RAMADHAN BERSEMI


            Telah datang pada kita bulan Ramadhan, musim kebaikan, musim penggandaan ganjaran dan pemberian hadiah besar-besaran, dibukakannya pintu-pintu kebaikan. Bulan diturunkannya Al-Qur’an, didalamnya petunjuk, penerangan ummat manusia. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda, “Ummatku diberi lima keutamaan dalam bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada satu umat dari umat-umat sebelumnya, (yaitu) bau mulut yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT dari minyak misk, para malaikat meminta pengampunan untuk mereka sampai mereka berbuka, Allah SWT menghiasi SyurgaNya pada setiap hari dan berkata, ‘Nyaris saja hamba-hambaKu yang shalih meletakkan beban dan keletihan dan berangkat menujumu (Syurga’). Dibelenggu syaithan yang pembangkang sehingga mereka tidak dapat ditipu seperti hari yang lainnya, dan diampunkan untuk mereka pada setiap akhir malam.’ Dikatakan (kepada Rasulullah SAW), ‘Apakah waktu itu malam Lailatul Qadr?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, akan tetapi seorang pekerja dilunasi upahnya ketika pekerjaannya telah selesai.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Al-Baihaqi dan Abusy Syaikh).
            Ada beberapa hal yang dapat dilakukan selama bulan Ramadhan, yaitu :
1.   Bulan Melatih Ibadah
Sebagaimana orang yang belum pandai berenang, lalu ia melatihnya dengan cara yang benar, setelah ia dapat berenang sedikit demi sedikit, maka timbullah kebahagiaan dan kepuasan. Dalam ibadah juga begitu, setelah ia mengerti, ia coba pula untuk beribadah sedikit demi sedikit, ketika ia telah mengecapnya, dia tambah lagi dan ia tingkatkan terus, sampai ia merasakan dan meresapi manisnya.
Karennya, orang yang mempunyai kemauan yang kuat berlomba-lomba mendapatkannya, orang-orang yang bermental tinggi berpacu untuk meraihnya, orang-orang yang kuat keyakinannya menghabiskan waktu dan umur untuk mencapainya.
Belajar ibadah dan belajar beragama dengan baik, sesuai dengan anjuran para nabi dan Rasul, harus mengikuti dua hal:  Pertama, ibadah zhahir, yaitu perintah Allah SWT dan RasulNya dari pengajaran Islam yang dilakukan oleh anggota badan yang zhahir. Kedua, ibadaha bathin, yaitu memakmurkan qalbu dengan rasa takut, harap dan cinta kepada Allah SWT. Bergaul dengan Allah SWT dengan mengetahui tempat-tempat cinta atau murkaNya, berhubungan denganNya dengan mengetahui waktu-waktu dan keadaan yang ia sukai dan ia benci. Itulah ilmu tentang ma’rifat kepada Allah.
Moment Ramadhan ini adalah kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan ibadah kita, ibadah zhahir dan ibadah bathin hingga diluar bulan Ramadhan pula.
2.   Bulan Derma dan Berbuat Baik
Adalah Rasulullah SAW orang yang paling berani dan paling dermawan, terlebih paa hari-hari Ramadhan. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra, berkata, “Adalah Rasulullah SAW manusia yang paling dermawan, beliau lebih dermawan lagi ketika hari Ramadhan, ketika Jibril menjumpainya setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu Beliau mengulang Al-Qur’an dengannya,” Beliau (yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas) berkata, “Rasulullah SAW tatkala ditemani oleh jibril lebih dermawan dari angin lepas.” (HR. Bukhari & Muslim).
Bukankah Rasul kita yang mulia telah bersabda, “Tidak akan kurang, harta seseorang dengan bersedekah.” Orang yang telah ditaqdirkan kaya dia tetap kaya, sekalipun dia bersedekah dengan seluruh hartanya, Abu Bakar ra, berapa kali ia telah berinfaq dengan seluruh hartanya, akan tetapi dia tetap menjadi saudagar kaya di kalangan sahabat, ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra, hijrah menuju Madinah meninggalkan semua hartanya di Mekkah, tidak berselang masa, beliau juga menjadi saudagar kaya di Madinah, begitu juga Ustman bin Affan ra, dan lainnya.
Hanya saja kita butuh belajar, bagaimana dermawan sebagaimana mereka dermawan, di bawah ini poin-poin penting untuk bisa dijadikan materi pelajaran tentang kedermawanan:
-       Meyakini bahwa Allah SWT yang memberi harta dan yang menahannya, Dia memberi kekayaan kepada seseorang, sebagaimana Dia memberi kemiskinan kepada seseorang, bahwa kaya dan miskin adalah bejana kehidupan yang harus diisi dengan ibadah syukur dan sabar.
-       Meyakini bahwa yang kita dermakan itulah yang untuk kita, sedangkan yang lainnya adalah hisab atau adzab, semuanya fana, yang kekal hanya kebaikan.
-       Belajar mendermawankan diri, sehingga kedermawanan tersebut menjadi sifat dan tabiat asli.
-       Allah SWT memelihara sedekah seperti seseorang memelihara tanamannya, banyak ibadah yang dilakukan seorang hamba hanya menjadi simpanan yang tidak pernah berkembang, berbeda dengan sedekah, ia tumbuh dibawah pengawasan Allah SWT.
-       Bersedekah dengn hati yang ikhlas, karena Allah SWT menimbang beratnya sedekah sesuai denga keikhlasan hati, dan bermain dengan hati dalam sedekah mempunyai banyak pengaruh dan keajaiban dikehidupan dunia sebelum akhirat.
-       Setidaknya bujuklah hati tersebut untuk bisa bersedekah, dengan sabda nabi SAW yang mulia, dari Abu Hurairah ra, “Seseorang datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Belia bersabda, “Engkau bersedekah, sedangkan engkau dalam keadaan sehat dan kikir, takut kefakiran dan berharap kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3.   Bulan Al-Qur’an
Allah SWT turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadhan, pada malam lailatul qadr, sehingga Allah SWT mempertemukan semua kumpulan yang terbaik. Berkumpullah semua yang termulia pada waktu yang sama, Al-Qur’an, Rasulullah SAW, Jibril as, Ramadhan dan Lailatul Qadr. Untuk menerangkan kepada manusia bahwa yang diturunkan tersebut bukanlah perkara biasa, karena dialah petunjuk, dialah Al-Furqan (Pembeda antara yang haq dari yang bathil), penawar semua penyakit, dan rahmat kasih-sayang. Telah Dia atur semua yang termulia untuk menyambut Al-Qur’an tersebut.
Rasulullah SAW mengulang hafalan beliau kepada Jibril, satu kali tamat pada setiap malam Ramadhan. Ketika bulan Ramadhan yang beliau wafat (pada setelahnya) beliau setor hafalannya kepada Jibril sebanyak dua kali. Dan begitu pula yang diperbuat oleh para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Adalah Imam Az-Zuhri ra, berkata, “Sesungguhnya Ramadhan, yang diperbuat adalah membaca Al-Qur’an dan memberi makan.”
Ini Imam Malik ra, ketika datang Ramadhan, beliau tinggalkan majlis hadist dan pengajian, lalu fokus kepada Al-Qur’an dengan membacanya di Mushaf.
Imam Qatadah ra, menamatkan Al-Qur’an tujuh hari sekali, dalam Ramadhan tiga hari sekali dan akhir Ramadhan satu kali sehari.
Membaca Al-Qur’an terbagi menjadi dua hal: Pertama, membaca secara makna, yaitu membenarkan semua yang dikabarkan didalamnya dan menunaikan semua perintah yang terkandung di dalamnya. Kedua, membaca secara lafazh, dan nash tentang keutamaan membaca Al-Qur’an baik membacanya secara keseluruhan, sebagian ayatnya atau sebagian surahnya. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita cinta Al-Qur’an dan menunjuki kita jalan keselamatan. Aamiin.
4.   Bulan Jihad dan Hawa Nafsu
Sebagian ulama berkata, “Allah SWT menciptakan malaikat berakal tanpa syahwat, dan mencipta binatang bersyahwat tanpa akal, dan Allah SWT ciptakan manusia dengan keduanya. Siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik dari malaikat dan siapa yang hawa nafsunya mengalahkan akalnya, maka dia lebih burk dari binatang.”
Derajat manusia di sisi Allah SWT tergantung sejauh mana ia menyelisihi hawa nafsunya. Allah SWT berfirman:
“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan hawa nafsunya, sesungguhnya Syurga menjadi tempatnya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu, penyebab penyelewengan dan sesat dari jalan, Allah SWT berfirman:
“Janganlah engkau menjadikan hawa nafsu, niscaya engkau akan tergelincir dari jalanNya, sesungguhnya orang yang sesat dari jalanNya bagi mereka adzab yang pedih, disebabkan mereka melupakan hari hisab.” (QS. Shad: 26).
Manusia dalam melawan hawa nafsunya terbagi tiga golongan:
-       Dia takluk dibawah kekuasaan hawa nafsu, ia menawan dan membelenggunya, itulah keadaan mayoritas manusia, dan merekalah yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai raja atau tuhannya.
-       Peperangan berimbang, antaranya dengan hawa nafsu, kadang-kadang ia mengalahkannya, akan tetapi tidak jarang pula hawa nafsu mengalahkannya. Sekiranya ia menemui ajalnya dalam pertempuran ini, maka ia menjadi sebagai seorang mujahid di jalan Allah SWT, wafatnya akan terpuji dengan mendapat gelar syahid fi sabilillah.
-       Ia kalahkan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya telah menjadi tawanan buat selamanya, ia tidak pernah terkalahkan. Inilah kedudukan yang sangat tinggi, kenikmatan yang segera dan kemerdekaan mutlak dari penjajahan hawa nafsu dan syaithan.
Berjihad melawan hawa nafsu adalah membiasakan diri dengan amal shalih dan berupaya untuk membersihkan jiwa dari penyakit hawa nafsu serta mengisi waktu dengan kebaikan, karena badan jika tidak disibukkan dengan kebaikan dan amal shalih, maka ia akan disibukkan dengan keburukan dan amal thalih. Dan cara membersihkan jiwa adalah membiasakan diri dengan perbuatan yag shalih, sehingga ia terbiasa dengan perbuatan tersebut karena sering diulang-ulang, sehingga lambat laun menjadi tabiat yang mudah ia berbuat kebaikan tersebut.
5.   Bulan Puasa dan Ikhlas
Siapa yang ingin beribadah dengan baik, maka mulailah dengan berdo’a, dan barangsiapa yang ingin belajar keikhlasan maka mulailah dengan puasa. Karena setiap kali muslim berdo’a, berarti ia telah menggabungkan dua rukun ibadah, yaitu pengagungan kepada Allah SWT dan penghinaan diri. Sedangkan ikhlas dalam puasa, bahwa setiap muslim yang berpuasa, ia tinggalkan makan dan minum hanya karena takut puasanya rusak dan batal.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan mengharapkan (pahala dari Allah), maka diampunkan baginya yang telah berlalu dari dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Secara bahasa, ikhlas maknanya murni dan bersih dari hal yang mengotorinya. Secara istilah, menyiangi amal dari semak yang mengotorinya. Porosnya motivasi untuk mengerjakan sesuatu yaitu melaksanakan perintah Allah SWT tanpa dikotori oleh bisikan jiwa, seperti mencari perhatian orang, memperoleh pujian, atau sekedar untuk lari dari celaan, atau mengharapkan penghormatan orang, harta, pelayanan, cinta, penunaian kebutuhan dari yang lainnya. Intinya, semua keinginan dalam beramal dengan tujuan selain Allah SWT, apapun bentuknya.
Jadi, ikhlas adalah penyerahan diri dan beramal hanya kepada Allah SWT.
“Mereka tidaklah diperintahkan kecuali mengibadahi Allah dengan ikhlas, dalam tunduk patuh dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Yusuf bin Husain ra, berkata, “Yang paling berharga di dunia adalah ikhlas, berapa kali aku mengupayakan untuk membuang riya’ dari qalbuku, lalu ia tumbuh dalam bentuk tanaman lain.
Berkata ahli hikmah, ilmu adalah benih, amal adalah tanamannya, sedangkan ikhlas adalah airnya.
6.   Bulan Silaturrahim
Nabi SAW bersabda, “Orang yang mengasihi manusia, akan dikasihi oleh Allah SWT. Rahmatilah yang di bumi, niscaya kamu akan dirahmati oleh Dzat yang di langit.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad).
“Barangsiapa yang menghilangkan duka dari duka seorang mukmin didunia, maka Allah SWT akan menghilangkan duka citanya di akherat. Dan barangsiapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah SWT akan menutup aibnya di akherat. Allah SWT akan selalu menolong hambaNya, selagi hamba menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Silaturrahim adalah pedang Allah SWT di bumi, siapa yang menggunakannya dengan baik, maka ia akan beruntung. Silaturrahim adalah sarana untuk memanjangkan umur dan melancarkan rizqi, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” (Muttafaqun ‘alaih).
Orang yang paling berhak dijalin tali rahim dengannya adalah kedua orang tua. Lalu setelahnya kerabat dan famili dari orang tua, paman, bibi, anak-anaknya dan seterusnya dan juga setelah itu sahabat dan kawan karibnya.
Ramadhan ini adalah momen yang sangat penting untuk kembali menghitung untung-rugi, jadikanlah Ramadhan ini menjadi hari kasih sayang. Sungguh, merupakan kejadian yang sangat haru, ketika seorang menjadikan bulan ini, hari ia datang kepada orang tuanya untuk kembali pulang berkhidmat?! Mengakui segala alpa dan kelalaiannya selama ini, dalam pengasuhan terhadap mereka.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita taufiq dan ‘inayahNya dalam mengerjakan amal shalih.

Barru, 22 Mei 2016
*Kutip dari buku Bersemilah Ramadhan oleh Ust. Armen Halim Naro*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover