GIVING IT, BE BETTER
Sebenarnya, tak ada niat apapun. Hanya sebuah iseng belaka, ingin
membagi ilmu dan pengalaman. Namun ternyata, kenyataannya berbalik arah. Malah
dengan langkah kami ini, membuka pikiran dan hati kami. Anak-anak yang kami
ajar, malah mengajari kami lewat semangat dan kegigihannya menuntut ilmu. Kami
hanya mengira, dengan kursus 2 bulan ini, akan menjadi biasa-biasa saja. Kami
mengajarinya, dan mereka selesai. Tapi ternyata kami salah. Justru, dengan
kegiatan kursus yang tanpa arah sebelumnya, membuat kami menemukan kebahagiaan
tersendiri. Karena ditengah kejenuhan kami bekerja, kami dapat tertawa lepas,
marah, bersama anak-anak polos itu. Kami semakin akrab dan semakin merindukan.
Hanya seorang anak-anak belaka, belum mengerti kebersamaan yang sebenarnya.
Tapi, aku sangat sayang mereka.
Hm, kursus ini mengantarkan
aku tentang arti hidup. Bahwa, apa yang aku miliki sekarang, apapun itu, aku
akan terus membagi apa yang aku punya. Agar ilmu ini tak mati. Biar tak
dibayar, terasa ikhlas, terasa senang gemilang.
Kami, Nasrah, Rina, Uni dan Arwin. Akhirnya, mereka mau berbagi
bersamaku menerima ide konyol yang fantastis ini. Mengajar kursus Bahasa
Inggris, dengan fasilitas yang ada. Tanpa bayar. And, menikmati kebersamaan
yang lebih dalam dengan rekreasi di Ujung Batu dan perpisahan di Bojo. Semuanya
terangkum menjadi satu.
Satu hal yang ingin aku katakan dan kami buktikan bahwa, kami bukan
anak pejabat, materi kami tidaklah banyak. Justru kami hidup dengan cekikan
tunjangan hidup yang semakin menghimpit. Tapi, kalau kami harus menunggu
untuk kaya raya, kapan datangnya?
Maka dari itu, dimulai hari ini. Karena, ada satu hal yang tidak
bisa dibeli dengan uang yaitu ilmu dan kepintaran. Alhamdulillah, kami punya
itu. Dan kami menyadari untuk berbagi dengan hal tersebut. Sedang, banyak anak
muda seusia kami tak mau dan tidak mempunyai pemikiran seperti ini. Ada anak
muda yang mempunyai ilmunya, tapi tak mau berbagi atau acuh untuk berbagi.
Jika keadaan seperti ini, maka bangsa Indonesia akan stagnan tanpa
ada kemajuan.
Namun, disetiap sesi kami mengajar, rasa letih, keluh kesah selalu
keluar di setiap perbincangan kami. Yah, itulah anak-anak. Kami hanya bergumam
seperti itu. Ada rasa ingin selesai, dan tak ingin melanjutkan lagi. Namun,
anak-anak ini terus membuat kami selalu ingin maju.
Jujur, aku bukanlah seorang sarjana guru yang memang ditakdirkan untuk menjadi
guru, begitu halnya semua pengajar kecuali Rina. Belajar bersabar dan memahami
karakter anak didik. Tapi, semenjak kami mengajar, semuanya mengalir saja.
Memahami setiap langkah dan sifat mereka satu persatu.
Satu hal lagi, perjuangan anak-anak untuk mengikuti kursus ini
memang harus kami apresiasikan. Bagaimana tidak, kursus dimulai jam 03.30,
namun mereka paling cepat datang jam 2. Bahkan di hari jum’at, mereka shalat
jumat di masjid dekat rumah. Tak ingin terlambat. Saya masih ingin tidur siang,
mereka telah datang membangunkan saya. Satu anak, namanya akram. Dia rela jalan
kaki karena tak punya biaya naik pete-pete, dari rumahnya di Sumpang Palae ke
rumahku di Mattirowalie. Sekitar 5 kilo pulang-pergi. Sampai, di malam
perpisahan katanya ia tak bisa pergi karena tidak mempunyai biaya. Saya sama
nasrah pun kerumahnya dan bertemu dengan kakekknya waktu jam 9 malam,
menjelaskan agar ia bisa pergi tanpa biaya. Dan tentu saja, dengan bumbu
kata-kata yang tak mengarah kesana. Malam itu, terima kasih didin J. Didin, lengkapnya Amiruddin, jadi kebanggaan dan kesenangan karena
ia sempat menangis diantara perpisahan kami. Wah, so sweet banget didin.
Adnan, anak yang sok cool dan pendiam ini, gitarnya telah rusak
akibat jatuh di rekreasi Ujung Batu. Kami, pengajarnya pun merasa tak enak.
Makanya uang kursus dialihkan untuk membelikan gitar yang baru. So, gitar itu
akan ia kenang menjadi gitar kursusnya. Yusril, bagiku ia paling gagah diantara
yang lain. Paling gagah dan mau jadi ustads ini, #gak nyangka, diam-diam sms
miss Rinanya. Tapi malah ngasih kado ke saya.. hihi.. jadi malu yusril. Kisah
si kembar, abrar dan asrar, yang akhirnya ketemu di tempat kursus. Mereka
dianggap sepupu, namun padahal
aslinya saudara kembar. Dipisahkan oleh orang dewasa.
Entah bagaimana. Namun kisahnya telah masuk di kursus kami. Mereka telah lama
dipisahkan oleh ibunya. Abrar tinggal dengan ibunya, sedang asrar diambil oleh
pamannya. Aku tidak tahu, bagaimana menjadi ibunya. Sesedih bagaimana ia. Kalau
lagi ketemu, mereka berdua selalu bersama dan sulit dijauhkan. Sampai kisah nur
ainun dengan nurmusidah, yang telah berseteru dengan ibu mereka masing-masing.
Aduh, untuk masalah ini. Kami, saya dan nasrah harus kerumahnya untuk
menjelaskan duduk perkaranya. Kami hanya tidak mau, persahabatan mereka berdua
tidak direstui bersama-sama. Kami hanya tidak mau, sebab perpisahan kursus ini
malah menjadi perpisahan untuk mereka berdua juga. Untuk itulah, kami merasa
harus menjadi pengajar yang bertanggung jawab. Dan, kesibukan-kesibukan
anak-anak lainnya. Yang akhirnya, mereka memilih untuk ke kursus kami dibanding
kegiatan mereka lainnya.
Terima kasih banyak, adik-adikku tersayang. I will always miss you all
forever.
Terima kasih telah menjadi inspirasi kami, untuk terus berbagi ke
adik-adik lainnya. Terima kasih karena kau memperlihatkan semangatmu tanpa kamu
sadari bahwa kamilah yang mendapat pengajaran berharga. Bukan kalian. Ternyata,
dengan anak-anak, dengan dunianya, kami yang dewasa malah banyak belajar.
syukran kabira J
Nb: insya Allah, kami akan memperjuangkan kursus ini. Dan angkatan I
inilah yang paling berkesan, sangat berkesan.
Dibuat : ummy kaltsum
Habis perpisahan di Bojo, 30.12.2014
*Ini tulisan tempoe doeloe, hehe... tahun 2014. Tulisanku masih perlu direnovasi :)*
Komentar
Posting Komentar