PRINSIP DASAR SEORANG PEMIMPIN
Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari beberapa pemimpin dunia,
termasuk Indonesia. Dan kali ini pemimpin yang menginspirasi adalah Bapak
Baharuddin Jusuf Habibie..
Beliau cukup mengilhami dari segala sisi. Sisi spiritual serta
intelektualitas beliau. Selain itu, kehidupannya bersama istrinya dan
anak-anaknya, sangat banyak menginspirasi masyarakat.
Kali ini, aku belajar dari sosok pikiran beliau. Sikap pemimpin serta sikap
teguhnya pada prinsip pada perjuangannya untuk orang banyak. Karya nyata beliau
patut diapresiasi.
Ada lima prinsip yang beliau utarakan di Pertemuan pertamanya di ICMI
(Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) sehingga mengangkat beliau menjadi Ketua
Dewan pertama ditahun 1990, sehingga menjadi rumusan penting dalam irama
kehidupan. Dikutip dalam buku beliau "Habibie-Ainun", Yaitu :
- Pertama, kualitas
berpikir
- Kedua, kualitas bekerja.
Baik kualitas berpikir maupun kualitas bekerja, erat kaitannya dengan
produktivitas bekerja. Berpikir dan bekerja adalah satu dengan yang lain
berhubungan. Bukankah orang yang bekerja itu harus berpikir? Bagaimanapun
orang bekerja harus berpikir? Bagaimana keduanya dapat melaksanakan pekerjaannya
sesuai dengan peraturan yang berlaku, supaya apa yang dilaksanakan sesuai
dengan harapan.
- Ketiga, meningkatkan kualitas
berkarya. Ada perbedaan orang bekerja, sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku dan orang yang berkarya, yang mengembangkan
pemikiran-pemikiran baru dan kalau perlu, merubah peraturan-peraturan yang
berlaku. Dengan sasaran strategi dirubah yang mampu meningkatkan taraf
kualitas kehidupan dari manusia itu sendiri. Hanya manusia sajalah, yang
dapat berpikir, bekerja dan berkarya. Hanya manusia, yang dapat
meningkatkan kualitasnya sepanjang masa. Tahapan demi tahapan dari
kualitas kehidupan manusia.
- Keempat, adala meningkatkan kualitas
iman dan taqwa atau saya singkat kualitas (Imtaq), sekaligus meningkatkan
kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Itu harus
dilakukan dalam satu tarikan nafas. Saya selalu mengatakan, bagaikan suatu
pesawat terbang, sayap kirinya adalah Imtaq sedangkan sayap kanannya
adalah penguasaan Iptek. Jikalau anda, hanya sepihak saja, maka akan susah
dikendalikan. Ibarat pesawat terbang tidak akan berfungsi jika hanya
menggunakan satu sayap. Pesawat itu akan terus berputar dan jatuh!
Dua-duanya harus seimbang. Manusia sepanjang masa tidak boleh berhenti
untuk meningkatkan Imtaq yang harus seimbang Iptek. Yang dihadapi sekarang
adalah dominasi dari Iptek atas beban pengorbanan kualitas Imtaq. Karena
itu, kehidupan di Bumi mengalami "krisis nilai" atau crisis
of value. Krisis nilai moral dan etika yang mengakibatkan
manusia-manusia yang berada di mana pun, apakah sebagai kepala keluarga,
kepala cabang perusahaan dan bahkan sampai sebagai Presiden, kalau tidak
hati-hati dan hanya melihat keuntungan Iptek dan keuntungan ekonomisnya
saja, menghalalkan semua cara untuk mendapatkan sesuatu, maka aka
membahayakan implementasi dalam arti keadilan yang tidak dapat dilepaskan
dari etik dan nilai-nilai moral.
- Kelima, sebagai akibat
dari keempat prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya, insya Allah,
akan menghasilkan kualitas kehidupan di Indonesia terus meningkat, yang
akan dipenuhi oleh inspirasi para cendekiawan, khususnya cendekiawanan
muslim se-Indonesia. Inspirasi ini akan senantiasa berkembang agar dapat
meningkatkan kualitas kehidupannya sehingga terjamin kualitas ketentraman
dan keadilan di bumi pertiwi yang kita cintai.
Barru, 14
Juni 2016 (17.42 p.m)
Komentar
Posting Komentar