INDONESIA & AL-QUR’AN


   Layaknya obat antibiotika, ada yang bersifat bakterisid dan juga bakteriostatik. Indonesia pun juga begitu. Memiliki dua sisi yang perlu dibanggakan dan diperbarui. Jika berkaca dengan negara-negara maju, seperti negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Korean, dll, sangat malulah ketika mereka telah menerapkan konsep-konsep Islami secara tak langsung yaitu berupa Islamnya yang hanif. Walaupun masyarakatnya mayoritas non-muslim.

     Hal sekecil saja, pemandangan yang tidak pernah dijumpai di Indonesia, bahkan negara muslim lainnya seperti Mesir dan Arab Saudi. Ketika sebuah bus umum di beberapa negara maju yang begitu ramah kepada penumpang yang difabel. Penumpang yang memerlukan bantuan khusus. Itu sangat Islami.

     Kita ummat Islam tahu konsep agar membantu saudara kita. Di dalam Al-Qur’an dan hadits ada ajarannya. Tapi dalam praktiknya, sistem kita, bahkan di negara-negara Islam belum mendesain segalanya, termasuk sistem transportasinya untuk benar-benar membantu orang lain. Di Indonesia, pejalan kaki harus sangat hati-hati menyeberang jalan kalau tidak ingin nyawanya melayang. Di Eropa dan negara-negara maju, pejalan kaki adalah raja.

    Untuk mengejar ketertinggalan, ini kerja peradaban. Secara konsep, peradaban Islam tidak ada tandingannya. Masalahnya bahwa umat sudah sedemikian dijauhkan dari ruh Al-Qur’an dan sunnah. Apa yang diinginkan William Ewart Gladstone itu kini terjadi.

     Beberapa tahun sebelum Perang Dunia I, perdana menteri Inggris saat itu yaitu William Ewart Gladstone pernah terang-terangan berkata kepada media Inggris, ‘Selama kaum Muslim memiliki Al-Qur’an, kita tidak akan bisa menundukkan mereka. Kita harus mengambilnya dari mereka, menjauhkan mereka dari Al-Qur’an, atau membuat mereka kehilangan rasa cinta kepada kitab suci mereka ini’.

     Dan ucapan Gladstone itu kini terjadi. Umat Islam sibuk menjadikan Al-Qur’an sebagai aksesoris saja. Aksesoris untuk hiasan rumahnya. Ayat Al-Qur’an ditulis dalam kaligrafi dengan tinta emas, dibeli dengan harga mahal, tapi yang punya rumah tidak tahu maknanya, apalagi mengamalkannya. Al-Qur’an dijadikan aksesoris sebagai bagian seremonial pembukaan sebuah sekolah, tapi sekolah itu nantinya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Atau peresmian sebuah gedung pertemuan, tapi gedung itu juga dijadikan tempat menggelar musik-musik maksiat.

     Al-Qur’an begitu fasih dilantunkan seorang biduanita yang sering tampil telanjang. Padahal Al-Qur’an melarang perempuan membuka auratnya. Ya, inilah realita umat kita di dunia Islam saat ini. Sementara sebagian ulamanya, dikatakan sebagian, berarti bukan semua, katakanlah itu oknum. Sebagian mereka sibuk menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengecam dan mengafirkan saudaranya yang lain. Al-Qur’an dijadikan sebagai palu untuk memukul saudaranya sendiri.

     Sebagian yang lain, hanya sibuk menganjurkan membaca ayat-ayat tertentu saja untuk penglaris, dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Sebagian ada yang memilih-milih saja membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Ada yang hanya memilih ayat-ayat tawassul saja. Siang malam itu yang jadi pokok perhatiannya. Sebagian ada yang hanya sibuk bagaimana bisa jadi juara melantunkan Al-Qur’an dengan indah. Bahkan ada semacam mafia agar menang maka diatur pindah KTP ke provinsi tertentu supaya bisa bertanding tingkat nasional. Senaif itu tujuannya membaca Al-Qur’an.

     Karenanya kita tidak akan heran, ketika ada sedikit usaha saja agar Al-Qur’an diterapkan secara praktik di masyarakat, misalnya ada pemerintah daerah mau membuat peraturan kewajiban berjilbab bagi Muslimah, terjadi penolakan. Mirisnya justru pertama kali menentang adalah orang-orang yang mengaku ngerti agama Islam. Nanti alasannya, tidak toleransilah, ayatnya multitafsir, jilbab tidak wajib, ini dan itu, banyak sekali. Padahal itu peraturan hanya untuk umat penduduk yang beragama Islam.

     Ketika ada sekelompok anak muda membuat gerakan antiminuman keras, aneh sekali ada suara sinis justru datang dari kalangan tokoh Islam. Ini kan sudah di luar kewajaran. Di negara-negara maju saja, namanya minuman keras itu dibatasi. Tidak dijual di minimarket-minimarket umum. Yang mau beli, lihat ID card-nya, sudah berumur apa belum? Di negara mayoritas penduduknya muslim, yang kitab sucinya mengharamkan minuman keras, malah dijual dimana-mana.

    Namun, ada pula sisi yang menggembirakan, yaitu mulai banyaknya ma’had tahfidz di Indonesia. Beberapa sekolah sudah menuntut siswanya untuk menghafal satu juz, dua juz. Alhamdulillah, itu tentu fenomena yang patut kita syukuri. Namun tidak boleh berhenti di situ. Al-Qur’an harus dikembalikan lagi ke dada umat. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sebagai petunjuk. Sebagai nasehat dari Allah SWT. Harus dikembalikan seperti ketika Al-Qur’an bersarang di dada rakyat Aceh tatkala menghadapi Belanda. Ketika ayat-ayat jihad dibaca, itu menggerakkan syaraf-syaraf mereja untuk membela agama Allah, membela nusa dan bangsa. Al-Qur’an dikembalikan lagi seperti tatkala Al-Qur’an bersemayam dalam jiwa Kyai Hasyim Asy’ari, yang sedikit pun tak mau berdiri dan rukuk menghadap matahari dengan alasan apapun. Sebab Al-Qur’an melarang menyembah apa pun selain Allah.

     Al-Qur’an dikembalikan lagi ke akal pikiran umat ini, seperti Al-Qur’an menyinari akal dan pikiran Kyai Ahmad Dahlan yang tidak rela melihat ketimpangan sosial di tengah-tengah umat. Karena Al-Qur’an mengajarkan keadilan sosial.

    Kemukjizatan Al-Qur’an yang dirasakan oleh umat akan membuat umat ini terangkat derajatnya di atas umat-umat lain, jika Al-Qur’an diimani seluruhnya, tidak pilih-pilih. Lalu dipahami, dihayati, dan diamalkan, dengan konsekuen dan istiqamah.

“Semoga Allah selalu membuka pikiran untuk hidayah dan ilmu...”

     Tapi ada beberapa hal yang membuat kita harus bersyukur hidup di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, yaitu sentuhan islami mereka dalam hal kekeluargaan.

     Orang-orang tua renta mereka banyak yang kesepian. Itu fenomena hampir di semua negara yang dianggap maju, yang tidak ada sentuhan ajaran Islam. Kalau Indonesia yang mayoritasnya muslim, berbakti kepada orang tua sangat penting. Di Indonesia, di desa-desa, nenek-nenek, dan kakek-kakek hidup tenteram bersama anak-anak dan cucu-cucunya yang penuh perhatian. Jika sakit, satu kampung menjenguk semua karena masih saudara. Itu fenomena yang tidak bisa ditemukan secara umum di Eropa, Amerika, Australian, Selandia Baru, Jepang, Taiwan, dan Hongkong.

     Di negara-negara maju, banyak orang lebih suka pada anjingnya, karena anjing dianggap setia menungguinya dan menemaninya sampai tua. Kalau anak sendiri, ketika ibu atau ayahnya sudah tua, banyak yang diletakkan di panti jompo agar tidak merepotkan.

     Yang berasal dari tradisi Islam biasanya sangat kuat dalam hal birrul walidain dan ikatan kekeluargaan. Tidak hanya di Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Maroko, Turki dan sebagainya, meskipun di Eropa, ikatan kekeluargaannya lebih terasa dibandingkan yang asli Eropa. Budaya cuek dan tidak perhatian terhadap orangtua itu salah satu budaya Eropa yang tidak layak di bawa ke Indonesia. Khususnya ketika orangtua sudah jompo. Sayang mereka terhadap orangtua mereka dengan memasukkannya di panti jompo. Itu bentuk praktik budaya yang beda dengan kita.

     Intinya, ambil yang baik, buang yang tidak baik! Ambil yang sesuai ajaran Islam yang hanif, buang yang tidak sesuai ajaran Islam. Mendekatkan diri kembali dengan Al-Qur’an untuk Indonesia yang lebih baik.

“Allahumma waffiqna ya Allah” “Ya Allah beri kami taufik, ya Allah”.



Barru, 25 August 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover