TETRALOGI SAHABAT
Jika
hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka
pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah
cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel tersebut. Relativitasnya
berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang
melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya
bersifat sama dan absolut, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong-ini
pendapat Eisntein-maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun
sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada
seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain.
Banyak
orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang
pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak
mutiara dan mutiara dalam hidup itu adalah mengenal sosok-sosok kalian.
Ini
bermula ketika kita masih berusia belasan. Dengan comelnya dan apiknya, mencoba
menemukan jati diri. Saling memperlihatkan kemampuan dan kehidupan
masing-masing. Tapi tak pernah sungkan untuk selalu bertegur sapa.
Kita
dipertemukan disekolah yang mungkin sebagian dari kita, tak menginginkan
bersekolah disitu. Namun, Allah berkehendak lain. Dia memberikan kebahagiaan
dengan cara yang beda. Sekolah dengan ukuran sederhana, kelas yang harusnya
jadi laboratorium, bahkan menjadi ‘korban banjir’ jika mendadak musim hujan. Dan
dengan satu jenis olahraga tiap minggunya. Unik tapi real.
Awalnya
kita memang sering meminta hak sebagai siswa, hak untuk fasilitas yang lengkap,
hak belajar dengan baik, hak agar dapat seperti sekolah-sekolah maju, dan
sebagainya… tapi, akhirnya kita menerima lapang dada. Juga semangat dari
seorang guru “bukan sekolahnya yang membuat siswanya sukses, tapi dari
pribadinya”. Mozaik itu tertanam kuat, membuat kita bergerak dengan langkah
pasti, bahwa kita bisaa…
Begitu
banyak kenangan indah. Bermula muncul sosok ‘ahli sejarah’ menggantikan guru,
berdebat tiada henti, diskusi inggris yang di ‘wah’kan oleh kelas lain bahkan
kelas senior, tak mau kalah untuk maju ke papantulis. Juga
perkembangan-perkembangan sekolah dari mantan ketua osis, perubahan positif
dari mantan ketua kelas, hingga juara-juara yang memang menjadi impian bersama.
Serta ide-ide cerdik untuk selalu memperlihatkan kegiatan siswa bukan hanya
didalam sekolah, namun untuk sekolah lainnya.
Lain
hal dengan situasi kelas kita tercinta. Tak ada yang serame’ dan segokil kita. Sifat
amburadul namun saintis. Kocak tapi andalan. Temperamen tapi bersahaja. Kita
selalu merasa senang ke sekolah, karena kebersamaan ini. Tapi tetap saja, bumbu
persahabatan kita tak bisa menghindari pertengkaran. Ada saja masalah. Namun
hebatnya, kita mampu saling berbagi, menyelesaikannya bersama. Tidak
menghindari pertemanan ini.
Masih
ingat dengan pribadi-pribadi kita yang berwarna? Ada yang egois tapi jiwanya
sangat pemimpin. Keras kepala tapi sangat setia dalam pertemanan. Plin-plan
tapi dipercaya. Sangat pendiam tapi suka menolong. Suka marah tapi paling
menghibur kesepian. Suka ngambek tapi paling mengerti style kita. Suka
mengganggu tapi paling peduli. Dll… tak perlu saya sebut siapa dia. (merasa
sendiri saja naa.. :D) Terlalu banyak pribadi seru. Dan itu kita….
Eh
tau gak sihh… Sudah lebih satu dekade usia persahabatan ini, tapi kalian….
begitu-begitu saja. (maksudnya.. sifat kalian tak berubah, masih sama seperti
waktu pertama bertemu.. waah, kayak lagu. Hihi). Tapi memang, ada sudah
berpuluhan tahun. yang udah berteman sejak Tsanawiyah (SMP) pasti ngerasa
bangett. Sampai hal-hal terkecil kita sudah bukan rahasia lagi. Sampai kita
sendiri bosan, ketemu itu-itu saja. haha… (nda’ bosan ja sebenarnya). Mungkin
juga, orang tua kita jadi bersahabat karena anak-anaknya.. :D
Omong-omong
orang tua, kita jadi tahu banyak hal untuk semua kehidupan sosial kita. Semua
rumah sudah jadi bahan silaturahim. Bahkan sebagian udah jadi tempat nginep.
(heem, yang pasti untuk perempuan, dirumah perempuan, begitu pula sebaliknya).
Tak ada rumah, yang kita tak tahu alamatnya. Hingga bagaimana kondisi keluarga,
tak lupa kita selalu sharing. Tak ada rasa minder maupun gengsi.
Heem…
tak terasa ya.. Alhamdulillah, kita masih diberi umur panjang untuk bisa selalu
bersama-sama. Selepas masa putih-abuabu tersebut, kita telah jalan
sendiri-sendiri. Mengarungi kehidupan dan impian sebenarnya. Ciyee… dan hal
wajib yaitu setiap habis lebaran harus kumpul. Dimanapun.. bahkan masih tetap
silaturahim ke guru-guru dan mantan sekolah. Ketika kita bersama, kita
melupakan siapa kita. Entah ada yang kuliah atau tidak, kerja atau tidak,
jurusan yang beda atau tidak, kita ‘melepas’ sejenak semua itu. Menganggap diri
kita adalah satu, sahabat yang tak perlu ada perbedaan.
Sekarang..
kalian bukan sekedar sahabat. Tapi semacam keluarga. Setiap ada kegiatan,
masalah, bahkan urusan pekerjaan sekalipun. Kita saling mencari. Kita saling
memberi solusi. Karena sebuah kepercayaan. Biasanya, sahabat itu hanya beberapa
orang saja. Tapi, kita ini banyak. Namun masih saja kompak. Alhamdulillah..
Jika
flashback kembali, bagaimana kita berjuang untuk sebuah pendidikan.
Amatlah dapat menjadi cerita ‘laskar pelangi kedua’. Tapi, yang saya tulis
hanya tetralogy sementara, kawan. Belum sedetail-detailnya proses. Setidaknya
aku salut dapat mengenal sosok kalian yang tangguh. Berjuang meraih impian
setahap demi setahap. Karena, kehidupan tak semulus ‘mereka-mereka’. Kehidupan
meraih pendidikan tinggi, harus dicapai dengan kerja keras, kegigihan, dan
semangat yang tak pernah padam.
Merasakan
bekerja sambil kuliah, hampir setiap kita melakukannya. Karena sebagian sudah
berpengalaman kerja sewaktu sekolah. Belum lagi, sebagian menjadi tulang
punggung keluarga. Setiap hari memeras pikiran agar dapat membayar SPP. Belum
lagi timpang tindih yang silih berganti.
Alhamdulillah,
semuanya telah kita rasakan, dalam kemenangan manis yang gilang-gemilang dan
kekalahan getir yang paling memalukan, tapi selangkah kita tak mundur, tak
pernah. Kita jatuh, bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi. Hingga nasib
membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.
Nowdays,
kita sudah jauh karena jarak. Kesibukan juga menjarah waktu bersama. Itu karena
kalian sedang mempersiapkan kesuksesan yang berbeda. Irfan yang di Australia.
Perjuangan dapat beasiswa, jadi inspirasi… (udah jadi kayak sok bule, hehe). Rahmat,
calon ahli hukum, enterpreneur sejati bersama istrinya, (Mat, semenjak nikah
kamu belum pulang2 ke Sulawesi. Ditunggu traktir lagi :D). Yaah, satu kebiasaan
yang mutlak, saling traktir, kawan.. Hendra, yang diantah berantah
bersama pabriknya, berjuang ditengah hutan bede’. Haha.. Aan dan Ishak
yang berjuang di Makassar. Jadi karyawan yang bijak yaa.. Anto, jadi
guru Bahasa Arab dan Salman jadi
guru olahraga yang professional ya.. (yang selalu bawa juara satu volley, tuh
dirimu). Arwin, yang paling semangat kerja dan kuliah. Paling rajin juga
tanya kabar kita satu-persatu. Akbar, karyawan di perusahaan minyak
nih.. udah punya bisnis ‘kedai sahabat’ yang dirintis sama jum dan rina.
Salutnya, mereka tak pernah minta modal sama orangtua masing-masing. Berjuang
sendiri, bantuan modalpun, dari salah satu sahabat kita. Nihh kan, buktinya
sahabat. Semuanya bekerja dari nol, dari bawah.
Naah,
yang ceweknya juga punya impian tinggi. Ulfa, perawat yang beralih menjadi
pegawai Telkom di Makassar ini, juga menjadikan caranya agar tidak menyusahkan
orangtua. Apapun jalan profesinya yang penting … kerja dan halal. :D Rina,
ibu guru yang centil ini juga berjuang dengan nama barunya, enterpreneur. Jumriah,
yang juga berjuang kebeberapa daerah dan pekerjaan, akhirnya berlabuh ke Barru
dengan profesi bisnisnya. Hasma, cita-citanya sebagai perawat yang baik,
(yaah..harus baik), suka banget mengobati orang (bahkan sejak sekolah), udah
kerja di Kalimantan. (jarang sekali ketemu sama kamu hasma,, teman bangkuku dua
tahun). Nasrah, manusia paling cerdas intelektualnya. Satu2nya
sainganku. Haha.. tapi kita tak pernah saling mengancamji’. “kamu memang harus
kuliah, sayang banget otakmu” kata salah satu guru, ukhti.. Pekerjaan di
kelurahan memang melelahkan, dan proses kuliah yang menyesakkan. Ukh, keterbatasan
yang dimiliki harus segera dilawan… together can be reach !! Yang lain, yang
udah nikah nih, Arida dan Mursida. Dua sejoli profesi kesehatan
ini memang tak bisa dipisahkan. Bahkan jadwal nikahnya hanya berselang beberapa
hari saja. Jadi ibu-ibu yang sholehah ya, agar membentuk anak yang
sholeh-sholehah. J
oya, kemana asmawati mansyur si ibu guru, Ayu Soraya dan Rosmawati
?? semoga kalian baik-baik saja.. :D . satu lagi, papi Ibe… teman
seperjuangan dalam segala lini. Hehe.. semangat dakwah Al-Qur’annya. Kami
tunggu di Barru agar pesantrennya juga bisa rilis di Barru. Kembangkan juga
kampung sendiri. Dan aku, tetap berpijak di kampung tercinta, bersama
keluarga dan masih bergelut dengan obat-obatan. J
Okey..
here it is. Ini ceritaku, bersama sahabat-sahabat tercinta.
Sebenarnya, ini tidaklah cukup untuk menceritakan semuanya. Ini hanya permulaan
kecil, jika dibanding kenangan yang sebenarnya. Tapi, kami masih belum apa-apa.
Belum menjadi ‘sesuatu’, dan masih ‘kecil’. Hanya saja, aku ingin dunia tahu
ada pribadi-pribadi seperti kalian. Yang melewati kehidupan keras melebihi usia
sebenarnya. Kalian adalah asset yang harus dipertahankan. Kalian harus menjadi
bukti konkret pembangunan daerah dimasa depan. Walaupun ada beberapa teman kita
diluar sana, yang mengambil peran dengan jalan yang tidak halal. Tapi, kita
harus tetap berada pada kebenaran. Tidak korupsi. Jujur. Amanah pada pekerjaan.
Dan satu hal paling penting, dimanapun berada.. jangan lupa ibadahnyaa yaa…. :D
this is just the world, afterday is more important, right?? J
Dan…
kedewasaan ini telah mengajarkan kita banyak hal, kawan. Karena.. kalian luar
biasaaa……. !!!!
Seorang
wanita shalehah, Hafsah binti Sirrin berkata, “Wahai pemuda, bekerjalah!
Masa muda adalah masa untuk bekerja dan berkarya.”
“Sesungguhnya
di antara dosa-dosa itu ada dosa yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan
shalat.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dapat menghapusnya, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Bersusah payah dalam mencari nafkah.”
(HR. Bukhari)
Barru,
03 Mei 2016
*cerita
untuk persahabatan yang sudah lebih satu dekade*
Nb:
Please
komen atau kritik dan saran mo’. Butuhka’ kritikan untuk tulisanku ini. kalau
nda’ bisa, cukup tersenyum simpul sambil terharu. Paling simple mi’ itu. Hehe…
(Maksanya…)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusterharuka sista ummi... miss u so much... ^ ^
BalasHapus