ROMAN SEMESTA

-ROMAN SEMESTA-

Sepasang pagi dan embun
Hangatkan jiwa rimbun
Yang dibekap sunyi

Daun-daun telah terjaga
Matahari meraja
Bunga-bunga rekah semanis senyuman

Sepasang hutan dan hujan
Sejukkan hati yang dihunjam sepi

Dahan-dahan basah
Sungai-sungai bahagia
Secantik rindu yang lunas begitu saja

Cita cinta kita akan nyata
Dalam roman semesta
Pada hidup yang rahasia...


-PENGAKUAN-

Sebetulnya, ada daun jatuh meluruh tepat di samping kita sore itu
Setelah gemuruh hendak membunuh, dan kita sembunyi dalam lusuh

Hujan pun jatuh satu-satu
Detik dan detik menjelma air, jatuh menjadi ragu

Kita memang berada di bawah Samanea saman yang sama
Meneduh
Memandang hujan yang satu

Namun, kita menjelma ranting
Kering, seolah air lupa membasahi

Sebetulnya, ada daun jatuh meluruh di samping kita sore itu
Kita melihatnya

Hanya, kita lebih memilih berpikir mengapa daun terjatuh
Ketimbang memulai suatu cerita dari daun yang luruh itu...


-MERINDU, MERAGU-

Aku bertanya kepada malam
Yang merenda jalan kesunyian
Kepada siapa
Senyum bulan potongan melon itu?

Dan ada yang telah menjadi kunang-kunang:
Kuku-kuku kisah kita
Di sebalik rumah huruf, kota kata, dan dunia cerita

Selagi ada yang berbisik sepi
Detak jarum jam
Hewan melata
Dan hati yang meraung—memanggilmu

Seringkali aku berpikir menyimpan lipatan senyummu
Di dompetku yang aku kunjungi setiap saat—kala susah,
Kala bahagia

Kau hanya selalu berkata,
“Tugas kita berdo’a, tugas cinta berjalan dari hati ke hati.”


-PUISI PENYU-

Kita seperti perasaan cuaca dan kulit bunglon di pohon peneduh
Di gelap, dalam gemerlap, kita cari celah musim
Demi beranjak pada suatu isyarat hayat
Dan hanya malaikat penjaga bintang di langit itu tongkat dirigen
Bagi langkah-langkah nada harmoni kita

Tiap-tiap yang tak pandai membaca bintang
Tak lihai pula kelak menulisi sejarah
Sejarah dirinya sendiri, bahkan

Kau dan aku masih saja suka bermain di padang laut
Meski diterjang angin
Kita tetap selamat dari arus

Hingga kelak di pantai
Barangkali sempat kita menulis puisi
Bagi sebuah musim di belahan Utara


Puisi by kak Fitrawan Umar
Komunitas Penulis Pinrang

Buku Sehimpun Puisi Roman Semesta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover