GUIDANCE
Tentang hidayah...
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa
diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(Al-Baqarah:269)
Kita tidak pernah tahu, jalan
hidup tiap orang bagaimana nantinya. Ada yang datar-datar saja, lahir sebagai
bayi kemudian kanak-kanak masuk sekolah hingga SMA, lalu kuliah di jurusan yang
memungkinkan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Setelah kuliah, bekerja,
menikah, punya anak, punya cucu, dan...mati.
Seperti itu saja, hidup yang
terobsesi untuk mendapatkan tingkat yang lebih tinggi dan bahagia di dunia.
Saat menjalani kehidupan, kita kadang melupakan hakikat kehidupan adalah
menghamba kepada Allah SWT. Dari sekian itu, banyak pula yang menyia-nyiakan
hidupnya.
Namun berbekal dengan pemahaman
bahwa hidup ini tidak mesti yang datar-datar saja. Sekali-kali membutuhkan
tantangan. Hidup ini memang tantangan.
Beda ketika hidayah datang
menyapa...
Hidayah bisa datang dengan cara
apa saja yang Allah SWT kehendaki. Entah karena sebuah ayat, hadist,
persahabatan, ujian, kajian, atau pertemuan dengan seseorang. Karena Allah
punya caranya sendiri. Hidayah itu indah. Sulit menerkanya dengan kata-kata..
Aku yang sebenarnya telah
berislam sejak kecil, lalu dikuatkan dasar keislaman melalui sekolah-sekolah
agama hingga remaja. Juga didikan orangtua yang ketat dalam beragama, membuatku
semakin bisa menjaga diri dan menguatkan diri. Tapi, hidayah yang sebenarnya
adalah ketika kuliah. Dan itu pertama kalinya aku mengenal Halaqah Tarbiyah.
Ada perbedaan yang mencolok
ketika masih sekolah, padahal sudah berbalut agama. Ketika beberapa adat harus
bercampur baur dengan agama. Sebelum tarbiyah aku memang tidak pernah mau
pusing. Entah itu adat atau apalah, aku juga tidak mau mencari tahu. Namun
setelah tarbiyah, ada banyak hal yang perlu aku telusuri lebih lanjut.
Disekolah, aku jarang mempelajari hadist. Di Tarbiyah, aku menyadari banyak hal
tentang sunnah-sunnah Nabi. Ingin berusaha berbaur dan mempelajarinya.
Tapi, tantangannya adalah
keluarga yang awalnya tidak menyukai perubahanku. Dengan jilbab yang agak
panjang dan lebih menutup (juga kaki), yang membuat mereka risih. Belum lagi
teman-teman SMA merasa aku bukan yang
dulu lagi. Ada banyak cibiran dan ancaman yang sangat melemahkan hati. Itu
semua membuatku sedih. Tapi, aku berusaha tetap kuat. Aku minta kekuatan kepada
Allah agar dapat istiqamah terus.
Dan akhirnya, memakan waktu yang
cukup lama. Baik pihak keluarga dan teman, lama kelamaan, Alhamdulillah mereka menerima perubahanku. Aku memperbaiki
akhlakku, yang menjadi ciri khas agama. Seperti Rasulullah dalam berdakwah. Berusaha
juga tetap menjaga silaturahim dengan keluarga. Tidak pula melebih-lebihkan sikap
dalam beragama dan berilmu. Karena aku tahu, mereka seperti itu karena
kekhawatirannya terhadapku, dan belum pahamnya mereka.
Dan janji Allah benar. Seperti
Teuku Wisnu, yang akhirnya mendapat hidayah dan memilih hijrah. Ia mengatakan
bahwa, “dahulu aku memiliki prinsip bahwa
sumber kebahagiaan adalah uang. Saya kumpulin uang sebanyak-banyaknya dan
ternyata yang saya rasakan kosong. Hampa tidak ada apa-apa. Alhamdulillah janji
Allah benar, ketika kita meninggalkan sesuatu karena ketaatan kepada Allah maka
Allah akan memberikan rizqi dari arah yang tak disangka-sangka.”
Suatu ketika, aku begitu
tersentuh ketika, salah satu kakakku membelikan baju untukku yang sudah dia
paham modelnya. Dulu, dia membelikan celana dan baju kecil untukku (waktu
dizaman jahiliahku :D). Sekarang gamis. Hehe... Dan, begitu pula teman
laki-lakiku. Ia menghargai diriku ketika aku sudah tidak ingin berjabat tangan
dengannya. :D (walaupun dulu sempat dikatakan ikut aliran sesatlah, sampai
sekarang masih saja ada yang komplen). Aku juga begitu tersentuh, ketika mamaku
sendiri mulai membeli jilbab yang dibawah dada. Entah karena suka atau lihat
modelnya saya, haha.. yang jelas sedikit demi sedikit ia juga berbenah. Teman-teman
perempuanku, bahkan mengatakan ingin punya jilbab yang sama denganku. Akhirnya mereka
memilikinya walaupun kadang masih labil. Karena jilbab syar’i yang panjang
sudah bermodel cantik, tanteku juga memilih jilbab seperti itu. Sampai harus
beli online..
Aku sangat bersyukur, bahwa
benar, janji Allah... Jika aku tidak kuat, akupun akan terseret oleh mode
mereka. Dan ternyata Allah akan memberikan keluarga dan teman-temanku petunjuk.
Aku senang bisa berbuah manfaat disekeliling mereka. Dan semua bersumber atas
izin-Nya...
Hidayah itu mahal... sangat
mahal. Aku masih terus berdo’a agar terus diistiqamahkan. Karena aku juga
labil, mudah rapuh. Aku juga sering melakukan kesalahan. Aku pun masih jauh
dari kesempurnaan.
Dan terkadang menuntut ilmu agama
itu, membuat kaum muslimin bingung adalah pengelompokan dan saling menganggap
manhaj mereka yang sejati. Untuk diriku sendiri, menuntut ilmu itu selama yang
diajarkan tauhid kepada Allah. Tidak fanatik terhadap satu golongan. Namun,
berusaha menelisik lebih dalam. Semoga Allah memberi petunjuk. Seperti yang
dikatakan Ustadz Felix Siauw, mantan atheis yang kini mencintai Islam dan
berdakwah didalamnya, bahwa ‘Bukan karena Islamnya, tapi karena Muslimnya’.
Semoga terus diberi lingkungan
dan pertemanan yang selalu mendekatkan diri kepadaNya, mencintai ilmuNya. Aku
pun, semakin mendalami agama ini, semoga semakin cinta. Ada rasa yang sulit
diungkap dengan kata-kata. Dan untuk masa depan selanjutnya, semoga diberi
partner yang bisa saling menguatkan. Bersama menuntut ilmu. Selalu berusaha
memperbaiki keadaan satu sama lain. Yang dengannya, rasa cinta kepadaNya
semakin besar.. J J Aamiin....
Home, 03 November 2016
Komentar
Posting Komentar