MATA AIR



Jadilah seperti mata air yang dapat bermanfaat bagi sekelilingmu. Jangan menjadi mata air yang keruh, yang semakin diaduk akan semakin keruh. Mata air hanya muncul di sungai-sungai yang bergejolak. Jika ingin menjadi mata air, hanya kamu yang bisa menjawabnya. Belajarlah yang pintar dan jadilah ahli-ahli dibidangmu.”
-Rudy Habibie movie-

Selama dengan buku, kalian boleh memenjarakanku dimana saja, karena dengan buku, aku merasa bebas.”
-Moh. Hatta-

***
Semenjak berada di Ibukota, banyak hal yang dapat dipelajari. Aku sering bertanya, ‘mengapa ibukota harus berwajah seperti ini?’, ‘Mengapa ia tak tenang karena dihuni dengan orang-orang hebat dan intelektual?’. Memikirkan tinggal diperkotaan seperti Jakarta, akan membuatku berpikir seribu kali.

Pertama kalinya naik kereta api dan singgah di beberapa stasiun. Paling menyenangkan di stasiun Jatinegara dan stasiun Universitas Indonesia. Jika melihat stasiun Jatinegara, saya seperti melihat peron di flim Harry Potter. Keren. Fabuloes!! Hampir 10 tahun terakhir saya ke Jakarta lagi, dan pembangunannya luar biasa meningkat. Of course.. (kemana aja, bu.. haha). Tapi, stasiun Jatinegara, saya salut pembangunannya, keren. Mushalla antara laki2 dan perempuan pemisahnya adalah dinding. Toiletnya terbersih. Ber-AC. Kulinernya tertata rapi. Serasa berada di luar negeri. Indonesia, sudah bisa membuat bangunan apik seperti itu. Namun, ketika keluar dari stasiun.. Waah, asli Jakarta kelihatan. Macet, polusi, panas, penjual dimana-mana, berantakan, dsb. Untunglah saya datang ke Jakarta diwaktu musim hujan. Jakarta dimusim ini, hangatnya terasa. Tidak panas dan tidak terlalu dingin. Beda banget ketika di Makassar, apalagi Barru. :D

Kedua, stasiun Universitas Indonesia. Kampus ketiga terbaik di Indonesia ini setelah ITB dan UGM versi network th.2015, memang menyimpan banyak kekaguman. Melintas dikampus tersebut, yang begitu panjang, dan luas membentang. Jika hari minggu subuh, terlihat stasiun akan penuh dari anak-anak sekolahan. Mereka ke UI untuk jalan-jalan, olahraga pagi, dsb. Kampus terluas itu memang sangat cocok untuk belajar dan menikmati pemandangan yang sulit didapat dikota Jakarta. Bangunannya kasual, perpustakaannya berlantai empat, pohon dimana-mana, danau yang luas, serta tatanan antara fakultas satu dengan yang lainnya begitu megah. Yang paling menarik bagi saya di stasiun itu adalah sikap-sikap mahasiswanya yang terlihat intelek. Terlihat mereka menunjukkan wibawanya. Bangganya bisa menjadi bagian dari alumni ini...

Untunglah, saya dan kakak kedua saya punya perspektif yang sama dalam jalan-jalan. Yaitu, Gramedia. Yap, ada big sale buku di Matraman, Jatinegara. Setiap sabtu, mereka menawarkan buku-buku seharga 5000-50.000 rupiah. Interest. Kami pun jalan-jalan, sambil nambah ilmu, dan cuci mata. Hehe...

Btw, dari semuanya.. ada banyak yang nyangkut dipikiran. Yah, pemandangan Jakarta dulu. Lain ketika ‘ia’ menyandang Ibukota. Jakarta, terlintas seperti di kota Makassar saja. Waktu dari Bandara Halim, aku dikejutkan dengan jalan berupa flyover tambahan yang belum selesai. Sehingga dampak pembangunan itu membuat beberapa debit air menumpuk, dan ketika airnya meluap, jatuh mengenai semua pengguna jalan dibawahnya. Padahal airnya cukup deras. Bukan hanya di satu titik saja, namun dibeberapa titik. Yang parah adalah mereka yang hanya beroda dua atau tanpa menggunakan atap berkendara. Aku langsung memikirkan kemana yang harus bertanggung jawab. (langsung mikir pak Ahok, hehe...)

Sekarang Jakarta sebagai Ibukota. Karena tinggal di daerah Jakarta Timur, beda dengan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan yang dikata elit. Ketika berkendara, terlihat di ruas-ruas, tepi-tepi jalan, bahkan disudut-sudut rel kereta, yang biasanya cuman terpampang di TV. Sekarang asli.. mereka lebih miris dibanding kami-kami yang masih dari sudut kota Indonesia. Hampir banyak, bahkan mungkin jutaan penduduk yang rumahnya harus terlihat .. dan tak layak huni seperti itu. Aku juga melihat begitu banyak jenis pekerjaan, bermacam-macam bentuk. Tapi, mengapa mereka masih memilih untuk tinggal di Jakarta? Jika di kampung, mereka masih hidup lebih layak. Wallahu a’lam..

Dari sinilah, aku, bagian terkecil dari suatu negeri. Partikel terkecil dari suatu unsur. Salah satu jenis ‘atom’ yang belum mempunyai banyak mumpuni.. juga ingin menjadi mata air bagi bangsanya. Jika telah banyak orang-orang hebat namun masih bersifat individualis. Setidaknya aku .. ingin berkarya. Walaupun hanya dengan tulisan. Atau maybe out of the box in my mind. I don’t know.

Aku, senang dengan kehidupan seadanya.. sesederhana, dan apa adanya. Namun, ketika hidup dimaknai dengan air yang mengalir, bukankah air juga butuh resiko untuk melawan batu besar dihadapannya. Air juga membutuhkan pikiran untuk menemukan celah pengairannya. Air membutuhkan peluang  untuk menemukan jati diri mengalirnya.. although, i know i am a women. And a women can’t work out of her line. I know that. Maybe, just a simple think but bigger. Like as, make a smarter family, a braver family, a wiser family and so on. For them religion and them country. Maybe... I don’t know. It just my mind.



Jakarta, 15 November 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBRANI DAN PALESTINA

SIMPLE ORIGINALLY

Introver VS Ekstrover