JANGAN DILIHAT DARI JUMLAH YANG BANYAK
"Sesungguhnya yang dikehendaki oleh Islam
adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, dan segarnya masa
mudamu. Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendakimu saat kamu
bertenaga, bukan saat telah lemah. Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu,
masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu. Islam menghendaki semua
yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.”
Hari ini kita melihat para mahasiswa (yang
tinggal menetap) yang banyak sekali –di Mesir-, sampai-sampai kita bisa melihat
di satu kota, ada ratusan mahasiswa di sana! Meski jumlah mereka luar biasa,
namun jika kita mencoba untuk menghitung jumlah personal yang aktif,
bersungguh-sungguh, dan penuh semangat, niscaya kita akan mendapati jumlah
mereka tidak mencapai seratus orang. Bahkan kita dapat menghitung dengan mudah
dan menyebutkan nama-nama mereka.
Lalu, mana kerja, usaha dan sumbangsih
untuk Islam dari sekian ribu mahasiswa itu?!
Mereka mengambil peran sebagai penonton,
tak lebih. Mereka merasa cukup sekadar telah berpindah dari jahiliyah kepada
Islam. Setelah itu, mereka berhenti di titik ini, tidak ingin meninggalkannya,
tidak berhasrat untuk meningkat ke titik berikutnya, bahkan untuk sekadar
mempersiapkan diri mereka sendiri sehingga nantinya mereka sanggup melangkah
dan memberikan sumbangsih dalam pelbagai bidang amal Islami.
Dilihat dari sisi amal Islami mana pun,
mereka tetap menjadi sosok yang benar-benar tidak serius dalam mempersiapkan
diri. Beberapa tahun berlalu mereka hanya menyelesaikan sebuah atau dua buah
buku Islam yang semestinya diselesaikan dalam waktu paling lama –satu pekan
oleh orang-orang yang serius dan tekun.
Problem seperti inilah yang membuat tak
tergalinya berbagai potensi untuk Islam dan dien. Potensi yang semestinya
tampak nyata di semua bidang amal Islami, dakwah dan jihad.
Orang-orang yang hanya menyumbangkan sisa
waktu, membelanjakan sedikit sekali dari kekayaan, serta mengerahkan upaya yang
sangat minim untuk Islam ini mestinya tahu bahwa ‘Allah itu Maha Baik, tidak
menerima kecuali yang baik’ (HR. Imam Muslim, Tirmidzy, dan Ahmad). Sebagaimana
Allah tidak menerima sedekah yang buruk, Allah pun tidak menerima amal yang
buruk, jika itu sengaja dipilih untuk Islam.
Bukankah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda
perlente yang selalu harum dan mengenakan pakaian terbaik, seorang pemuda yang
ditunggu-tunggu oleh setiap gadis Quraisy karena ketampanannya, penampilannya,
kemuliaannya, dan nasabnya; bukankah ketika ia memeluk Islam ia persembahkan
semuanya, ia berikan semuanya, tanpa ada sesuatu pun yang disimpannya?
Sampai-sampai ia memakai baju yang penuh tambalan saat hidup, dan di saat mati,
kaum muslimin tidak mendapati kain untuk mengkafaninya?
Sepanjang hidup Mush’ab selalu
menghadirkan sumbangsih untuk Islam di bidang dakwah dan jihad. Ia adalah da’i
Islam yang pertama di Madinah. Ia adalah orang yang menyebabkan kebanyakan
penduduk Madinah mendapatkan hidayah. Ia adalah peletak batu pertama bangunan
daulah Islam di Madinah. Selain itu ia juga seorang pejuang agung, pembawa
panji di medan Uhud, sekaligus salah satu syuhada’ teragung di sana. Itulah
sumbangsih yang sebenarnya bagi Islam, dien, dan jamaah Islam.
Seorang muslim selayaknya tidak berdiam
diri di rumah, mengandalkan orang lain yang akan mengambil peran itu. Sebab
siapa yang akan datang?! Semestinya ia berupaya (semampunya) untuk melaksanakan
berbagai bentuk amal Islami semuanya dengan semangat, giat, kuat, responsif,
tekun dan serius. Agar terbukti kata seorang penyair; “Kau lihat sekumpulan
manusia, tetapi tak kau lihat seorangpun. Kadang kau lihat semangat seribu
orang, hanya ada pada seorang”.
Sesungguhnya Islam menginginkan kalian
meneladani Rasulullah SAW yang diperintah oleh Allah untuk mengatakan, “Apabila
kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain”. (QS. Asy-Syarah : 7)
Maksudnya, jika telah menyelesaikan satu
perintah hendaknya selalu memperbarui semangat untuk mengerjakan perintah yang
lain.
Sesungguhnya jika kereta amalmu untuk
Islam telah berjalan, jangan sekali-kali menghentikannya, walau sesaat karena
sesuatu hal. Jika kamu melakukannya dikhawatirkan kereta itu tidak dapat
berjalan lagi selamanya, dan kalau pun berjalan, ia akan berjalan dengan susah
payah. Sesungguhnya kebaikan itu akan menunjukkan kepada kebaikan yang lain,
ketaatan itu akan mengajak kepada ketaatan yang lain, dan kesalehan itu akan
menghantarkan kepada kesalehan yang lain. Begitu pula halnya dengan kemalasan
dan menganggur.
Dr. Abdullah Azzam
Nasehat-Nasehat Rasulullah SAW
Barru, 24 Agustus 2016
Komentar
Posting Komentar