MISTERI MUSIM DESEMBER
Desember adalah kelabu. Bulan akhir tahun. Menandakan
tahun akan berganti lagi. Dan, bergantinya tahun nanti, ingin rasanya juga diri
bertransformasi layaknya tahun. Seandainya, Desember itu adalah diriku, aku
ingin mengabarkan untuk tahun baru nanti, aku berjanji untuk menjadi pribadi
yang lebih baik lagi. Tahun ini sudah cukup membosankan buatku. Aku ingin ada
perubahan, berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah agama dan orang
tua, selamanya.
***
“Tilam, kamu sudah membujang sebanyak 7 kali lebaran
setelah kamu wisuda. Tak ada kah wanita yang kau taksir untuk kau persunting?”
Pertanyaan Ibu itu merusak selera makanku di waktu pagi
ini. Lembut tapi menusuk. Ibuku termasuk wanita penyabar namun sekali
berbicara, sangat pas dihati. Dan, baru kali ini Beliau menanyakan hal sensitif
seperti itu. Sebenarnya buka kali pertama, hanya saja Beliau terlihat lebih
serius.
“Kalau kamu tak punya, tak apa-apa. Kalau mau, Ibu sama
Abi bisa carikan jodoh buatmu. Yang pasti sholehah, tuh Til.”
Sholehah? Ibu mempertegas dengan kata sholehah. Entah
aku menjadi bangga sendiri sekaligus ciut sendiri. Memang ada wanita sholehah
yang mau seperti aku?. Tapi Ibu begitu antusias mencarikan jodoh buatku. Aku
tersipu malu.
***
Sebenarnya, dalam benakku paling dalam, sering aku
memikirkan untuk pernikahan. Memang diusia mapan dan sudah bekerja seperti aku
sudah saatnya untuk menyempurnakan separuh agama tersebut. Tapi entah kenapa,
hatiku kadang maju mundur tak yakin. Bukan karena aku tak siap, namun menemukan
yang pas dihati itu yang sulit.
Aku, tipe orang yang sulit jatuh cinta. Entah kenapa.
Lelaki semacam aku bisa hidup normal. Jika dikata, aku punya banyak teman
perempuan. Tapi itu tadi, tak ada yang pas dihati. Seperti Ibuku memberi petuah
yang pas dihati. Seperti itu hatiku, petuah Ibuku lebih membuat hatiku jatuh.
Sejak SMA, yang kata orang tempatnya masa-masa remaja yang indah, namun bagiku
biasa saja. Di waktu itu, aku hanya bisa mengagumi seseorang, hanya itu. Tak
sampai jatuh cinta pada seseorang. Makanya, sampai sekarang aku tak pernah
merasakan pacaran. Alhamdulillah, aku dapat menjaga diri dari zina tersebut.
***
Pagi itu aku berangkat kerja seperti biasa. Lelaki
bujang dewasa seperti aku masih tinggal bersama orang tua dan kedua adik
perempuanku. Kedua adik perempuanku itu, kujaga dengan sebaik mungkin. Kadang,
aku yang sering mengikuti pengajian, juga sering mengajak Ningsih dan Sindy.
Aku hanya berharap, mereka berdua menjadi wanita sholehah yang dapat menjaga
diri sebaik mungkin. Tahukah bahwa menjaga perempuan 10 kali lebih sulit dari
menjaga lelaki.
Didikan orang tua pulalah yang membuatku begitu kuat
dalam menjaga iman dan adab. Beliau berdua memang menopang kami dalam agama
sejak dini. Sehingga membuat kami sadar pentingnya menjaga diri. Cuman satu hal
didalam diriku, aku belum tertarik pada perempuan sehingga aku yang telah
dewasa ini belum menemukan jodoh yang pas. Sempat Ningsih dan Sindy
memperkenalkan aku dengan teman-temannya, namun aku masih belum mau.
***
Aku bekerja di perusahaan telekomunikasi. Dan baru kali
ini aku mendapat kerja di lapangan. Sehingga aku harus keluar kota bersama lima
rekan lainnya. Di Banten. Penempatannya bukan sehari, tapi seminggu. Otomatis,
aku harus segera mempersiapkan diri.
Setelah di Banten, kami harus tinggal di sebuah desa.
Dan hanya ada satu penginapan disana. Cukup terpencil dan kecil. Tapi masih
strategis. Daerah pedesaan memang membuat kami sangat adem. Jauh dari kota dan
tiba-tiba tinggal di daerah tropis seperti ini membuat diriku merasakan sari
pati kehidupan. Membuatku berpikir, semakin berpikir jernih. Dan, mulai
merasakan sensasi kesendirian. Kesendirian bahwa selama ini aku tak mencari
dambaan hati. Hanya menunggu dan berharap. Bohong jika jiwaku tak kosong.
Bahwa, aku juga butuh sesosok pendamping dalam hidupku. Dalam menjalankan
Sunnah dan mengabdi bersama untuk sang Rabb.
Burung-burung senja bersahutan, bersahabat dengan cagar.
Lalu lalang mengabarkan keindahan alam dan berdzikir kepada sang Maha Pencipta.
Sungguh indah ciptaanmu, ya Allah. Dan biarkan semua dengan skenario Allah.
Keyakinan untuk mendekatkan diri dalam kebaikan dan niat untuk menjalankan
ibadah akan Allah permudah, pasti. Yakinku dalam batin.
Didekat penginapan kami ada sebuah masjid. Masjidnya
masih terlihat tradisional. Sangat sederhana namun cukup menampung puluhan
masyarakat. Aku dan rekan lainnya menuju ke masjid untuk shalat Magrib
berjama’ah. Setelah shalat Magrib, aku melihat anak-anak berhamburan rapi
mengambil bangku -semacam meja kecil- lalu duduk santun dan mulai meletakkan
Al-Qur’an diatas bangku tersebut. Mereka sepertinya berjumlah puluhan anak.
Duduk membentuk halaqah, tanpa aba-aba. Seakan mereka sudah dididik begitu kuat
oleh guru mengajinya.
Lalu, datanglah sesosok wanita ke tengah-tengah mereka.
Duduk bersila dan menyapa mereka. menyuruh untuk mengucapkan salam dan berdo’a.
Begitu khusyuk. Wajah wanita itu begitu tenang dan lembut. Suaranya pun lembut
menggema. Menggetarkan hati bagi yang mendengar. Seolah, aku tak sadar bahwa
aku bukan memperhatikan anak-anaknya, namun guru mengajinya. Wanita tersebut.
Hatiku tiba-tiba berdesir. Seumur hidup, aku baru
merasakan getaran gelombang sekuat ini. Getaran ini sama seperti aku mengagumi
seseorang sewaktu SMA. Tapi, ini lebih kuat. Gelombangnya seakan ingin mengubah
alunan nada. Entah, bagaimana aku berpikir untuk menggambarkan hati yang bisa dikatakan
‘jatuh cinta’. Untuk menghadapinya pun aku tak yakin tentang rasa ini.
Sepulang dari masjid, pikiranku terus terpusat kejadian
itu. Wajah wanita itu terus terbayang-bayang tak karuan. Sehingga setiap habis
magrib, sering aku sengaja pulang agak lama hanya untuk melihat sosoknya lagi.
Entah, rasa ini mengalahkan imanku. Aku juga bertabiat manusia biasa. Tapi, aku
meredam rasa ini agar tak jatuh lebih dalam, semakin dalam.
Beberapa hari kemudian, akhirnya kami akan segera pulang
ke Jakarta. Malam terakhir tersebut, aku lebih lama di masjid. Untuk melihat
sosoknya yang terakhir kali. Aku memang tidak mengajaknya kenalan, atau bahkan
meminta nomornya, dsb. Karena aku ingin tetap menjaga diriku dan dirinya. Bukan
karena aku lelaki yang kelihatan pecundang, namun aku lebih takut pada sang
Rabb ku. Walaupun kadang syaitan datang mengganggu, mengusik pikiran jernihku.
Kami akhirnya pulang. Sesampai dirumah, entah kenapa
rasa rindu menyelimutiku. Rindu karena tak melihat sosoknya. Sungguh, ini belum
halal. Tapi begitu mengganggu. Dan kadang begitu indah. Aku terus berdo’a, agar
dapat dipertemukan kembali. Jika memang baik untuk agama kami berdua, semoga
dijodohkan. Pintaku, tak sangka. Aku betul-betul jatuh. Jatuh cinta, akhirnya.
Kepada sosok wanita desa sederhana itu. Guru mengaji tersebut.
Dirumah aku semakin pendiam. Ibu semakin khawatir.
“Tilam, Ibu sudah menemukan jodoh yang tepat
buatmu. Ini anak teman Abi mu, lho..
Insya Allah, shalehah kok”.
Aku memandang ibu, kaget dengan ucapannya. Berbicara
kepadaku dan tersenyum harap. Jika Ibu membicarakan ini, dulunya aku pasrah
dengan pilihan Ibu dan Abi. Namun, akhir-akhir ini, entah kenapa wanita itu
mengganggu pikiranku dan berharap banyak kepadanya. Sekali lagi, karena rasa
itu sulit. Sulit menemukan dambaan yang berani bersikap mengambil hati. Aku tak
tahu, apa aku siap mengambil keputusan Ibu dan Abi. Padahal aku sangat penurut
terhadap mereka.
Bismillah. Ridho Allah bersama Ridho orang tua. Aku
ikhlas. Akhirnya, aku sekeluarga akan pergi melamar wanita pilihan Abi dan Ibu.
Sungguh berat rasanya melepas dambaan hati. Lama kami diperjalanan, ternyata
kami masuk di daerah Banten. Aku terkesiap, mengingat wanita itu lagi didaerah
ini. Jangan-jangan dia, atau jangan-jangan teman wanita tersebut. Pikirku.
Tapi, persentasenya sangat kecil jika memang wanita tersebut. Banten sangat
luas, dan banyak wanita disini.
Sampailah kami di daerah yang tidak terlalu desa
kelihatannya. Aku bisa memperkirakan bahwa bukan wanita itu. Karena ia tidak
berada di daerah ini. Kami sekeluarga masuk, dan disambut dengan antusias
keluarganya yang hangat. Aku akhirnya deg-degan juga menunggu calonku itu. Lama
akhirnya kami menunggu. Akhirnya calonku itu disuruh keluar. Dan, ini pertama
kalinya aku akan bertemu dengannya. Aku deg-degan. Walau masih mengingat wanita
dambaanku, bahwa aku tak bisa bertemu dengan dia lagi.
Aku menunduk. Malu juga. Semakin lama ia semakin
mendekat diruang tamu. Membawa beberapa minuman dan makanan ringan. Aku hanya
bisa merasakan geraknya. Dan, ia mulai berbicara.
“Silahkan diminum..”
Lembut. Tiba-tiba aku mengenal suara itu… aku mengangkat
kepalaku. Daan, aku terperanjat. Ternyata calonku itu adalah wanita dambaanku
selama ini. Allahu Akbar. Skenario Allah begitu indah, hingga aku pun
tak menyangka seindah ini. Ia tersenyum kepadaku, aku pun larut tersenyum
padanya. Maryam, namanya. Calon istriku kelak.
Dan, kepasrahan hati pada sang Khalik akan membawa
keberkahan tiada tara. Rasa syukurku pada sang Ilahi membawa temali kasih kami
pada pelipur lara penantian. Hingga menjadi ibadah yang indah dan akan kami
arungi menuju SyurgaNya kelak. Akhirnya, kami akan menikah di tahun baru. Sudah
ku azzamkan diri ditahun baru akan menjadi pribadi lebih baik, bersamanya. Dan
dibulan Desember ini menjadi misteri musim yang terpecahkan.
Ya Rabb, rengkuh kami dalam menjalani mahligai
kebahagiaan ini. Semoga bersama do’a-do’a para khalayak undangan agar dapat
Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. ^_^
Barru, 27 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar