MERAYU LANGIT

“usah kau katakan untuk diriku. Namun pening memikirkan kalian. Aku hanya ingin bahagia, membawa angin selatan dan mengajaknya berbincang. Tidak ada cerita lain. Hanya itu dipikiranku. Berkelabat. Penuh arti. Sudah saya haturkan cerita saya pada Ilahi. Hati selalu merayu namun menunduk padaNya. Engkau… yang membisikkan, kubisikkan, bahkan setengah keduanya. Siapakah gerangan? Sang Ilahi menjanjikan scenario yang indah. Untuk bersabar.. bersabar.. bersabar dalam ketaqwaan.”

Itulah sepenggal tulisan milik Nakhla. Wanita melankolis ini selalu bercerita tentang perasaannya. Tangannya tak berhenti mengutak-atik tombol keyboard, sesekali menghapus jika tak sesuai. Hatinya saat itu kacau (istilahnya ‘galau’). Akibat sahabatnya yang memberitahukan info yang sangat penting.

“tak usahlah kau memikirkan Arif. Dia juga belum tentu menyukaimu. Kamu itu sudah menyukainya lebih dari 7 tahun. Namun, dia apa? Tak ada respon sedikitpun.” Tegas Sarah.

Sahabatnya itu memang sangat mengenal Nakhla begitu dekat. Telah 9 tahun bersama membuatnya semakin tak terpisah. Bahkan mereka sering menginap bersama dirumah masing-masing. Sarah memang selalu menasehati seperti itu. Namun, 30 menit yang lalu, ia berjumpa dengan Sarah, dan mengatakan bahwa Juni akan datang dari Bandung pada bulan Oktober dan ingin meminangnya. Hati Nakhla tak karuan. Ia tak begitu tertarik pada Juni. Namun Juni sangat menyukai  Nakhla. Mereka telah berteman sejak SMA dan Juni telah menyukainya sejak SMA pula.

“jika kau dihadapkan dengan Juni dan Arif, siapa yang akan engkau pilih, Nakhla?” Tanya Sarah penasaran.

“tentu Arif, Rah.” Tanpa jeda Nakhla langsung menjawabnya. Ia begitu yakin.

“tapi perasaannya belum pasti, sedang Juni sudah tak diragukan lagi, ia begitu menyukaimu, La.”

“entahlah, Rah. Itu hanya jawabanku. Dari hati.” Jawab Nakhla sedih.

***
Di Bandara, Juni telah dijemput oleh keluarganya. Mereka begitu merindukan Juni. Juni yang gagah dengan balutan baju kaos, celana jeans, tas samping hitam, memakai kacamata hitam sambil mendorong kopernya. Ia memang menawan bagi kaum hawa. Berpikiran maju serta sifatnya yang pantang menyerah, membuat ia berhasil kuliah di Bandung sana. Bagi kaum timur Indonesia, daerah Jawa merupakan tempat elit untuk menimba ilmu. Apalagi setelah kuliah, Juni langsung kerja. Diminati oleh salah satu perusahaan swasta. Dikontrak dengan gaji yang lumayan besar, membuatnya semakin sukses di mata keluarga dan teman-temannya. Tak hanya itu, ia berhasil membeli tanah didaerahnya sendiri yang cukup luas untuk keperluan masa depannya nanti.

Dipeluknya keluarganya. Ia sangat senang bisa berkumpul kembali. Didalam mobil, Juni terus bercerita tentang keadaan orang Bandung, kebiasaannya, tradisi, sampai kerjaannya yang begitu padat. Lalu adiknya, yang sedari duduk dibelakang Juni, menyela.

“lalu, kapan kakak akan menikah? Hehe..” canda Mela dengan senyuman centil.

Semua orang didalam mobil, ayah, ibu, adik yang satunya Robi, tercengang. Pertanyaan itu begitu sensitif bagi para bujang atau gadis yang umurnya sudah cukup untuk menikah. Begitu pula Juni. Ia begitu heran, adiknya tiba-tiba mempertanyakan hal itu. Tapi, bukan Juni namanya jika ia tak bisa menguasai diri.

“hem… kapan yah? Yah pastilah kakak menikah.”

“emang udah punya calon?” ternyata ibu melanjutkan pertanyaan Mela. Ibu pun penasaran. Semua didalam  mobil juga ikut penasaran.

“ya elah, ibu. Bikin malu saja. Haha…”

“ya sudah. Kamu kan sudah mapan. Umur kamu memang masih muda. Tapi, setidaknya ada yang kamu taksirlah jadi menantunya ibu.” Sambil bercanda, namun Ibu juga begitu serius.

Tak menyangka pertanyaan sensitif ini begitu dalam. Ayah juga bertanya. Hanya Robi yang cuek. Memang ia tak begitu senang suasana keluarga. Ia mengganggap dirinya tak penting jika dibanding dengan kakaknya. ia berusia 3 tahun lebih muda dari kakaknya. Sedang Mela masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Tidak tahan dengan suasana seperti itu, Juni pun mengakui.

“iya sih ibu. Ada. Saya menyukai dia dari dulu. Teman SMA, bu. Sifatnya, keanggunannya, kepintarannya, dan akhlaknya. Pokoknya cocok jadi mantu ibu, lah.” Juni berkelakar dengan mantap.

“tapi, bagaimana dia? Kalau sudah serius, laksanakan segera. Kita kerumahnya. Nanti diambil orang, loh.”

“iya maunya sih begitu, bu. Tapi masalahnya, ia belum menyukaiku sepenuhnya, bu.” Lantang jawaban Juni berharap tak ditanya lagi masalah perasaannya ke Nakhla.

Mendengar jawaban Juni tersebut, Ibu beserta Ayah termenung. Diam tanpa kata. Suasana menjadi hening.

***
Namun, di seantero dunia sana, Arif sibuk dengan skripsinya yang belum kelar-kelar. Ia ingin segera menyelesaikannya. Akibat aktifnya diorganisasi, Arif menjadi mahasiswa yang betah lama di kampus. Sebenarnya bukan seperti ini rencananya. Ia juga ingin selesai tepat waktu. Namun, amanah yang selalu diberikan, dan kepercayaan menjabat sebagai pengurus inti, membuat ia susah menyelesaikan studinya. Namun, saat ini ia benar-benar ingin fokus. Ia pun meminta kepada Pembina Forum agar ia tak lagi menjabat amanah apapun. Ia sadar ia salah. Semuanya masih membutuhkannya. Namun, Pembina forum juga mengerti. Ada amanah yang lebih besar dari orang tua kita, yaitu menyelesaikan kuliah. Ia juga tak mau membebankan banyak untuk membiayainya.

Arif, termasuk mahasiswa telaten. Ia berjiwa pemimpin, bertanggung jawab, cerdas, dan begitu memahami agama. Namun, disisi lain kisah hidupnya juga tragis. Orangtuanya telah meninggal dunia. Ia berjuang kuliah melalui beasiswa. Serta saudara lainnya yang masih sekolah diurus oleh saudara ayah dan ibunya. Arif, aktif di Lembaga Dakwah Kampus. Sehingga, mahasiswi-mahasiswi di kampusnya sangat kagum dengan kepribadian Arif. Walaupun wajahnya pas-pasan. Namun ia masih menjadi pusat perhatian.

Salah satunya Nakhla. Nakhla dan Arif tidak pernah satu sekolah bahkan sekampus. Mereka saling mengenal di kegiatan osis. Nakhla mewakili sekolahnya, Arifpun begitu. Dipertemuan selanjutnya, 2 tahun setelah itu, mereka bertemu kembali di acara perlombaan cerdas-cermat antar sekolah yang diadakan oleh Kabupaten. Mereka kembali bertemu. Bersaing. Sekolah Arif menang, dan sekolah Nakhla menempati posisi kedua. Mereka hanya bertemu seperti itu. Namun mereka saling mengenal satu sama lain. Entah bagaimana caranya pula, Nakhla mengetahui nomornya. Lalu meng-sms-inya. Waktu itu lebaran idul Adha. Ia memberi selamat lebaran. Arif pun begitu. Nakhla juga mengetahui nama facebooknya, lalu menambahkan pertemanan dengan Arif. Arif pun menerimanya. Hanya 3 kali mereka saling mengchat satu sama lain.

***
“La, kamu tau kan. Kalau Juni telah datang. Ia menghubungiku kemarin.” Cerita Sarah begitu semangat.

“iya Rah. Aku tahu. Aku melihat statusnya.”

“lalu mengapa kamu begitu murung, La. Hem.. aku mengerti. Kamu di posisi sulit terhadap perasaanmu ini kan?” Sarah mencoba mengerti.

Sambil memegang dahinya, dan menundukkan kepalanya, “kau paling mengertilah, Rah. Bagaimana kalau ia betul-betul serius datang kepadaku. Namun aku tak bisa menerimanya. aku kasihan untuk menolaknya, Rah.”

Dengan kebingungan seperti itu, Nakhla berpuisi untuk dirinya sendiri.
termangu aku dalam pilihan
Menunduk dan merunduk dibawah langit
Mengarungi bahtera bersama dalam Sunnah dan Ibadah
Kubiarkan waktu untuk mengujiku
Kepada Ilahi ku merayu

Sarah kagum dengan puisi tersebut. Dan ia makin kagum karena Nakhla makin pintar bermain kata-kata. Ia mengerti kepada sahabatnya itu. Begitu sulit ia menentukan pilihan. Entah arah mana ia akan menenangkan hati sahabatnya. Pilihan jodoh memang sulit. Sangat sulit sehingga tak ada yang dapat mengalahkan pilihan hati seperti itu. Bukan karena apa, hanya Nakhla tidak menginginkan pacaran dalam hidupnya. Sehingga ia masih bisa memilih dan menentukan siapa yang dapat menjadi imamnya kelak.

Nakhla memang sosok wanita religius. ia hanya ingin menjadi sholehah. Ia ingin dekat pada sang Ilahi. Makanya, ia gemar belajar tentang agama. walaupun ia adalah lulusan pendidikan, namun kecintaan pada agamanya membuat ingin terus belajar dan mengajar. Ia kerap kali mengajar anak-anak sekolah dasar mengaji. Aktif di kegiatan masjid. Dan senang berkumpul dengan ibu-ibu pengajian. Hal ini membuatnya lebih tenang dibandingkan dengan jalan-jalan, belanja, ataupun berleha-leha dirumah. Ia memang akrab bersama mamanya. Selain ayahnya telah meninggal, kedua kakaknya juga telah berkeluarga. Sehingga memilih jodoh membuatnya berpikir keras untuk mendapatkan yang terbaik. Bukan menginginkan kesempurnaan, katanya. Namun, ini masalah hidup yang akan dilewati. Ia hanya ingin pernikahannya hanya sekali seumur hidup. Mengetahui bahwa berumahtangga tidak segampang yang ia kira. Makanya, perlu dikokohkan dengan iman yang kuat. Berdua, bukan salah satunya.

***
Hari itu, Juni ingin berjumpa dengan Nakhla. Tahu bahwa Nakhla tak ingin berduaan, makanya Juni mengajak Sarah. Ia mengajak mereka berdua makan. Sepanjang itu, mereka seakan bercakap serius sekali.

“Juni, kamu serius?” Tanya Sarah. Melirik Nakhla.

“ini sudah ratusan kali. Sejak SMA, kamu tahu kan, Sarah.” Sambil menatap Nakhla

Nakhla seakan terpojok ditempat itu. Entah apa yang ingin ia katakan. Ia gusar. Melihat hal tersebut, Sarah langsung bertanya saja agar Nakhla tak berkeringat dingin seperti itu.

“Nakhla, langsung saja. Bagaimana perasaanmu dengan Juni? Kamu tinggal jawab dengan jujur, dengan hati kamu”.

“aku juga tidak akan meminta banyak, La. Aku menerima keputusanmu.” Timpal Juni.
Dengan hati yang bergejolak, Nakhla menjawab.

“Ma..a..af untuk Juni. Aa..ku sangat menghargai perasaanmu. Sejak lama hingga kini…” rasanya Nakhla tak sanggup melanjutkan.

“…tapi aku belum bisa, belum siap denganmu Juni.” Nakhla tetap dengan prinsipnya. Walaupun ia tak mampu menyakiti hati Juni. Ia sangat menyayangi Juni, sekedar teman. Tak lebih.

“hem.. baiklah. Mungkin kita belum berjodoh saat ini, Nakhla. Semoga. Suatu saat. Kata ‘belum’ itu menandakan bahwa ‘akan jadi’ nantinya. Aku berusaha menunggu, Nakhla.” Kata Juni bijak. Ia selalu bersikap positif untuk Nakhla dan berharap besar. Sarah mengerti posisi ini. ia tak sanggup. Ia bingung menjadi diantara mereka. Mengerti posisi Nakhla dan kagum terhadap Juni.

***
Juni hampir sempurna bagi wanita-wanita yang begitu hanyut akan dunia. Sarah sebenarnya simpatik kepada Juni. Namun, sikap acuh tak acuhnya terhadap agama, serta kelalaiannya terutama shalat, membuatnya empati. Pernah Nakhla menyuruh Juni untuk shalat melalui Sarah, namun kurang digubrisnya. untuk itulah, ia menjadi ragu untuk menerimanya. ia hanya ingin imamnya kelak, dapat membimbing anak-anaknya, terutama shalat. Dan khawatir sifat tersebut tak bisa berubah.

Nakhla memang wanita yang banyak diincar di masanya. Kecantikan, kepintaran, dan keanggunannya membuat teman-teman lelakinya menjadi kagum. Mulai dari beberapa seniornya hingga juniornya pun. Dari sekolah lainpun, ia cukup popular karena kemahirannya. Setiap lelaki akan kagum dengan kepribadiannya. Bahkan teman sejak SMPnya, Randi masih menyukainya. Tetapi, sejak Randi tahu Nakhla tidak menginginkan pacaran, ia menjadi hanyut sendiri dan akhirnya ia pacaran dengan seorang wanita, dan akan segera menikah. Yang beda, karena Nakhla begitu menjaga dirinya dari lelaki, namun tidak menutup diri dengan pergaulan. Nakhla selalu berpikir bahwa masa muda baiknya disibukkan dengan kegiatan positif, berkarya dan berprestasi. Tidak dengan huru-hara pacaran dan gaya hidup berlebih.

Setelah beberapa hari, Juni kembali ke Bandung. Ia memang masih menginginkan Nakhla. Namun, ia ingin focus bekerja. Ia menargetkan ingin mempunyai rumah dan penghasilan yang mapan sebelum melamar Nakhla. Ia mengatakan hal tersebut kepada keluarganya. Keluarga pun mendukungnya.

***
Setelah setahun, sudah tak terdengar kabar dari Juni. Nakhla dan Sarah tetap dengan kesibukannya. Bekerja dan mengajar. Mereka juga aktif mengajar adik-adik pinggiran yang tak dapat bersekolah. Nakhla juga masih aktif mengajar mengaji di salah satu TPA dekat rumahnya. Hari itu, setelah mengajar, tiba-tiba salah satu orang tua muridnya mengajak Nakhla berbincang,

“de Nakhla, maaf ya sebelumnya. gini, kakak punya keponakan. Kakak menceritakan perihal tentang kamu. Dia memang lagi mencari jodoh. Selain dirinya, pekerjaannya menuntut segera menikah karena pekerjaan pemerintahan dan ia cukup penting disana. Setelah saya menceritakan tentang kamu, dek, ia tertarik dan mau berkenalan. Jadi bagaimana, boleh dek?”

Nakhla kaget bukan kepalang. Apalagi setelah mendengar bahwa keponakan ibu ini ternyata orangnya cukup religius. Aktif bahkan sampai sekarang untuk melakukan pengajian. Mentarbiyahkan dirinya. Berarti, agamanya baik. Pikirnya.

Setelah pembicaraan itu. Nakhla selalu memikirkan hal tersebut. Entah kenapa ia tak bisa begitu tenang. Hatinya tak karuan. Terutama hatinya masih sangat menginginkan Arif. Lelaki itu selain beragama baik, juga berakhlak baik, dan mapan. Lelaki itu ingin berkenalan. Bagusnya, melalui adik perempuannya. Hal seperti inilah yang ia inginkan. Tidak langsung berdua yang komunikasi, namun ada perantara. Itulah ajaran Islam. Batinnya.

Setelah berhari-hari, ia saling mengenal melalui adik perempuannya. Ia mulai suka. Lelaki ini menyatakan ingin menikahinya, dan setelah melalui pemikiran yang pelik. Akhirnya, Nakhla menerimanya. ia membandingkan dengan Arif dan Juni. Arif adalah sosok lelaki yang ia cintai karena agamanya. Juni, karena kesetiaan cintanya padanya tak pernah putus. Lalu, lelaki yang bernama Ridha ini, memiliki keduanya. Agamanya serta rasa cinta kepadanya. Ia hanya ingin semoga Ridha mencintai dia karena Allah. Allah menjodohkan wanita yang bersabar dengan lelaki yang bersabar. Allah menjodohkan sesuai dengan pribadinya masing-masing. Itulah janjiNya.

Tak yakin akan Arif, maka Nakhla pun menikah dengan Ridha. Juni, yang telah mengetahui kabar ini begitu sedih tak karuan. Hatinya terasa hancur. Wanita yang ia sangat idamkan, yang masih ada harapan telah diambil orang. apalagi orang itu baru mengenal Nakhla. Entah mengapa, ia marah pada Nakhla. Namun lambat laun ia sadar. Dan menerima bahwa Nakhla bukan jodohnya.

***
Arif, mengenal Nakhla sebelum Nakhla mengenal dirinya. Karena kepopuleran Nakhla dalam berorganisasi diluar sekolah, sehingga sejak SMP, setiap kegiatan luar sekolah Arif pasti ketemu Nakhla. Dari situ pula ia memperhatikan Nakhla. Ia kagum karena Nakhla yang sekolah tak berpesantren namun dapat menjaga dirinya dari pengaruh lelaki. Arif yang hidup dipesantren sejak masih masih SMP, yang dibina oleh ayahnya, membuatnya menjaga diri terutama wanita. Ayahnya lalu menyekolahkannya di negeri Turki. Sejak kepergian ayahnya, Arif begitu serius. Arif sadar, ia harus sungguh-sungguh demi kepentingan orang banyak, kepentingan ummat nantinya, terutama pesantrennya.

Sejak Nakhla mengetahui nomornya, dan pernah meng-sms-inya, jiwa manusianya datang. Ia begitu senang bukan kepalang. Naluri. Perasaannya. Telah terpaut. Dan disitulah ia yakin bahwa Nakhla juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Namun, ia merasa sangat bersalah kepada Nakhla karena sikapnya yang dingin. Sebenarnya ia bisa lebih, tapi ia ingin menjaga Nakhla. Menjaga agar hubungannya tidak diganggu oleh Syaitan. Arif merasa ingin menjaga kesucian hubungannya seperti Fatimah dan Ali, sehingga Syaitan pun tak akan mengetahuinya. Arif merasa yakin. Dia juga berjanji akan segera menyelesaikan kuliah secepatnya agar bisa meminang Nakhla dan mengatakan rasa bersalahnya selama ini. namun, ia berpikir bagaimana jika Nakhla telah menikah dengan lelaki lain, ah.. tak sanggup ia untuk memikirkannya karena pasti sangat sedih. Tapi, jiwa Arif lebih tegar dibanding Juni. Karena ingin berusaha ikhlas didepan sang Khalik. Arif hanya belum tahu keadaan Nakhla sekarang.

Setelah beberapa bulan, akhirnya Arif selesai. Ia telah mendapatkan gelar Lc dibelakang namanya. Sebagai sarjana Sejarah Islam. Ingin segera ia balik ke Indonesia. Selain rindu dengan keluarganya dan menziarahi makam orangtuanya, ia juga ingin segera mencari Nakhla dan mengkhitbahnya.

“waktu telah menguji
Waktu sendiri menjawab
Dan waktu akan memperlihatkan hasilnya bagi yang bersabar”



Ditulis, 14 Agustus 2015 jam 08.20 pm.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover