Aamiin.
Dan semoga, tulisanku ini dibaca oleh pak Hary Tanoe Sudibyo, pak Chairul Tanjung, Pak Surya Paloh, Pak Ardiansyah Bakrie, Ibu Anindya Bakrie, Pak Eddy Kusnady dan beberapa Pemilik Televisi lainnya. Terutamanya Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hehe…. :D
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah : 2)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover