LAPIS KEBERKAHAN
“Satu hal yang sering kita dengar
ungkapan dari Nabi SAW, carilah kawan sebelum memilih perjalanan, dan carilah
tetangga sebelum memilih rumah. Artinya, siapa yang akan bersama kita dalam
lingkungan ini maupun secara umum amat sangat penting. Demikian pula masalah
jodoh, yang sering dirisaukan oleh sebagian besar dari kita adalah siapa yang
kelak akan menkadi pendamping hidup kita dalam mengarungi bahtera rumah
tangga.”
“Syariat memberikan panduan
penting masalah jodoh bahwasanya Rasulullah SAW, memaparkan bahwa wanita
dinikahi karena 4 hal. Karena kecantikannya, karena kehormatan nasabnya, karena
hartanya dan karena agamanya. Seakan-akan terkadang banyak orang yang melihat
karena kecantikan, lalu sedikit lagi karena keturunan, lalu sedikit lagi
hartanya, dan jauh lebih sedikit lagi karena agamanya. Memperhatikan agamanya
menurut jumhur Ulama, adalah hal yang penting untuk disyaratkan. Kata Nabi SAW,
maka pilihlah olehmu karena agama, maka engkau akan beruntung. Keberuntungan
dimaksudkan bahwa ia memiliki agama didalam dirinya. Apa itu agama?.”
“Agama itu, bukan cuman seberapa
banyak hafalan Qur’annya, tapi seberapa banyak ia mengamalkannya. Bukan
seberapa banyak ia mengerti hadist-hadist Nabi, tapi seberapa banyak ia
mengikuti sunnah Rasulullah di dalam setiap gerak hidupnya. Bukan seberapa
banyak ilmunya, tapi seberapa kuat ia berkomitmen untuk mengamalkan setiap ilmu
tersebut. Para ulama memberikan kiat diantaranya tentang seorang jodoh yang
layak. Karena agama perhatikan sikapnya, satu, kepada Allah SWT. Kedua, kepada
ibundanya. Ketiga, kepada rekan sebayanya. Keempat, kepada anak-anak kecil.”
“Yang pertama, kita perhatikan
bagaimana ia setia kepada Allah SWT. Jika ia tidak setia bahkan kepada Allah
SWT, lalu bagaimana kita bisa berharap dia bisa setia pada pasangannya. Maka,
seorang lelaki yang menjaga shalatnya, wanita yang kemudian menjaga
ibadah-ibadahnya, yang setia kepada Allah SWT adalah yang paling layak untuk
dipertimbangkan.”
“Lalu, bagaimana ia kepada
Ibundanya. Hormatnya, baktinya, taatnya, patuhnya, semua itu menjadi penanda
penting. Allah SWT meletakkan orangtua sebab ia dalam kesyukuran. Lalu, yang
ketiga kepada rekan-rekan sebayanya. Kita ketika ingin mengenal seseorang, kita
bisa tidak bertemu langsung dengan orangnya, bergaul dengan orangnya. Kita bisa
bertanya dengan rekan sebayanya, orang-orang yang bergaul dengannya, tentang
dirinya. Pendapat mereka menjadikan bukti bagaimana sosok ini bergaul dengan
kawan-kawannya.”
“Terakhir, bagaimana akhlaknya,
adabnya, perhatiannya kepada anak-anak kecil. Ini untuk mengikuti sabda Nabi
SAW, jika engkau menikah, perhatikan al-walud.
Artinya, bagaimana ia punya potensi untuk banyak berputra dan mengasihi,
menyayangi. Dan itu semua sangat tampak, bagaimana kesetiannya kepada Allah SWT,
patuhnya pada orangtuanya, bergaulnya dengan teman sebayanya, amanahnya dan
dapat menutup aib sebayanya, juga kesenangan anak-anak jika bertemu dengannya.”
“Jodoh, ... Allah jadikan sebagai
misteri. Tidak ada orang tahu dimana ia akan mati. Tidak ada orang yang tahu,
apa yang diupayakannya besok. Tidak ada orang yang tahu siapa jodohnya, sebelum
Allah menetapkan bagi mereka. Lalu menjadikan pernikahan yang langgeng untuk
mereka. Misteri itu berguna bagi kita, ketidaktahuan itu bermakna manfaat bagi
kita. Supaya kita berprasangka paling baik, berdo’a meminta yang paling baik,
mengikhtiarkan yang paling baik, bertawakkal yang paling baik kepada Allah SWT.
Ketidaktahuan itu indah, lalu membuat kita memasrahkannya kepada Allah. Dan
kita tidak perlu meribet-ribetkan kriteria-kriteria yang kita inginkan tentang
jodoh. Cukuplah ketaqwaannya kepada Allah SWT.”
“Dikatakan kepada Imam Hasan
Al-Bashri, aku mempunyai seorang anak perempuan kepada siapa aku akan
menikahkannya?, Al-Hasan Al-Bashri, mengatakan nikahkan dengan seorang lelaki
yang bertaqwa sebab jika lelaki itu mencintai anakmu ia pasti akan
memuliakannya. Dan, jika bahkan lelaki itu tidak mencintai anakmu, dia pasti
tidak akan menyakitinya. Ketaqwaan itu cukup, setelah itu bagaimana nantinya
diperlihatkan oleh Allah dengan prasangka baik kita itu. Kita berada dalam
kehidupan pernikahan dan bukan lagi untuk jatuh cinta tetapi untuk bangun
cinta. Bukan lagi untuk jatuh cinta tetapi bangun cinta dengan upaya-upaya
besar yang kita harapkan.”
“Ikhtiar-ikhtiar penting itu
untuk kemudian menuju kepada pernikahan. Sekarang orang ketika mereka tidak
pacaran, yang penting ta’aruf. Bagi kita ta’aruf itu, proses saling mengenal
seumur hidup. Tidak perlu dipancangkan sebelum pernikahan meskipun ada hal-hal
pokok menjelang pernikahan. Tetapi, lebih penting memaknai ta’aruf, perkenalan
sebagai proses seumur hidup yang tidak pernah usai. Sebab kita menginginkan
jodoh dunia akherat. Sebab kita menginginkan jodoh yang tidak hanya didunia,
tetapi di Syurga, insya Allah.”
“Maka rumus keberpasangan sangat
luas tidak hanya satu. Ada yang sama seperti dua sungai bergabung menjadi arus
yang lebih besar, misal Pak A dan Bu B mirip maka ia menjadi sepasang suami
istri yang harmonis. Ada seperti panas dan dingin yang berjumpa menjadi hangat,
misal ada Pak A dan Bu B memiliki perbedaan karakter namun mereka hidup dalam
pernikahan yang langgeng. Ada seperti tanah subur lalu ditimpa hujan lalu
ditumbuhi bebijian. Ada juga seperti angin ribut bertemu dengan laut yang
tenang berubah menjadi badai, badai kebaikan. Seperti Rasulullah SAW bagaikan
angin ribut yang semangatnya dalam kebaikan lalu ibunda Khadijah bagaikan laut
yang tenang, ketenangan yang dimilikinya bergabung menjadi badai kebaikan yang
tak pernah berhenti menebarkan manfaat dan maslahat bagi ummat hingga hari
kiamat.”
“Marilah kita berdo’a kepada
Allah, supaya Allah mengaruniakan jodoh dunia akherat, mengaruniakan jodoh yang
berharga dunia hingga ke Syurga, insya Allah..”
Ust. Salim A.Fillah
Barru, 27 October 2016
Komentar
Posting Komentar