WHEN THE AUTHOR IS NOT EASY
Honestly... be an author is not easy...
Setidaknya hal itulah yang saya
rasakan. Tapi, bukan mustahil untuk bisa mewujudkannya. Secara umum, semua
orang mempunyai kemampuan untuk menulis. Seperti menulis catatan, menulis status,
diary, anything else...
Tapi, tidak semua orang mempunyai
kemampuan untuk merangkai kata. Apalagi kata yang begitu mendalam dan
menyentuh. Sedikit namun penuh banyak makna. But not impossible, jika dengan
semangat dan kerja keras dan terus mengasah keterampilan menulis, hal itu bisa
menjadi nyata.
Secara pribadi, setelah menemukan
beberapa tulisan saya ketika masih Sekolah Dasar, lucu juga membacanya. Terlalu
kekanak-kanakan dan manja memalukan. Saya hingga menutup mata tak menyangka
bisa senaif ini. Terus berlanjut ketika Mts (setingkat SMP) lalu MAN (Setingkat
SMA) dan terus hingga di perkuliahan bahkan sampai saat ini (masih dengan
kebiasaan menulis diary :D ). Semuanya hanya berupa tulisan-tulisan diary, yang
masih antah berantah. Saya bungkam. Acapkali membacanya, jadi ketawa sendiri,
merenung sendiri, hingga sedih sendiri. Tak menyangka kisah-kisah yang pernah
tertulis beberapa tahun lalu menjadi begitu bermakna hari ini. Ingin rasanya
mengulang beberapa kenangan dan memperbaikinya. Tapi, setidaknya kita sadar,
dengan masa lalu itu telah membuat kita lebih bersikap dewasa dan arif untuk
menyikapi kehidupan.
Dan, akhirnya.. saya hanya bisa
menyadari, bahwa saya tak bisa lepas dari dunia tulisan. Hanya saja dulu, saya
hanya menyimpan rapat-rapat, tanpa perlu publikasi. Tanpa pernah tahu, ada sisi
skill yang saya sempat lupakan dan
tak menampakkannya. Dulu ketika sekolah, sempat berhasil membuat skenario drama
terbaik dan menjadi sutradara sekaligus pemain. #ciyee (haha.. sudah kayak flim
ambigu gitu). Hingga di masa perkuliahan, saya baru mengenal adanya forum
kepenulisan. Tapi tak pernah sempat gabung karena kesibukan akademik yang luar
biasa. Hanya bisa tahu melalui pembicaraan dan media komunikasi kampus. Hingga
akhinya selesai kuliah, dan adanya waktu luang, Alhamdulillah, Allah memberiku
kemudahan untuk memahami. Memberiku peluang untuk berkenalan dengan beberapa
penulis muda. Melalui dunianya, bukunya, hingga aku pun tertarik untuk memulai.
Awalnya begitu sulit... sangat
sulit. Masih banyak yang perlu aku
pelajari. Masih banyak yang perlu aku baca untuk memahami karakter tulisan
seorang penulis (melalui bukunya). Mulai mengikuti beberapa event kepenulisan tanpa
pernah masuk nominasi hingga dikecewakan oleh media cetak. Terus mencari info
dan pengembangan karya. Mengirim sana-sini, namun tak kunjung berhasil.
Kepalaku mulai mendidih. Pikiranku buntu. Ideku redap-redup. Haruskah aku
hentikan ini? Apa gunanya pula untukku? Batinku...
Namun... “inna ma’al yushri yusra...” “setiap kesulitan pasti ada kemudahan”
(QS. Alam Nasyrah : 6). Kali ini, Allah Maha Melihat usaha hambaNya. Diujung
keinginan untuk menyerah, Allah lalu menunjukkan kuasaNya melalui bentuk
‘Pencerahan’. Bagi hambaNya yang pantang menyerah dan terus berdo’a, Allah
menunjukkanku untuk terus semangat. Hingga... tulisanku sedikit demi sedikit
berbuah dan terlihat. Dari kejadian demi kejadian, aku sadar bahwa
tulisan-tulisanku yang kemarin belum maksimal dan belum baik. Aku hanya terus
mengasah dan belajar lagi. Hingga tulisanku yang semula agak lebay dan alay bisa lebih berbobot dan dewasa :D ...
Selain itu, aku mempelajari
bagaimana seorang penulis yang berhasil memulai tulisannya pun tak semudah air
mengalir. Butuh waktu lama dan perjuangan. Dan, kisah mereka menguatkanku.
Untuk terus berkembang hari demi hari.
Menjadi penulis, atau bahkan
menyukai menulis, diri pribadi harus pandai menempatkan situasi dan peka pada
lingkungan sekitar. Jika tidak, kita tak akan pandai menemukan hal yang menarik
untuk ditulis. Atau merasakan sari pati kehidupan sesungguhnya agar masuknya ke
hati dan sampainya ke hati pembaca pula.
Hari ini... aku masih belajar
untuk ‘menulis’. Terus belajar, dan belajar. Mengasah dan terus mengasah. Menulis
dengan style sendiri bukan dengan ide
orang lain. Karena, kita dapat membandingkan tulisan-tulisan kita yang kemarin,
hari ini dan esok hari. Bagusnya suatu karya bukan dilihat dari seberapa
banyaknya ilmu yang dipelajari, tapi seberapa produktif penulis. Menulis, tak
perlu teori yang panjang-panjang cukup menulis dengan hati... :)
Ketika ditanya, untuk apa
menulis..? seorang ulama mengatakan, “menulislah.. hingga engkau akan diingat
dunia bahwa engkau ada”. Menulislah, agar karyamu nyata. Seorang ulama lainnya
mengatakan bahwa dengan menulis menjadikan sarana ibadah untuk menjadi amal
jaryah selanjutnya. Makanya, seorang penulis dituntut untuk menulis yang baik,
berkah, dan hikmah. Agar menjadi titik perubahan hidup seseorang yang lebih
baik. Bukankah ilmu terus bertahan karena adanya penulis? :)
Hari ini... semoga sarana menulis
ini menjadi ladang pahala untukku kelak. Semoga sarana menulis ini mengajak
banyak orang untuk berubah ke arah lebih baik. Semoga sarana menulis ini
membuatku lebih mengenal sosok kehidupan dan perasaan. Semoga sarana menulis
ini menyadarkan dunia dengan kehadiranku. Semoga sarana menulis ini menjadikan
karyaku untuk agama dan bangsa. Semoga ide-ide ini terus ada... dan semoga aku
bisa terus menjadi penulis... hanya itu. Sederhana tapi elegan. :D
Ayat yang terus memotivasi,
“Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan yang lain).” (QS. Asy-Syarah : 7)
Barru, 24 August 2016
Komentar
Posting Komentar