CAKRAWALA KEHIDUPAN
Ada beberapa kejadian kecil yang
mungkin kadang kita tak menyadarinya. Berada dekat di sekeliling kita. Hingga beberapa
orang tak meliriknya. Karena itu hanya sedetik kejadian yang tak berharga. Namun
beda denganku. Justru kejadian yang tak butuh semenit, dapat membuka cakrawala
kehidupan lagi, buatku.
Kejadian
itu bermula ketika, bersama teman-teman Kurir Langit sedang menjajaki rumah
suatu pasien. Bukan pasiennya karena tentunya teman-teman menyadari hal
tersebut. Bukan pula keadaan tempat tinggalnya. Namun sesuatu yang tak pernah terlintas
di pikiran mereka, maybe. Hanya saja, entah aku mendapat telepati tentang
seseorang tersebut.
Ketika
aku berjalan pulang dari rumah pasien tersebut, setelah melewati jembatan yang
cukup curam, aku mendapati sesosok pemuda yang sedang mengikat karung. Karungnya
berisi tumpukan-tumpukan padi. Di hadapannya ada tiga karung. Sepertinya akan
segera diangkut. Ia menundukkan kepalanya ketika kami juga melewati jalan yang
ia tempati berdiri. Tanpa sengaja, aku meliriknya. Hanya berselang beberapa
detik. Tapi entah kenapa itu cukup mengganggu pikiranku.
Dalam
perjalanan pulang, entah mungkin hanya perasaanku saja atau aku terlalu terobsesi
pada keadaan sekitar desa, bahwa aku merasa ia malu. Maybe.. Malu pada dirinya,
malu tak dapat menjadi bagian dari kami atau malu pada keadaannya. Ia sosok
yang masih muda kelihatannya. Mungkin, seusia denganku atau dibawahku.
Sifat
seperti itu bagiku adalah manusiawi. Tidak bisa dipersalahkan atau
disinggungkan. Karena malu juga adalah ibadah. Hanya saja, malu pada keadaan
itu tidak perlu dipermasalahkan. Tapi sekali lagi, saya paham saja.
Saya
jadi dapat mengambil Ibrah bahwa sosok anak muda ini yang ketika ia malu pada
dirinya terhadap kami, sebenarnya ia juga ingin melakukan hal seperti kami. Hanya
saja, segala keterbatasan disekitarnya menjadikan ia hanya seperti itu-itu
saja. Mungkin saja ia adalah anak muda yang pintar, tapi keterbatasan ekonomi
ia tak dapat melanjutkan pendidikan. Mungkin saja ia adalah anak yang rajin dan
penurut sehingga ia dengan terpaksa membantu perekonomian keluarganya. Dan mungkin
saja ia mempunyai cita-cita besar namun terpaksa pula menelan dalam-dalam
impian tersebut karena begitu banyak keadaan yang tak memungkinkannya.
Justru
saya juga malu, ketika rasa tak bersyukur dan mengeluh itu menghampiri. Sedang
ada teman diluar sana, jauh dari perkotaan, tinggal di desa begitu terpencil,
juga ingin merasakan hal yang sama pada kami. Bukan hanya ia, tapi pasti masih
banyak lagi seperti dia...
Barru, 18 Juni 2016
Komentar
Posting Komentar