Membaca VS Makan
Jika ummat Islam ingin lebih maju, ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu satu hal yang dikurangi dan satu hal yang dilebihkan. Yakni, satu hal makan dikurangi dan satu hal membaca harus dilebihkan. Bukankah surat pertama dalam Al-Qur'an memerintahkan kita untuk membaca! iqra! Bacalah! Allah SWT tidak berfirman: Makanlah! Hal ini menunjukkan perbedaan antara makan dan membaca.
Banyak makan akan membekukan otak, sedangkan banyak membaca akan mengencerkan otak. Apabila gemar makan berlebihan hanya akan menciptakan pribadi berperangai singa. Kalau sedang lapar, singa bisa menjadi sangat buas. Sebaliknya bila kenyang akan menjadi pemalas serta tampak jinak dan acuh tak acuh.
Ironisnya, rakyat negeri ini lebih banyak yang gemar makan berlebih daripada membaca. Urusan perut menjadi prioritas, sedangkan buku yang merupakan gudangnya ilmu dikesampingkan. Demontrasi menuntut turunnya harga sembako terus bergulir, sedangkan demonstrasi menuntut harga buku murah sepertinya sama sekali tidak terpikirkan. Dan, kebijakan politik yang telah dijalankan selama bertahun-tahun di negeri ini adalah bertujuan agar rakyat tenang perutnya harus kenyang. Kalau otaknya encer, dikhawatirkan nanti akan lebih pandai dari pemerintahnya.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah mengalami masa penjajahan selama 250 tahun lamanya. Tidak ada bangsa di muka bumi ini yang mengalami masa penjajahan dalam kurun waktu yang sedemikian lama. Mengapa bangsa Indonesia bisa dijajah selama itu? Politik pecah-belah atau devide et impera yang dijalankan oleh kolonial Belanda mungkin salah satu penyebabnya. Tapi menurut saya, Belanda mungkin salah satu penyebabnya. Tapi menurut penulis, Belanda dapat bercokol demikian lama di persada Nusantara karena mereka menjauhkan anak bangsa dari pendidikan, dari buku.
Hal ini terbukti bahwa hanya anak bangsa terdidiklah yang mempelopori pergerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah kaum berpendidikan yang gemar membaca buku. Mereka adalah pejuang kemerdekaan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, Dr. Cipto Mangunkusumo, M. Natsir, Buya Hamka, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan, sejarah Islam pun telah mencatat bahwa ummat Islam pernah mencapai masa keemasannya karena banyak memproduksi dan membaca buku.
Lain halnya kalau gemar makan berlebih yag justru mendatangkan berbagai penyakit. Karena itu, sangat tepat yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Tidak banyak makan adalah obat, dan lambung adalah tempat bersarangnya penyakit. Biasakanlah setiap anggota tubuh dengan kebiasaannya." (Hadist Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).
Kutip dari buku "Solusi Sehat Islami" oleh dr.Muhammad Suwardi
#Semoga Bermanfaat
Banyak makan akan membekukan otak, sedangkan banyak membaca akan mengencerkan otak. Apabila gemar makan berlebihan hanya akan menciptakan pribadi berperangai singa. Kalau sedang lapar, singa bisa menjadi sangat buas. Sebaliknya bila kenyang akan menjadi pemalas serta tampak jinak dan acuh tak acuh.
Ironisnya, rakyat negeri ini lebih banyak yang gemar makan berlebih daripada membaca. Urusan perut menjadi prioritas, sedangkan buku yang merupakan gudangnya ilmu dikesampingkan. Demontrasi menuntut turunnya harga sembako terus bergulir, sedangkan demonstrasi menuntut harga buku murah sepertinya sama sekali tidak terpikirkan. Dan, kebijakan politik yang telah dijalankan selama bertahun-tahun di negeri ini adalah bertujuan agar rakyat tenang perutnya harus kenyang. Kalau otaknya encer, dikhawatirkan nanti akan lebih pandai dari pemerintahnya.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah mengalami masa penjajahan selama 250 tahun lamanya. Tidak ada bangsa di muka bumi ini yang mengalami masa penjajahan dalam kurun waktu yang sedemikian lama. Mengapa bangsa Indonesia bisa dijajah selama itu? Politik pecah-belah atau devide et impera yang dijalankan oleh kolonial Belanda mungkin salah satu penyebabnya. Tapi menurut saya, Belanda mungkin salah satu penyebabnya. Tapi menurut penulis, Belanda dapat bercokol demikian lama di persada Nusantara karena mereka menjauhkan anak bangsa dari pendidikan, dari buku.
Hal ini terbukti bahwa hanya anak bangsa terdidiklah yang mempelopori pergerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah kaum berpendidikan yang gemar membaca buku. Mereka adalah pejuang kemerdekaan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, Dr. Cipto Mangunkusumo, M. Natsir, Buya Hamka, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan, sejarah Islam pun telah mencatat bahwa ummat Islam pernah mencapai masa keemasannya karena banyak memproduksi dan membaca buku.
Lain halnya kalau gemar makan berlebih yag justru mendatangkan berbagai penyakit. Karena itu, sangat tepat yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Tidak banyak makan adalah obat, dan lambung adalah tempat bersarangnya penyakit. Biasakanlah setiap anggota tubuh dengan kebiasaannya." (Hadist Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).
Kutip dari buku "Solusi Sehat Islami" oleh dr.Muhammad Suwardi
#Semoga Bermanfaat
Komentar
Posting Komentar