MEDIA : AKLAMASI NON-KEBEBASAN



Media, yang diindikasikan sebagai pembawa informasi tak langsung. Penghubung atas setiap kejadian. Pengantar informasi serta aktualisasi fenomena-fenomena yang terdistribusi langsung ke masyarakat. Begitu besar peran media, terutama di zaman sekarang. Media bukan lagi sarana khusus, privat, atau hanya untuk orang-orang tertentu seperti di zaman Orde Bapak Suharto dulu. Media, sudah menjajaki setiap lini tingkat kehidupan. Masuk ke system saraf masyarakat hingga yang terkecil sekalipun. Menyentuh daerah terpencil bahkan buta huruf sekalipun. Media, media… itulah yang digaung-gaungi masyarakat banyak.
Namun, media saat ini tak bisa diprediksi beritanya. Mereka seakan aklamasi tanpa kebebasan berbicara. Karena politik membumbui setiap sendi. Jika memang masalah uang, saya rasa bukan itu. Pebisnis media lebih cepat perputaran uangnya. Jika masalah nama, mungkin iya. Masalah harkat, martabat dan harga diri. Entah apalah maksudnya. Aku juga tak ingin masuk membahas ini. bukan ahliku. Takut berkomentar, yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah.
Hanya saja, akibat informasi tersebut dan proses antah berantahnya menghasilkan ‘korban’. Korban yang tak bersalah, malah. Bukan hanya itu, untuk keluarganya pun ikut jadi korban perasaan. Secara agama, ini bukan asumsi dalam mencapai harfiah kebaikan. Namun, telah berdampak buruk pada kemaslahatan ummat.
Karena, media. Berita yang tak sesuai, berlebih-lebihan, dan menimbulkan korban yang tak bersalah. Secara kasus, tidak semacam itu konfliknya, namun media membuat ceritanya seakan seperti sinetron. Berlebihan dari fakta, bermajaskan hiperbola.
Jika media ingin menjaga nama baiknya, lalu bagaimana media akan memperbaiki nama baik ‘korban’? korban yang tak bersalah tersebut.
It’s enough…  it’s incredible for people, for us….
Be patient ^^ !!

Barru, 03 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover