MEMBACA SUBETNIK




Bergelut sebagai praktisi kesehatan di sebuah Rumah Sakit, memang bukan perkara mudah. Pekerjaan yang tak akan ada habisnya sepanjang masa. Sama halnya dengan Pendidikan, Kesehatan termasuk unsur terpenting dalam mengemban amanah kerja. Berjiwa sosial tinggi dan mempunyai pengetahuan serta skill yang harus kompeten.
Praktisi kesehatan dalam kancah masyarakat dituntun untuk mengetahui segalanya, serba bisa dan sempurna. Karena yang dihadapi adalah ‘nyawa’ seseorang. Jadi otomatis, ‘kami-kami’ yang berusaha untuk terlihat sempurna harus menyakinkan mereka bahwa ‘kami’ tahu tentang ‘itu’ semua.
Baiklah…
Yang ingin saya ceritakan hanyalah kesan-kesan menjadi Praktisi Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit. Terutama saya yang dibagian Apotek.
Membaca subetnik, berarti membaca watak, pikiran serta perasaan seseorang. Dengan begitu, setiap pasien-pasien yang datang kerumah sakit, telah saya ‘baca’ secara tidak sengaja. Mengenal mereka dengan begitu banyak, menjadikan saya lebih kaya untuk mengenal watak seseorang. Layaknya seorang Psikologi, rasanya saya juga dituntun untuk menjadi seseorang Psikologi.
Sejak dulu, saya memang senang mengamati kehidupan. Semacam life observer. Ternyata, fakta di lapangan bahwa sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya, dan begitu banyak orang yang salah dipahami. Di sisi lain, kadang kita sebagai manusia gampang sekali menjatuhkan penilaian, judge minded.
Ada banyak pasien dengan beribu sikapnya. Ada yang keras kepala, sabar, pendiam, penurut, acuh tak acuh, suka mengkritisi, sok tahu, banyak bicara, banyak bertanya, lembut, suka marah, memaksa, dll. Juga segala kondisi keluarga. Ada yang baik-baik saja, ada yang brokenhome, ada yang lari dari rumah, ada yang harus diistimewakan, dll.
Ketika saya dihadapkan dengan seorang pasien yang tak menyenangkan, rasanya… saya tiba-tiba jadi keringat dingin. Ditambah jika dia juga orang yang penuh kritikan. Entah mau lari kemana saya. Tapi, disitulah letak tantangannya. Saya merasa mereka yang mengkritik, memukul saya secara tidak langsung untuk harus tahu lebih. Jadinya, dibelakang saya membuka buku-buku kuliah lagi. Mendebarkan memang, tapi kadang menyenangkan. Jika bertemu dengan pasien-pasien penurut, memang beruntung tapi ‘tak seru. Eitss, bukan berarti saya senang selalu bertemu dengan pasien-pasien kritis seperti mereka, tapi ibarat dari 20 orang cukup 1 atau 2 dari mereka. hehe…
***
Namun, semua sisi selain subetnik ini, yang menjadikan saya betah menghadapi mereka adalah ‘membantu mereka untuk sembuh’. Begitu banyak pasien-pasien dari semua umur dan segala kondisi sakitnya, datang ke kami dan mempercayakan kami. Dan, kepercayaan itulah yang menjadikan  kami lebih percaya diri, kuat, dan bersyukur. Ketika mereka mengeluhkan sakitnya, sebenarnya ia sudah cukup senang karena ada tempat curhat kesakitannya. Dan ketika mereka mengucapkan ‘terima kasih’, mereka juga berharap banyak dengan pelayanan kami ini berhasil untuk sembuh. Kata ‘terima kasih’ dan ‘senyum harap’ mereka menjadikan kami sedikit berhasil atas upaya kami, Insya Allah. Karena Allah, melalui perantaraan kami. Bukan hanya karena pendidikan, pengetahuan dan keterampilan kami. Tapi, sisi sosial itu datang menentramkan kami.
Mereka (para pasien) juga warna buatku. Pengetahuan buatku. Dan semacam laboratorium perilaku pula. Bukan hanya mengaplikasikan ilmu science ku, tapi juga menjadi university of life. Kami, akan terus berupaya belajar, bekerja sebaik mungkin atas amanah mereka, karena Allah….
Kami* : Semua praktisi kesehatan diRumah Sakit dalam berbagai disiplin ilmu.

Barru, 25 Maret 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover