PARADOKS ANAK-ANAK


Ketika mbak Zara Zettira, seorang penulis Indonesia yang cukup terkenal dalam menerbitkan dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mengatakan bahwa untuk menulis kita harus mengikuti kata hati, biarlah tulisan mengalir apa adanya sesuai dengan apa yang berada di dalam pikiran, tanpa memedulikan teori dulu atau permintaan pasar. Saat itulah aku tertegun. Terdengar sederhana, namun terkandung makna besar di dalamnya. Saat itu pula aku menemukan jawaban yang selama ini membuatku gelisah ketika menulis. Aku harus membebaskan diri dari beban ketika menulis. Dan ini cukup menerangi pikiranku.
Seperti hari ini, aku belajar memahami dan ingin segera menuliskannya. Membaginya agar menjadi manfaat bagi yang membacanya.

***
Pengalaman untuk menjadi pengajar, tak henti-hentinya memberikan warna akuastik bagiku. Terutama untuk anak-anak zaman sekarang. Mengajar anak usia SD hingga SMP cukup menguras tenaga, otak dan segalanya. Selain karena ingin membagi ilmu sebisa mungkin bagi mereka, juga ingin belajar memahami tingkah anak-anak.

Dan... setelah hari ini, begitu banyak cuap-cuap di kepala serasa segera ingin merembes. Satu-satunya wadah yaitu menulis.

Mengajar mereka di zaman sekarang, harus memiliki skill yang berbeda dan modern. Jujur saja, ada banyak kekhawatiran buat mereka terutama untuk masa depannya. Pertama, etika. Itu terpenting dari segalanya. Terutama etika terhadap pengajar, agak terkikis dari zaman ke zaman. Pergaulan mereka terlihat dewasa dari usia sebenarnya. Antar pergaulan, mereka telah mudah berkata tak sepantasnya dan tak wajar. Ada beberapa anak yang sangat sulit diatur bahkan melebihi dari persangkaanku. Duduk, pergi seingin mereka. Dan sebagainya..

Kedua, teknologi. Saya jadi ingat, pertama kali menggunakan handpone sewaktu SMP saja. Itupun masih Nokia bertaraf paling sederhana. Belum berkamera, bahkan kenal kuota. Sekarang, bahkan anak kelas 4 SD saja sudah memiliki handpone yang canggih dengan merk terkenal bahkan lebih canggih dibanding handpone yang aku miliki. Tapi aku tidak peduli itu. Aku pun tak tertarik dengan merknya. J Hanya saja, aku bertanya-tanya dalam hati untuk orangtua mereka, apa tidak terlalu dini untuk mereka memakainya? Walaupun mereka mampu? Ditambah dengan adanya kuota internet, dimana mereka bisa mengakses youtube dan membuka apa saja tanpa pendampingan. Sering, aku harus menegur ketika mereka asyik-asyik bermain dengan handpone padahal pelajaran sedang berlangsung. Aku harus menekankan untuk tidak membawanya atau menahan sementara, namun tetap saja ada yang jahil.

Ketiga, konsep pendidikan. Masih terasa booming berita tentang Full Day School oleh menteri pendidikan yang baru. Konsep yang mencontoh negara-negara maju, seperti negara bagian Asia Timur, Eropa dan Amerika. Konsep tersebut, pandangan saya ada pro dan kontranya. Saya pro, asal dalam konsep pendidikan diselaraskan dari Sabang hingga Merauke baik secara kualitas maupun kuantitas. Dan kontra, karena jika seluruh waktu siswa diambil hanya untuk menuntut pendidikan duniawi. Pernah, saya mendengar bapak-bapak berdiskusi bahwa ia tidak setuju jika Full Day School dicanangkan, karena untuk anak-anak bagi mereka, sore adalah waktu untuk belajar mengaji. Saya mengangguk diam.

Konsep pendidikan di Indonesia adalah kurikulum 13. Menurut penglihatan saya pula, kurikulum ini cukup menguras pikiran untuk anak-anak. Konsep bukunya, menyatu untuk segala bidang. Beda ketika seusia saya satu pelajaran dengan satu buku cetak. Otomatis, penjelasan untuk satu materi, sedikit dan kebanyakan latihan dan tugas. Hal ini membuat anak didik tak menyukai penjelasan, hanya menuntut jawaban dari tugas sekolahnya. Siswa hanya ingin segera jawaban, kurang menikmati jalannya proses jawaban. Maka dari itu, konsep kurikulum 13 ini menurutku bagus, namun anak-anak kadang tidak siap sehingga mau yang instan. Guru sekolah mereka pun begitu.

Tapi.... diantara segala kondisi dan situasi menjadi pengajar untuk anak-anak tersebut ada warnanya tersendiri yang sulit saya jelaskan. #hoho.. segitunya.

Dibalik kejengkelan, kenakalan, dan kebandelan mereka. Dunia anak-anak bisa menjadi university of life bagi orang dewasa. Sikap mereka yang polos, tak bertopeng, tanpa menyembunyikan pribadinya, kadang menjadi teguran bagi kami. Setiap kali saya mengajar atau ketika istirahat, saya memperhatikan bagaimana mereka belajar bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Bagaimana mereka ingin dekat dengan kami. Dan mencuri hati kami.
Dengan beribu karakter mereka, ada juga yang sopan, pintar, pandai menempatkan diri, berempati, dan begitu baik pada kawannya. Aku jadi cemburu, karena sewaktu Sekolah Dasar tak mampu bersosialisasi baik seperti dia. Hehe.. (namun lambat laun saya belajar bersikap :D ).

Tiba-tiba ditengah pelajaran,

“kak, belumpi selesai PR ku?”

“kak, tidak ku tahu ini caranya?” dengan manjanya.

“kak, mauka ke WC...!!”

“kak, mauka keluar dulu...!” anak lain, “kak, bohong ji itu kak...!!”

“kak, bisikki dulu kak...”

“kak, saya duluuu kaaaakkk.....!!”

“kaak, na ganggu ka itu eee....!!” meraung-raung...

Ada yang nangis, angkat kaki di meja, cuek, keluar-masuk kelas, makan, melamun, coret-coret papan, bertanya berulang-ulang, dsb........ (biarkan waktu yang mendewasakan mereka) :D

“kak, orang cina ki kah?”

“kak, bahasa malaysia ki cobaaa...?”

Aarghh.. ya Allah, gubraak.. raaak,,,,
Betul-betul anak-anak.... Mengjengkelkan namun menyenangkaan.... :D

“kak, kak, bahasa cina ki dulu eee...!!”

Eeehhhhh????!!!!




Barru, 03 September 2016 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover