MENULIS DALAM PIKIRAN
Hujan mengaliri ideku kembali. Seperti ia mengalir pelan di jendela rumah, turun mengudara nan lembut. Aku merindukannya.. hujan. Setiap tetesnya adalah berkah. Setiap jatuhnya adalah nikmat. Setiap gemericiknya adalah alunan. Dan setiap nampaknya adalah kehangatan.
Aku hanya sedikit tak suka, ketika hujan membuatku mengenang banyak hal. Hingga menginginkan banyak hal dan menyadari banyak hal. Itu seperti melelahkan.
Seperti berada pada peraduan sudut kamar, dingin, gelap dan sendiri. Membicarakan penalaran abstrak dan diagram pada diri. Entah kali benar atau semu. Aku hanya tak paham. Sering menjajaki lewat logika hujan. Namun, hanya saja begitu dingin. Hangatnya meredup sendiri.
Kubuka maksudnya lagi, namun aku masih tak paham. Ada apa numerik? Angkanya mulai keboblosan. Aku semakin tak paham..
Seperti jejakan tatih di alun-alun hati. Hujan membasahi sukmaku. Aku terbawa. Terlena akan prasangka. Sungguh sulit menvisualisasikannya. Kali ini, kubiarkan hujan mendatangiku lewat dinginnya.
"Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi).
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyaa 'Ulumuddin berkata : "Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqih. Jika fiqih mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqih. Sama halnya jika fiqih ikut campur dalam perkara teologi ataupun kedokteran, berarti ia telah keluar dari disiplin ilmu tersebut."
Rain Outside in the House,
22 October 2016 - 09.55 p.m
Komentar
Posting Komentar